Respons Pemerintah dan Ruang yang Masih Terbuka
Di tengah tekanan itu, pemerintah tidak diam. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan komitmen menjaga inflasi 2026 pada kisaran sasaran 2,5% plus minus 1%, didukung oleh penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Daerah (TPID) melalui strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Berbagai stimulus fiskal juga telah disiapkan, termasuk diskon tarif transportasi dan penyaluran bantuan pangan untuk menjaga daya beli masyarakat. Konsumsi rumah tangga yang menyumbang sekitar 54% terhadap PDB tetap diproyeksikan tumbuh solid, didukung program perlindungan sosial seperti PKH dan BPNT.
Bahkan, Ekonom senior INDEF Dr. Aviliani mengingatkan, intervensi jangka pendek saja tidak cukup. Dibutuhkan penguatan rantai pasok pangan antardaerah, peningkatan produktivitas pertanian, dan perluasan perlindungan sosial yang benar-benar menjangkau kelompok paling rentan. Stabilitas harga, kata para ekonom, bukan hanya soal menjaga angka tapi soal memastikan manfaatnya terasa sampai ke tingkat rumah tangga.
Inflasi memang terdengar seperti urusan para ekonom dan pembuat kebijakan. Tapi sesungguhnya, inflasi adalah pengalaman hidup yang paling konkret: Dirasakan tiap pagi di pasar, tiap malam di meja makan, tiap awal bulan saat tagihan datang. Harga yang naik pelan-pelan mungkin tidak terasa seperti krisis, tapi efek kumulatifnya nyata, dan paling terasa oleh mereka yang paling sedikit punya cadangan.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan