Namun, pada tahun 2022 inflasi meningkat cukup signifikan hingga mencapai 5,51 persen. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya harga energi global, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM), serta naiknya permintaan masyarakat seiring dengan pemulihan aktivitas ekonomi. Selain itu, kenaikan harga juga dipengaruhi oleh meningkatnya harga komoditas, terutama bahan pangan, hal ini menunjukan kenaikan inflasi tidak selalu buruk, tetapi dapat menjadi bagian dari proses pemulihan setelah krisis.
Pada periode 2023 hingga 2025, inflasi kembali menunjukan tren yang lebih stabil, masing-masing sebesar 2,61 persen, 1,57 persen, dan 2,92 persen. Kondisi ini menunjukan bahwa pengendalian inflasi mulai berjalan dengan baik, meskipun fluktuasi harga pada komoditas pangan seperti beras dan cabai masih menjadi faktor yang cukup dominan. Hal ini menegaskan bahwa struktur inflasi di indonesia masih sangat sensitif terhadap pergerakan harga kebutuhan pokok.
Memasuki awal tahun 2026, inflasi kembali menunjukan kecenderungan meningkat. Data dari Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan mencapai 4,76 persen pada februari 2026. Kenaikan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain penyesuaian tarif listrik serta kenaikan komoditas seperti emas, daging ayam, dan bahan pangan lainnya. Kondisi ini menunjukan kondisi ekonomi masih berpotensi muncul, terutama dari kelompok harga yang diatur pemerintah dan komoditas strategis.
Secara keseluruhan, dinamika inflasi menunjukan bahwa perubahannya dipengaruhi oleh faktor internal, kondisi global, dan kebijakan domestik. Inflasi yang terlalu rendah dapat mencerminkan lemahnya aktivitas ekonomi, sedangkan inflasi yang tinggi berpotensi menekan daya beli masyarakat. Namun, stabilitas inflasi secara agregat belum tentu mencerminkan kondisi riil di masyarakat, terutama karena fluktuasi harga pangan masih berdampak besar bagi kelompok berpendapat rendah.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan