“Konten itu kesalahan saya pribadi. Tidak ada yang menyuruh atau mengarahkan. Kenapa harus Gubernur? Di situlah letak kebodohan saya,” kata Saifullah, didampingi sejumlah tokoh ormas dan perwakilan PWI.

Ia juga mengaku telah menghapus seluruh konten terkait dari akun media sosialnya dan berjanji lebih berhati-hati dalam membuat konten ke depan. “Saya akan jadikan ini pelajaran. Kepada masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya warga Palangka Raya, saya mohon maaf. Saya tidak punya niat menyudutkan siapa pun,” ujarnya.

Kasus ini menjadi peringatan bagi para konten kreator agar lebih bijak dalam menyusun materi hiburan, terutama ketika menyangkut figur publik. Sejumlah pihak berharap insiden ini dapat diselesaikan secara arif, tanpa memperuncing ketegangan di ruang publik digital.

Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita