“Aklam sebagai penyalur beras dari PT Yasa juga tidak bisa menjukkan data, katanya sudah setor ke PT Yasa.  Malah menegaskan penyaluran sudah sesuai, tapi dimintai data tidak mau,” ujar Zainul.

Menurut dia, karena orang yang dituju dalam demo tersebut tidak bisa berbicara sesuai dengan data penyaluran, keluhan yang dibawa warga tidak ada yang terjawab. Warga juga masih mempertanyakan larinya beras tahap satu dan tahap dua yang tidak disalurkan pada puluhan orang penerima.

“Warga kan banyak tidak terima beras di tahap satu dan tahap dua, jelas-jelas ini sudah ada penyelewegan. Tapi oknum kadus selalu jawab secara lisan saja,” pungkas Zainul.

Sementara itu, Tenaga penyalur bantuan CBP, Aklam menjelaskan, dirinya tidak bisa menujukkan data penyaluran dan mengarahkan pendemo meminta data tersebut ke pihak PT Yasa.

“Saya hanya tenaga penyalur yang dipercaya PT Yasa, tapi saya tidak bisa menujukkan data, karena data sudah diimput ke PT Yasa. itu kan kewenangan PT, mau mengeluarkan atau tidak,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Seletreng, Taufik Hidayat mengatakan, kedatangan warga ini hanya ingin audensi mengenai hak bantuan pangan. Namun, pihaknya tidak mengetahui persoalannya namun perlu ada yang dipahami terkait proses penyaluran bantuan itu.

“Kalau penyimpangan kami tidak tahu pasti, tetapi kalau perubahan penerima itu ada aturannya. Tetapi kalau berkaitan data itu murni dipegang pedamping PKH,” jelasnya.

Pria yang akrab dipanggil Taufik menjelaskan, untuk penyaluran tahap pertama itu dilakukan pihak PKH dan tahap kedua baru pemerintah desa diminta membantu penyalurannya.