“Kita tidak sedang memperkuat keamanan; kita sedang mengundang risiko geopolitik ke halaman rumah sendiri. Dan ini bukanlah pertanda baik untuk Indonesia,” ungkapnya.

Akademisi ekonomi pembangunan Universitas Palangka Raya itu juga memaparkan dampak ekonomi sebagai kekhawatiran terbesar. Meski kedekatan dengan AS mungkin menarik investor Barat, realitas neraca dagang menunjukkan Tiongkok masih menjadi mitra terbesar Indonesia.

Eskalasi ketegangan geopolitik dikhawatirkan dapat membuat Indonesia terjepit. Dampak pertama diprediksi memukul sektor ekspor, investasi, dan stabilitas nilai tukar Rupiah yang kini mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.

Publik diingatkan pada preseden awal 2025 ketika Indonesia bergabung dengan BRICS. Saat itu, tarif impor produk Indonesia sempat berguncang akibat respons kebijakan dagang AS. Kini, situasi sebaliknya bisa terjadi dengan Tiongkok.

“Diplomasi yang tidak netral pasti akan mahal ongkos ekonominya,” tutup Suherman mengingatkan pemerintah berhati-hati menavigasi dua kekuatan besar dunia.

Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita