Estimasi waktu baca: 3 menit

Kuliner khas Dayak berbahan rotan muda ini menyimpan cita rasa unik, kearifan lokal, dan identitas pangan Kalteng.

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA Juhu umbut rotan menjadi salah satu kuliner khas Dayak Kalimantan Tengah (Kalteng) yang menyimpan cerita panjang tentang hubungan masyarakat dengan hutan. Di balik rasanya yang unik, makanan ini menunjukkan cara orang Dayak mengolah bahan alam menjadi hidangan bernilai budaya.

Umbut rotan atau uwut nang’e merupakan bagian muda dari tanaman rotan. Bahan ini dibersihkan, dibuang kulit luarnya, lalu dipotong kecil sebelum dimasak bersama bumbu, ikan sungai, dan bahan pelengkap lain.

Dalam tradisi kuliner Kalteng, juhu umbut rotan biasa dimasak dengan ikan baung, bumbu, dan terong asam. Perpaduannya menghasilkan rasa gurih, asam, sedikit pahit, serta aroma khas dari bahan hutan. Rasa itu menjadi ciri yang membedakan kuliner Dayak dari masakan daerah lain.

Rasa Hutan dalam Semangkuk Juhu

Bagi sebagian orang yang baru pertama kali mencicipi, umbut rotan mungkin terdengar tidak biasa. Namun, bagi masyarakat Dayak, bahan ini telah lama menjadi bagian dari pengetahuan pangan lokal.

Rotan muda dipilih karena teksturnya lebih lembut. Setelah dibersihkan, bagian dalamnya dapat diolah menjadi sayur berkuah. Rasanya tidak sepenuhnya pahit, tetapi memiliki sensasi khas yang justru menjadi daya tarik.

Juhu umbut rotan juga dikenal dengan nama juhu singkah umbut rotan. Dalam beberapa sajian, rotan muda dimasak dengan ikan atau udang, lalu dipadukan dengan kuah santan atau bumbu kuning. Teksturnya renyah dengan rasa asam segar dan gurih.

Kuliner yang Mencerminkan Kearifan Lokal

Juhu umbut rotan bukan sekadar makanan. Hidangan ini mencerminkan kearifan masyarakat Dayak dalam memanfaatkan sumber daya alam secara turun-temurun.

Hutan tidak hanya dilihat sebagai ruang ekonomi, tetapi juga sebagai sumber pangan, obat, dan pengetahuan hidup. Dari hutan, masyarakat mengenal bahan yang dapat dimakan, cara mengolahnya, hingga batas-batas pemanfaatan agar alam tetap terjaga.

Dalam konteks itu, juhu umbut rotan menjadi simbol hubungan antara manusia dan alam. Kuliner ini memperlihatkan bahwa makanan lokal sering kali lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam membaca lingkungan.

Mulai Jarang Dikenal Anak Muda

Meski memiliki nilai budaya kuat, juhu umbut rotan mulai jarang ditemukan dalam keseharian anak muda. Makanan cepat saji, kuliner modern, dan perubahan pola konsumsi membuat sebagian kuliner tradisional tidak lagi akrab di meja makan keluarga.

Di sejumlah rumah makan khas Dayak di Palangka Raya, menu ini masih bisa ditemukan. Namun, keberadaannya belum tentu dikenal luas oleh generasi muda yang lebih akrab dengan makanan populer dari luar daerah.

Padahal, kuliner lokal seperti juhu umbut rotan memiliki potensi besar untuk diperkenalkan kembali. Selain unik, makanan ini juga dapat menjadi daya tarik wisata kuliner Kalteng.

Bisa Naik Kelas

Peluang juhu umbut rotan untuk naik kelas masih terbuka. Dengan penyajian yang lebih modern, kemasan cerita yang kuat, dan promosi digital, kuliner ini dapat menarik perhatian wisatawan maupun pembaca muda.

Restoran, pelaku UMKM, komunitas kuliner, dan pemerintah daerah dapat mengambil peran dalam mengenalkan kembali makanan khas Dayak. Tidak hanya sebagai menu tradisional, tetapi juga sebagai identitas kuliner Bumi Tambun Bungai.

Di tengah banyaknya makanan luar yang masuk ke pasar lokal, juhu umbut rotan mengingatkan bahwa Kalteng memiliki kekayaan rasa yang tidak kalah menarik. Kuliner ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga memori, adat, dan cara masyarakat menjaga hubungan dengan alam.

Jika tidak terus diperkenalkan, juhu umbut rotan berisiko hanya tinggal cerita di generasi tua. Namun jika dirawat, makanan ini bisa menjadi salah satu wajah kuliner Dayak yang membanggakan Kalteng.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.