CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Harga daging sapi di Kota Palangka Raya melonjak signifikan mencapai kisaran Rp135 ribu hingga Rp145 ribu per kilogram. Lonjakan ini dinilai memberatkan masyarakat dan berpotensi memicu dampak ekonomi lebih luas jika tidak segera ditangani.

Pengamat Ekonomi Suherman menyoroti angka tersebut mengindikasikan tekanan serius dari sisi pasokan hingga distribusi. Kenaikan harga bukan tanpa sebab, melainkan akibat tekanan pasokan, distribusi, serta meningkatnya biaya produksi dan logistik yang dibebankan kepada konsumen.

“Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Terdapat tekanan dari sisi pasokan, distribusi, serta meningkatnya biaya produksi dan logistik yang akhirnya dibebankan kepada konsumen,” ujar Suherman.

Akademisi Universitas Palangka Raya ini menjelaskan kondisi diperparah oleh ketergantungan Palangka Raya terhadap pasokan daging dari luar daerah. Produksi daging lokal belum cukup kuat menopang kebutuhan konsumsi masyarakat secara mandiri, sehingga daerah sangat rentan terhadap gejolak eksternal.

Ketika pasokan dari daerah pemasok terganggu atau biaya distribusi merangkak naik, harga di tingkat konsumen langsung melonjak. Jika tidak dikelola baik, kondisi ini dapat mendorong inflasi pangan daerah berkepanjangan.

Dampak kenaikan harga sangat terasa pada daya beli masyarakat. Pangan menyerap porsi terbesar pengeluaran rumah tangga di daerah ini.

“Kenaikan harga daging sapi, beras, dan bahan pokok lain akan memaksa rumah tangga mengurangi konsumsi atau mengalihkannya ke pangan lebih murah. Ini berisiko menurunkan kualitas konsumsi gizi masyarakat,” paparnya.