Seleksi Ketat, Katanya
Penerima kartu baru tidak otomatis dapat bantuan. Ada tim seleksi khusus yang akan menentukan siapa layak dapat dan siapa yang cuma layak gigit jari. Tim ini menggunakan data desil 1 dan desil 2 yang entah sudah berapa kali diperbaharui.
“Itu dari seleksi. Ada timnya. Kita menggunakan desil 1 dan desil 2, lalu dikolaborasikan dengan data pemerintah daerah,” jelas Leonard.
Proses pemutakhiran data dilakukan karena banyak ketidaksesuaian. Ada yang sudah meninggal masih tercatat sebagai penerima, ada yang sudah pindah ke Jakarta masih dikira tinggal di kampung.
“Kadang-kadang datanya tidak sesuai, ada yang sudah meninggal, ada yang sudah pindah. Itu yang kita lakukan pemutakhiran,” kata Leonard. Sepertinya data terakhir diperbarui zaman kartu lama masih dianggap sakti.
Bantuan Fleksibel, Sistemnya Canggih
Leonard menjanjikan bantuan yang fleksibel. Bisa sembako, bisa ditukar, bahkan bisa langsung uang tunai. Semua terpantau dalam sistem yang diklaim transparan.
“Bantuannya macam-macam. Bisa sembako, bisa ditukar, bahkan bisa langsung dalam bentuk uang,” ujarnya. Tinggal tunggu sistemnya beneran jalan atau cuma jalan di atas kertas.
Sistem pemantauan digital dijanjikan bisa melacak semua jenis bantuan yang diterima masyarakat. Dari bantuan pendidikan sampai sembako, semua tercatat rapi.
“Misalnya dia dapat bantuan pendidikan anak, atau bantuan sembako, itu kelihatan di dalam sistem,” kata Leonard bangga.
Pemerintah Turun Langsung
Yang menarik, kali ini pemerintah tidak menunggu masyarakat mengajukan diri. Tim akan turun langsung ke lapangan mendata siapa saja yang layak dapat bantuan.
