CYRUSTIMES, PALANGKARAYA – Ekonom muda Kalimantan Tengah (Kalteng) Rio Kriswana, S.Ap., MM.,CRGP.,CRM memberikan analisis mendalam terkait kebijakan peningkatan investasi dana pensiun dan asuransi ke pasar modal Indonesia. Kebijakan ini dinilai berpotensi mengubah lanskap investasi nasional secara struktural.
Rio Kriswana, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum II Aliansi Wirausaha Kebangsaan Indonesia (AWKI), memaparkan bahwa mekanisme kebijakan ini mengalokasikan porsi lebih besar dana pensiun dan asuransi ke instrumen saham, obligasi korporasi, serta proyek ekonomi riil. Arus dana bersifat jangka panjang dan berulang, menciptakan pembeli alami yang stabil bagi pasar modal.
“Dana institusional ini menciptakan likuiditas permanen dan menurunkan volatilitas pasar,” ungkap Rio yang meraih gelar Master Manajemen ini. Ia menambahkan stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan membaik seiring masuknya dana jangka panjang yang tidak mudah terpengaruh kepanikan pasar.
Dari sisi keuntungan sistemik, kebijakan ini menurunkan biaya modal perusahaan sehingga ekspansi lebih mudah dilakukan. Kedalaman pasar meningkat dan selisih harga transaksi menjadi lebih kecil. Dana bersifat jangka panjang sehingga tidak mudah ditarik saat terjadi koreksi pasar.
Rio mengidentifikasi peluang investasi terbesar berada pada saham berkapitalisasi besar, BUMN, perbankan besar, sektor energi, dan infrastruktur. Strategi investasi nilai, investasi dividen, dan pembelian berkala menjadi lebih optimal diterapkan. Koreksi pasar justru menjadi kesempatan akumulasi jangka menengah hingga panjang.
Namun Rio mengingatkan sejumlah risiko utama. Risiko gelembung ekonomi dapat terjadi jika valuasi aset terlalu mahal. Konsentrasi sektor juga mengancam karena dana institusi cenderung membeli saham yang sama.
“Risiko tata kelola dan kesalahan pengelolaan investasi harus diwaspadai,” tegas Rio. Ia menambahkan bahwa kepercayaan berlebihan investor terhadap fundamental perusahaan dapat memicu moral hazard.
Untuk mengelola risiko secara profesional, Rio merekomendasikan tetap menggunakan analisis nilai wajar seperti rasio harga terhadap laba, model diskon dividen, dan arus kas terdiskon. Investor sebaiknya masuk saat harga diskon, bukan saat euforia berita.
Diversifikasi sektor dan menyimpan kas 20 hingga 30 persen saat valuasi mahal menjadi strategi penting. Rio juga menekankan pentingnya menghindari saham berlikuiditas rendah atau yang rentan manipulasi harga.
“Kebijakan ini bersifat optimis struktural jangka panjang dan memperkuat fondasi pasar modal Indonesia,” simpul Rio. Ia menegaskan pendekatan disiplin berbasis fundamental dan akumulasi bertahap menjadi fokus terbaik bagi investor menghadapi perubahan lanskap investasi nasional ini.
Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.