SITUBONDO — Di tengah gencarnya program bantuan sosial, masih ada warga yang hidup dalam kondisi memprihatinkan di Kabupaten Situbondo. Fatimah (56), seorang nenek bersama cucunya, Faruk, kini bertahan hidup di sebuah gubuk reyot di bantaran sungai Dusun Karang Malang, Desa Kesambirampak, Kecamatan Kapongan.
Gubuk berdinding seadanya itu berdiri di tepi aliran sungai, jauh dari kata layak huni. Atapnya tampak rapuh, lantainya tanah, dan di dalamnya hanya terdapat beberapa barang sederhana untuk bertahan hidup.
Sebelumnya, Fatimah mengaku pernah memiliki tempat tinggal di Dusun Rambutan, desa setempat. Namun karena desakan ekonomi dan kebutuhan hidup yang terus menghimpit, ia terpaksa menjual tanah miliknya. Sejak saat itu, hidupnya berpindah-pindah dari Landangan hingga Mangaran sebelum akhirnya menetap di bantaran sungai tersebut.
Ironisnya, di saat kondisi hidupnya semakin sulit, Fatimah justru mengaku sempat diusir oleh aparat pemerintah setempat karena keberadaan gubuknya dianggap mengganggu pemandangan dan arus jalan.
“Saya disuruh pindah dari sini, tapi saya bingung harus pindah ke mana. Tidak ada solusi tempat tinggal, hanya disuruh pergi saja,” ujar Fatimah kepada media ini, Kamis (7/5/2026).
Menurutnya, ancaman pengusiran juga datang dari sebagian warga sekitar. Ia mengaku pernah mendapat perlakuan tidak menyenangkan saat mencoba menyambungkan aliran listrik ke gubuknya.
“Waktu saya pasang kabel listrik, ada yang melempari rumah saya dengan batu. Tapi saya hanya diam,” katanya lirih.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan