Tekanan ini dirasakan paling berat oleh kelompok berpenghasilan rendah dan menengah kebawah. Menurut kajian ekonomi dari berbagai lembaga, proporsi pengeluaran rumah tangga miskin untuk kebutuhan pokok sangat tinggi, sehingga kenaikan harga beras, minyak goreng, atau gas elpiji secara langsung memangkas kemampuan mereka memenuhi kebutuhan dasar. Adaptasi yang terjadi pun bukan tanpa konsekuensi: Beralih ke bahan makanan lebih murah, mengurangi porsi protein hewani, hingga memangkas anggaran pendidikan dan kesehatan.
Di level makro, IMF dalam Spring Meetings 2026 memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5%, lebih rendah dari target pemerintah dengan faktor risiko berupa ketidakpastian gepolitik di Timur Tengah yang menekan harga energi global. Jika pertumbhan melambat, penciptaan lapangan kerja pun ikut terlambat, yang berarti tekanan pada daya beli semakin sulit diatasi dari sisi pendapatan.
Salah satu fenomena yang menarik perhatian para ekonom adalah kesenjangan antara angka inflasi resmi dan persepsi masyarakat di lapangan. Survei dan kajian ekonomi meninjukkan bahwa ekspektasi inflasi masyarakat cenderung lebih tinggi dari angka statistik. Kenaikan ekspektasi inflasi ini menjadi sinyal penting bahwa daya beli masyarakat berpotensi tergerus lebih dalam dari yang terlihat di data.
Ketika masyarakat mulai menahan belanja karena khawatir harga akan terus naik, efeknya tidak berhenti di tingkat rumah tangga. Pelaku usaha kecil dan UMKM pun merasakan tekanan dari dua sisi sekaligus, biaya produksi meningkat, sementara permintaan konsumen melemah. Banyak di antara mereka memilih untuk tidak menaikkan harga demi mempertahankan pelanggan, dengan cara memperkecil ukuran produk atau menekan margin keuntungan. Fenomena yang belakangan dikenal dengan istilah shrinkflation ini semakin sering dijumpai di rak-rak minimarket.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan