Estimasi waktu baca: 3 menit

 

Api Mendekati Pemukiman Warga, Satgas Gabungan Berjibaku Lakukan Pembasahan

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYAKebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kota Palangka Raya semakin mengkhawatirkan. Pada Sabtu, 8 Agustus 2026, kobaran api meluas hingga mendekati kawasan permukiman warga dan membakar satu unit rumah tinggal di kawasan Jalan Kalibata.

Advertisement

Berdasarkan data rekapitulasi Pusdalops-PB BPBD Kota Palangka Raya sejak penetapan Status Siaga Darurat Karhutla (1 Juni – 7 Agustus 2026), telah terjadi 164 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 162,78 hektar. Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah yang paling parah terdampak dengan 105 kejadian, disusul Sebangau (37 kejadian), Pahandut (17 kejadian), dan Bukit Batu (5 kejadian).

Sebaran Titik Api dan Ancaman Permukiman

Hingga data terbaru dirilis, terdeteksi 16 titik kejadian karhutla di wilayah Palangka Raya yang tersebar di Kelurahan Bukit Tunggal, Petuk Katimpun, Menteng, Kereng Bangkirai, Kalampangan, dan Kameloh Baru. Sebagian besar lokasi seperti Jalan Hiu Putih Lanjutan, Jalan Damang Gustav Erang, Jalan Lingkar Luar (Mahir Mahar km 8), hingga area PT Palmindo Gemilang Kencana masih belum tuntas dipadamkan.

Memasuki hari Sabtu, potensi ancaman makin nyata setelah api menjalar ke dekat permukiman warga di Tegal Sari hingga kawasan Jalan Kalibata. Kondisi tersebut memicu kepanikan warga sekitar yang khawatir rumah mereka turut dilahap si jago merah.

Advertisement

Hambatan Lahan Gambut dan Krisis Sumber Air

Petugas gabungan dari BPBD Kota Palangka Raya, BPBD Provinsi Kalteng, Manggala Agni, Dinas Kehutanan, Damkar, TNI/Polri, Satpol PP, hingga belasan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) swadaya terus diterjunkan ke lokasi. Kendati demikian, tim di lapangan mengahadapi sejumlah kendala teknis:

  • Karakteristik Lahan Gambut: Pemadaman pada tanah gambut memerlukan pembasahan mendalam hingga tergenang air. Jika tidak, api bawah tanah (ground fire) akan terus menyala dan sewaktu-waktu muncul kembali ke permukaan.
  • Krisis Sumber Air: Tidak adanya hujan selama kurang lebih tiga minggu menyebabkan sumber-sumber air di sekitar lokasi kejadian mengering.
  • Banyaknya Titik Api: Tersebarnya titik api secara bersamaan memaksa petugas memprioritaskan pemadaman pada “kepala api” (head fire) untuk menjinakkan penjalaran sebelum berpindah ke lokasi lain.

Langkah Taktis dan Penambahan Personel

Menanggapi keterbatasan personel dan kekeringan sumber air, Satgas Gabungan mengambil sejumlah langkah penanganan:

  • Suplai Air Estafet: Mengandalkan truk tangki pemadam kebakaran untuk menyuplai air secara berantai ke embung-embung buatan dekat titik api.
  • Pembuatan Sumur Bor: Pemasangan sumur bor di lokasi strategis seperti kawasan Gustav Erang dan Kameloh Baru oleh Manggala Agni dan Dinas Kehutanan atas arahan Gubernur Kalteng.
  • Penguatan Relawan: Menambah sedikitnya 6 regu relawan baru untuk memperkuat jajaran petugas pemadaman darat.

Pihak BPBD mengimbau masyarakat, khususnya para pemilik lahan, untuk meningkatkan kewaspadaan serta melakukan tindakan awal pemadaman sebelum api membesar dan berakibat lebih fatal.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja