CYRUSTIMES.COM, PALANGKA RAYA – Alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Palangka Raya (UPR), Damai Alam Usop, menilai UPR memiliki peran strategis sebagai ruang aktualisasi ilmu pengetahuan yang harus berdampak langsung bagi masyarakat, terutama di tengah tantangan pendidikan tinggi modern di Palangka Raya.

Damai Alam Usop, yang juga merupakan pengurus Ikatan Alumni Universitas Palangka Raya atau ILUNI UPR, menyampaikan pandangan itu terkait tantangan perguruan tinggi dan harapan terhadap kepemimpinan Rektor UPR periode 2026–2030.

Menurut Damai, perguruan tinggi saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks dan multidimensional. Karena itu, UPR membutuhkan kepemimpinan yang adaptif, progresif, dan mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan nilai lokal serta pengabdian kepada masyarakat.

“UPR harus terus menjadi wadah aktualisasi ilmu pengetahuan yang diterapkan secara langsung kepada masyarakat. Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang teoritis, tetapi harus mampu menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sosial, ekonomi, teknologi, hingga pembangunan daerah,” ujarnya.

Ia menilai, salah satu tantangan utama perguruan tinggi saat ini ialah disrupsi teknologi, khususnya perkembangan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan. Perkembangan itu bergerak cepat dan memengaruhi hampir seluruh sektor kehidupan.

Menurutnya, universitas perlu menyesuaikan sistem pembelajaran, kurikulum, dan pengembangan sumber daya manusia. Langkah itu penting agar lulusan tetap relevan dengan kebutuhan industri dan dunia kerja modern.

“Integrasi teknologi, termasuk AI, ke dalam proses pendidikan menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Perguruan tinggi harus mampu mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga adaptif, inovatif, dan memiliki daya saing global,” katanya.

Selain teknologi, Damai juga menyoroti pentingnya penguatan hubungan antara dunia pendidikan dan dunia kerja melalui konsep link and match atau kesesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan industri.

Ia menilai penguatan pendidikan vokasi, sertifikasi profesi, dan kolaborasi dengan berbagai sektor strategis menjadi langkah penting. Upaya itu diperlukan agar lulusan perguruan tinggi memiliki kesiapan menghadapi tantangan kerja masa depan.

Di sisi lain, Damai menyebut tata kelola perguruan tinggi menjadi tantangan besar. Ia menyoroti aspek kemandirian finansial, pengelolaan aset, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.

“Perguruan tinggi harus mampu membangun tata kelola yang transparan, profesional, dan berorientasi pada keberlanjutan. Kemandirian institusi menjadi faktor penting agar universitas mampu berkembang dan memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas,” ungkapnya.

Damai juga menekankan pentingnya pembangunan lingkungan kampus yang aman, sehat, dan berintegritas. Menurutnya, isu kekerasan seksual, perundungan, dan degradasi moral harus menjadi perhatian serius seluruh elemen perguruan tinggi.

“Kampus harus menjadi ruang yang aman dan beretika. Pencegahan serta penanganan kasus kekerasan seksual dan perundungan harus dilakukan secara tegas dan berkelanjutan demi menciptakan lingkungan akademik yang sehat,” tegasnya.

Dalam konteks persaingan global, ia mendorong UPR memperkuat budaya riset dan inovasi. Riset kampus dinilai harus mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing universitas di tingkat nasional dan internasional.

“Universitas ke depan harus mampu menghadirkan riset yang aplikatif, inovatif, dan menyentuh kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kampus tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan daerah dan nasional,” katanya.

Damai mewakili alumni UPR lainnya berharap Rektor UPR periode 2026–2030 mampu membawa kampus menjadi lebih modern, inklusif, dan berdaya saing. Namun, penguatan itu tetap perlu berpijak pada identitas lokal Kalimantan Tengah.

Ia juga menilai kepemimpinan mendatang perlu memperkuat kolaborasi antara kampus, pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, dan alumni. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk membangun ekosistem pendidikan tinggi yang maju dan berkelanjutan.

“Rektor ke depan harus memiliki visi besar, kepemimpinan yang kuat, serta kemampuan membangun sinergi lintas sektor. UPR membutuhkan figur yang mampu menjaga marwah akademik, memperkuat integritas tata kelola, sekaligus membuka ruang inovasi dan kolaborasi untuk kemajuan bersama,” ujarnya.

Menurut Damai, keterlibatan alumni juga perlu diperkuat sebagai bagian dari pembangunan universitas. Alumni memiliki posisi strategis dalam mendukung pengembangan jejaring, penguatan reputasi kampus, dan pembukaan peluang kerja sama yang lebih luas.

“UPR adalah rumah besar bersama. Kemajuan universitas tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan kampus, tetapi juga seluruh civitas akademika dan alumni. Karena itu, kami berharap rektor periode 2026–2030 mampu merangkul seluruh elemen demi mewujudkan UPR yang unggul, modern, dan tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal,” tutupnya.

Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita