Estimasi waktu baca: 5 menit

Hujan Sedang-Lebat Diprediksi Turun di Kalteng

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Peluang hujan mulai muncul di tengah kabut asap dan kondisi kering yang masih menyelimuti Kalimantan Tengah (Kalteng). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sejumlah wilayah Kalteng berpotensi diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sepanjang 15–21 September 2026.

Namun, datangnya hujan belum dapat diartikan bahwa persoalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan langsung berakhir.

Dalam prakiraan cuaca mingguan terbaru, BMKG Kalteng menyebut kondisi cuaca secara umum masih cerah berawan hingga berawan dan disertai udara kabur akibat kabut asap di sebagian besar wilayah Kalimantan Tengah.

Pada saat bersamaan, peluang hujan mulai meningkat terutama di wilayah Kalteng bagian utara.

Hujan Sedang-Lebat Berpotensi Turun hingga 21 September

Untuk periode 15–17 September 2026, BMKG memprakirakan hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang berpotensi terjadi di:

  • Murung Raya
  • Barito Utara
  • Gunung Mas bagian utara
  • Kapuas bagian utara
  • Katingan bagian utara
  • Lamandau bagian utara
  • Kotawaringin Timur bagian utara
  • Seruyan bagian utara

Pada periode 18–21 September 2026, potensi hujan masih bertahan terutama di Katingan bagian utara, Gunung Mas, Kapuas bagian utara, Murung Raya serta Barito Utara bagian utara.

BMKG juga mengingatkan hujan lokal berdurasi singkat masih dapat terjadi di wilayah lain dan berpotensi disertai petir, angin kencang, bahkan puting beliung.

Pagi Ini Asap Masih Terlihat di Banyak Wilayah

Meski peluang hujan meningkat, kondisi udara pada Rabu pagi, 16 September 2026, menunjukkan kabut asap belum sepenuhnya mereda.

Data BMKG Kalteng sekitar pukul 08.00 WIB mencatat udara kabur di Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Kapuas, Katingan, Seruyan, Sukamara, Lamandau, Gunung Mas dan Pulang Pisau.

Barito Selatan dan Barito Timur bahkan masih tercatat mengalami kondisi kabut/asap.

Sementara Murung Raya menjadi salah satu wilayah yang pada waktu tersebut tercatat mengalami hujan ringan.

Kondisi ini menunjukkan hujan sudah mulai muncul di sebagian daerah, tetapi pengaruhnya terhadap kabut asap belum merata.

Apakah Hujan Bisa Mengurangi Kabut Asap?

Hujan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel di udara sekaligus membasahi permukaan lahan yang kering.

Dalam konteks karhutla, hujan yang turun cukup lama dan merata juga dapat membantu proses pemadaman dan mengurangi peluang api baru muncul.

Namun efek tersebut sangat bergantung pada intensitas, durasi dan luas wilayah yang diguyur hujan.

Hujan singkat di satu kabupaten tidak otomatis menghilangkan asap yang berasal dari kebakaran di daerah lain.

Terlebih, kebakaran pada lahan gambut dapat berlangsung di bawah permukaan sehingga membutuhkan pembasahan yang lebih dalam dan berkelanjutan.

Karena itu, hujan yang mulai muncul saat ini lebih tepat dipandang sebagai faktor yang berpotensi membantu mengurangi asap secara lokal, bukan tanda bahwa krisis karhutla telah berakhir.

Kalteng Masih Mengalami Kekeringan Ekstrem

Kondisi dasar Kalimantan Tengah sendiri masih sangat kering.

Analisis BMKG yang diperbarui pada 10 September menunjukkan sebagian wilayah Kalteng mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 60 hari, atau masuk kategori kekeringan ekstrem.

Sebagian wilayah lainnya mengalami Hari Tanpa Hujan kategori sangat panjang, yakni 31–60 hari.

Sementara analisis curah hujan Dasarian I September menunjukkan Kalimantan Tengah secara umum hanya menerima curah hujan 0–50 milimeter, atau berada pada kategori rendah.

Sebagian besar wilayah provinsi ini juga tercatat mengalami sifat hujan bawah normal, atau hanya sekitar 0–84 persen dibandingkan kondisi normal klimatologisnya.

Kondisi tersebut membuat vegetasi dan lahan gambut tetap mudah terbakar meskipun hujan lokal mulai muncul.

El Niño Kuat Masih Menekan Curah Hujan

Situasi kering tidak hanya terjadi di Kalimantan Tengah.

BMKG mencatat sekitar 81 persen Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga Dasarian I September 2026.

Kondisi tersebut diperkuat oleh El Niño yang masih berada pada kategori sangat kuat. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat +2,76 derajat Celsius pada Dasarian I September.

BMKG memperkirakan pengaruh El Niño masih bertahan hingga awal 2027.

Kombinasi musim kemarau dan El Niño membuat hujan yang muncul pada pekan ini belum cukup untuk mengubah pola cuaca Kalteng secara keseluruhan.

627 Hotspot Terdeteksi di Kalimantan

Risiko karhutla juga masih tinggi.

Berdasarkan pemantauan satelit BMKG pada 13 September 2026, sebanyak 627 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Pulau Kalimantan.

Jumlah itu menjadi yang tertinggi dibanding wilayah besar lainnya di Indonesia pada waktu yang sama. Papua dan Maluku tercatat 200 titik, Sulawesi 104 titik, serta Sumatra 86 titik.

BMKG menjelaskan kondisi atmosfer yang kering dapat membuat kebakaran bertahan lebih lama, terutama pada kawasan gambut karena api dapat menjalar ke lapisan bawah permukaan.

Pada 14 September, citra satelit Himawari-9 juga masih mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Kalimantan.

BMKG Masih Peringatkan Risiko Karhutla dan Kualitas Udara

Meski hujan diprakirakan turun, BMKG belum mencabut kewaspadaan terhadap karhutla.

Dalam prakiraan mingguan 15–21 September, BMKG tetap mengingatkan adanya potensi kemudahan terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah.

Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan untuk tujuan apa pun.

BMKG juga memperingatkan potensi penurunan kualitas udara akibat polusi dari karhutla.

Anak-anak, lansia, ibu hamil serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar.

Hujan Jadi Harapan, tetapi Karhutla Belum Selesai

Datangnya hujan di sejumlah wilayah Kalteng memberikan harapan di tengah kondisi kabut asap yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.

Wilayah utara berpeluang memperoleh hujan lebih tinggi sehingga kondisi lahan dan kualitas udara di daerah tersebut berpotensi membaik.

Namun untuk Palangka Raya dan wilayah tengah-selatan Kalteng, peluang hujan belum sebesar bagian utara.

Kondisi atmosfer masih kering, Hari Tanpa Hujan masih panjang, hotspot tetap tinggi dan udara kabur masih tercatat di banyak daerah.

Karena itu, asap berpotensi berkurang secara lokal apabila hujan turun cukup lama dan merata, tetapi belum ada dasar untuk menyatakan kabut asap Kalimantan Tengah akan segera berakhir.

Pekan ini justru menjadi fase penting untuk melihat apakah hujan yang mulai muncul dapat bertahan dan membantu menekan kebakaran, atau hanya menjadi hujan lokal sesaat di tengah musim kemarau yang masih kuat.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja