“Yang penting anak-anak muda bisa melanjutkan. Kita hanya meneruskan tradisi leluhur. Mereka harus teruskan, supaya budaya ini tidak hilang,” katanya.
Luthiani juga mengingatkan bahwa manyipet bukan hanya sekadar lomba teknis. Ia membawa nilai sejarah, keberanian, dan kecintaan terhadap jati diri budaya Dayak. “Ibu ini sudah sampai tingkat nasional, bukan hanya antar kabupaten,” ucapnya, tersenyum.
Koordinator lomba manyipet FBIM 2025, Teresia Efita, menegaskan bahwa kompetisi ini menilai lebih dari sekadar kekuatan. “Bukan lomba siapa tercepat atau terkuat, tapi penampilan terbaik. Diambil enam penampil dengan nilai tertinggi,” kata Teresia.
Sebanyak 12 kabupaten/kota berpartisipasi dalam lomba manyipet tahun ini. Setiap daerah mengirimkan satu tim perempuan dan satu tim laki-laki, sehingga total ada 24 tim. Jarak sasaran berbeda untuk tiap kategori—20 meter untuk perempuan dan 25 meter untuk laki-laki.
Dalam festival budaya yang terus tumbuh dan bertransformasi, figur seperti Luthiani menjadi penjaga nilai. Ia hadir bukan sekadar sebagai peserta, tapi sebagai pengingat: bahwa budaya bukan hanya dipentaskan, tetapi dihidupi—dalam napas, dedikasi, dan sumpit yang terus meluncur.
Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita
