Untuk menyambung hidup, Fatimah mengandalkan penghasilan dari menjual daun pisang. Pendapatan itu pun tidak menentu. Dalam sehari, ia mengaku paling banyak hanya memperoleh sekitar Rp50 ribu, bahkan sering kali tidak mendapatkan apa-apa.

“Kalau ada rezeki bisa dapat Rp50 ribu sehari, tapi jarang. Untuk makan ya seadanya, kadang cuma tahu, tempe, sama daun singkong,” tuturnya.

Kisah Fatimah menjadi potret nyata masih adanya warga yang hidup di bawah garis kemanusiaan. Di saat pemerintah gencar berbicara soal penanganan kemiskinan dan kesejahteraan sosial, seorang nenek bersama cucunya justru harus bertahan di gubuk bantaran sungai tanpa kepastian tempat tinggal.

Bersambung. . . . . .