CYRUSTIMES, JAKARTA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menegaskan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga selama triwulan IV 2025 di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Hal ini terungkap dalam rapat berkala KSSK I tahun 2026 yang digelar Jumat (23/1).
KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS menilai stabilitas tercapai berkat koordinasi dan sinergi kebijakan antarotoritas. Volatilitas pasar global yang sempat meningkat pada Januari 2026 terutama dipicu ketegangan perdagangan dan geopolitik.
“KSSK akan terus mencermati dan melakukan asesmen forward looking terhadap kondisi perekonomian dan sektor keuangan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut,” demikian pernyataan resmi KSSK, Senin (27/1).
Perekonomian dunia masih menghadapi tantangan dengan ketidakpastian meningkat. Dinamika ekonomi triwulan IV 2025 dipengaruhi ketegangan perang dagang AS-Tiongkok dan penurunan suku bunga The Fed yang lebih agresif. The Fed memangkas Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin ke kisaran 3,50-3,75 persen.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprakirakan tetap kuat. Pertumbuhan triwulan IV 2025 diperkirakan lebih tinggi, ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan dengan membaiknya keyakinan pelaku ekonomi yang didukung stimulus kebijakan fiskal dan moneter.
Pertumbuhan ekonomi keseluruhan tahun 2025 diprakirakan berada di sekitar 5,2 persen. Sementara pada 2026, pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat menjadi 5,4 persen, ditopang kenaikan permintaan domestik sejalan dengan berbagai sinergi kebijakan pemerintah dan lembaga anggota KSSK.
Ketahanan eksternal Indonesia tetap baik di tengah ketidakpastian global. Posisi cadangan devisa akhir Desember 2025 meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS atau setara 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Nilai tukar Rupiah pada 31 Desember 2025 tercatat Rp16.675 per dolar AS, melemah 3,48 persen dibandingkan akhir tahun 2024. Hingga 23 Januari 2026, Rupiah tercatat Rp16.815 per dolar AS, mengalami pelemahan 0,83 persen dibandingkan level akhir Desember 2025.
BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi terukur di transaksi Non-Deliverable Forward, Domestic Non-Deliverable Forward, dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro-market.
Inflasi tahun 2025 tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, dengan inflasi IHK Desember 2025 sebesar 2,92 persen year on year. Inflasi inti tetap rendah sebesar 2,38 persen yoy, sejalan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas.
Stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tensi perdagangan global. Hal ini didukung permodalan yang kuat, likuiditas memadai, profil risiko yang manageable, serta kinerja sektor jasa keuangan yang stabil.
Kredit perbankan pada Desember 2025 mencatat pertumbuhan 9,6 persen yoy menjadi Rp8.585 triliun, didorong kredit investasi yang tumbuh tinggi 20,81 persen yoy. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan gross sebesar 2,05 persen dan NPL net sebesar 0,79 persen.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.