Di titik ini, pembangunan tidak bisa lagi hanya berorientasi pada capaian indikator, tetapi harus bergeser pada kualitas dampak yang dirasakan masyarakat. Inovasi seperti digitalisasi layanan melalui Mal Pelayanan Publik (MPP) hanya akan bermakna jika benar-benar menghadirkan kemudahan akses, efisiensi, dan kecepatan layanan secara nyata, bukan sekadar formalitas administratif. Kalau hanya jadi simbol modernisasi tanpa dampak nyata, maka inovasi itu tidak lebih dari sekadar pencitraan.
Palangka Raya memiliki modal penting, yaitu legitimasi sebagai kota maju, kepercayaan dari pemerintah pusat, serta potensi untuk menarik investasi. Namun, modal tersebut hanya akan bernilai jika diiringi dengan konsistensi kebijakan dan keberanian dalam menyelesaikan persoalan mendasar yang selama ini berulang. Kalau tidak dimanfaatkan dengan serius, status kota maju justru bisa jadi beban ekspektasi.
Pada akhirnya, kota maju bukan tentang siapa yang memiliki angka tertinggi dalam laporan statistik, melainkan siapa yang mampu menghadirkan kualitas hidup terbaik bagi warganya. Jika
tidak, maka “wajah baru” Palangka Raya hanya akan berhenti sebagai citra, rapi di atas kertas, tetapi belum sepenuhnya nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Yoga, Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Palangka Raya, Angkatan 2025
Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan