“Kami juga menemukan uang tunai senilai Rp7,5 juta dengan pecahan Rp100.000 yang diduga hasil dari penjualan pupuk subsidi sebelumnya,” tambah Erlan.

Dalam penggeledahan, polisi turut menyita barang bukti berupa nota penjualan pupuk tertanggal 15 April 2025 dan satu unit ponsel merek Vivo V23e warna biru yang diduga digunakan untuk transaksi ilegal tersebut.

Harga Pupuk Subsidi Melonjak

Temuan ini terjadi di tengah situasi di mana pupuk bersubsidi yang seharusnya mudah diakses oleh petani justru mengalami kelangkaan di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah. Praktik pengalihan distribusi ini diduga menjadi salah satu penyebab kelangkaan tersebut.

Modus operandi penyelewengan pupuk bersubsidi seperti pengoplosan, penimbunan, hingga pengalihan wilayah distribusi semakin memperburuk kondisi ketersediaan pupuk bagi petani yang membutuhkan. Akibatnya, petani harus membeli pupuk dengan harga yang lebih mahal dari yang seharusnya.

Lemahnya Pengawasan

Kasus ini menyoroti lemahnya pengawasan distribusi pupuk bersubsidi di Kalimantan Tengah. Meski pemerintah telah menetapkan pupuk bersubsidi sebagai barang dalam pengawasan melalui Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2011, implementasi di lapangan tampak belum optimal.

Berdasarkan regulasi, pupuk bersubsidi hanya boleh diberikan kepada petani atau kelompok tani yang telah terdaftar dalam Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang disahkan oleh petugas teknis. Namun, celah dalam sistem pengawasan membuat praktik penyalahgunaan terus terjadi di berbagai daerah.