Ketahanan eksternal Indonesia tetap baik di tengah ketidakpastian global. Posisi cadangan devisa akhir Desember 2025 meningkat menjadi 156,5 miliar dolar AS atau setara 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Nilai tukar Rupiah pada 31 Desember 2025 tercatat Rp16.675 per dolar AS, melemah 3,48 persen dibandingkan akhir tahun 2024. Hingga 23 Januari 2026, Rupiah tercatat Rp16.815 per dolar AS, mengalami pelemahan 0,83 persen dibandingkan level akhir Desember 2025.
BI berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui intervensi terukur di transaksi Non-Deliverable Forward, Domestic Non-Deliverable Forward, dan pasar spot, serta memperkuat strategi operasi moneter pro-market.
Inflasi tahun 2025 tetap terjaga dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen, dengan inflasi IHK Desember 2025 sebesar 2,92 persen year on year. Inflasi inti tetap rendah sebesar 2,38 persen yoy, sejalan pertumbuhan ekonomi yang masih di bawah kapasitas.
Stabilitas sektor jasa keuangan nasional terjaga stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tensi perdagangan global. Hal ini didukung permodalan yang kuat, likuiditas memadai, profil risiko yang manageable, serta kinerja sektor jasa keuangan yang stabil.
Kredit perbankan pada Desember 2025 mencatat pertumbuhan 9,6 persen yoy menjadi Rp8.585 triliun, didorong kredit investasi yang tumbuh tinggi 20,81 persen yoy. Kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan gross sebesar 2,05 persen dan NPL net sebesar 0,79 persen.
Ketahanan perbankan terjaga kuat tercermin dari Capital Adequacy Ratio pada Desember 2025 yang berada di level tinggi yakni 25,87 persen. Likuiditas perbankan tetap memadai dengan rasio Loan to Deposit Ratio sebesar 85,35 persen.
