CYRUSTIMES.COM, OPINI – Mengapa inflasi Indonesia bisa berubah drastis dalam waktu singkat, dan apakah stabilitas yang terjadi belakangan ini benar-benar mencerminkan kondisi ekonomi yang sehat?
Dalam beberapa tahun terakhir, inflasi di Indonesia bergerak dengan pola yang tidak biasa—turun tajam saat krisis, kemudian melonjak saat pemulihan, dan kini kembali terlihat stabil. Perubahan yang terjadi dalam waktu singkat ini bukan sekadar angka, tetapi tekanan krisis dan proses pemulihan ekonomi.
Inflasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir tidak bergerak dalam satu arah yang pasti. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, inflasi sempat menurun tajam saat krisis, kemudian melonjak pada masa pemulihan, dan kembali stabil dalam beberapa tahun berikutnya.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukan pola ini terjadi secara nyata dalam periode 2019 hingga 2026. Fenomena tersebut tidak sekedar mencerminkan fluktuasi angka, tetapi juga menggambarkan bagaimana tekanan krisis dan proses pemulihan ekonomi saling mempengaruhi dalam membentuk pergerakan harga di masyarakat.
Pada tahun 2019, Inflasi tercatat sebesar 2,72 persen dan berada dalam kondisi yang relatif stabil. Kondisi ini dipengaruhi oleh kenaikan harga pada beberapa kelompok pengeluaran seperti bahan makanan, transportasi, serta sektor perumahan. Stabil nya inflasi pada periode ini mencerminkan kondisi ekonomi yang masih terkendali sebelum terjadinya pandemi.
Memasuki tahun 2020 hingga 2021, inflasi memasuki penurunan menjadi 1,68 persen dan 1,87 persen. Penurunan ini terjadi seiring melemahnya kegiatan daya beli masyarakat akibat pandemi COVID-19. Pembatasan aktivitas, penurunan mobilitas, serta ketidakpastian ekonomi yang menyebabkan permintaan terhadap barang dan jasa menurun, sehingga tekanan inflasi menjadi lebih rendah. Dalam konteks ini, inflasi yang rendah tidak serta-merta menunjukan kondisi ekonomi yang sehat, tetapi dapat mencerminkan lemahnya aktivitas ekonomi secara keseluruhan di berbagai wilayah.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan