Suherman mengingatkan bahwa dalam jangka panjang, tekanan harga pangan dapat meningkatkan inflasi daerah. Jika laju inflasi bergerak lebih cepat dari pertumbuhan pendapatan masyarakat, kesejahteraan riil dipastikan menurun.
Menurunnya daya beli juga menjadi sinyal bahaya bagi roda perekonomian daerah. Konsumsi rumah tangga adalah motor utama pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Tengah, khususnya Palangka Raya.
“Ketika harga pangan naik dan pendapatan riil masyarakat tertekan, belanja non-pangan pasti dikurangi. Dampaknya, sektor perdagangan, jasa, dan UMKM akan ikut melemah,” jelasnya.
Suherman mendesak pemerintah memberikan solusi pada perbaikan sisi pasokan dan sistem distribusi. Dalam jangka pendek, pemerintah perlu memastikan ketersediaan stok melalui kerja sama antardaerah pemasok dan operasi pasar.
Namun, strategi jangka menengah dan panjang jauh lebih krusial. Pemerintah daerah diminta memperkuat produksi pangan lokal dan tidak terus bergantung pada suplai dari luar.
“Kalteng memiliki potensi lahan dan pakan alami sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan optimal. Mestinya program food estate bisa mengakomodir supply bahan pangan. Kalau tidak salah ada food estate peternakan sapi di Sukamara, bagaimana kabarnya sekarang?” tanya Suherman kritis.
Ia meminta semua program pemerintah, termasuk ketahanan pangan, dipantau dan dievaluasi berkala. Pemerintah harus melaporkan progresnya agar Kalteng tidak hanya dimanfaatkan karena lahannya luas, tetapi program benar-benar mengatasi masalah stok pangan.
