Suherman mengkritik pemerintah yang dinilai pilih kasih dalam mengalokasikan anggaran. “Pemerintah jangan memanjakan Anggota DPR yang saat ini mendapatkan tunjangan rumah per bulan Rp50 juta. Take home pay mereka bisa Rp100 juta lebih sebulan,” kritiknya.

Sementara itu, dosen dan guru di luar sana ada yang berjuang memiliki rumah. “Bahkan 20 tahun kredit rumah yang harganya cuma Rp180 juta saja sudah kewalahan dengan gaji mereka di bawah UMR,” tambahnya.

Ia menekankan bahwa kritik utama bukan pada jumlah anggaran yang mengalir ke sektor pendidikan, melainkan pada cara pemerintah mengelola dan mengalokasikannya. Masalah efisiensi dan distribusi anggaran perlu diperbaiki.

“Pendidikan Indonesia adalah harga mati untuk menyambut Indonesia emas. Jangan ditawar, jangan diabaikan,” pungkas Suherman.

Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita