Estimasi waktu baca: 3 menit

Remaja 17 Tahun Meninggal akibat Gagal Napas Akut

CYRUSTIMES, TAMIANG LAYANG – Seorang remaja berusia 17 tahun asal Kelurahan Taniran, Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah (Kalteng), meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan mendapatkan penanganan di IGD RSUD Tamiang Layang, Minggu (20/9/2026) dini hari.

Korban bernama Ronan Giovinco. Berdasarkan keterangan Kepala Dinas Kesehatan Barito Timur dr. Jimmi W.S. Hutagalung yang diberitakan sejumlah media lokal, diagnosis dokter menyebut korban mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau gagal napas akut. 

Peristiwa tersebut terjadi ketika Barito Timur masih menghadapi karhutla dan kabut asap dengan kualitas udara di sejumlah wilayah berada pada kategori Berbahaya.

Namun, Dinas Kesehatan Barito Timur tidak menyatakan kabut asap sebagai penyebab langsung kematian korban. Karena itu, hubungan antara paparan asap karhutla dengan meninggalnya Ronan tidak dapat disimpulkan tanpa pemeriksaan dan keterangan medis lebih lanjut. 

Sempat Batuk dan Pilek Sepekan Sebelumnya

Berdasarkan keterangan Jimmi, Ronan sempat mengalami batuk dan pilek sekitar satu pekan sebelum meninggal. Keluhan tersebut disebut telah sembuh dan korban dilaporkan tidak memiliki riwayat asma maupun alergi. 

Pada Jumat (18/9/2026), Ronan mulai mengalami demam dan merasa tidak enak badan, meski masih dapat menjalankan aktivitas seperti biasa.

Kondisinya kemudian menurun pada Sabtu (19/9/2026). Memasuki Minggu sekitar pukul 02.00 WIB, Ronan mengalami sesak napas sehingga keluarga membawanya ke IGD RSUD Tamiang Layang.

Setelah mendapatkan penanganan medis, Ronan dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 03.55 WIB. Diagnosis yang disampaikan Dinkes adalah ARDS atau gagal napas akut. 

Dinkes: Kabut Asap Bisa Memengaruhi Pernapasan

Jimmi menjelaskan kondisi udara yang dipengaruhi kabut asap dapat memengaruhi pernapasan, terutama terhadap seseorang yang sebelumnya telah mengalami keluhan pada saluran pernapasan.

“Pasien batuk terlebih dahulu. Dengan adanya situasi kabut asap sekarang, bisa memengaruhi pernapasan pasien,” kata Jimmi sebagaimana diberitakan Seputar Borneo. 

Keterangan tersebut penting dibedakan dari penetapan penyebab kematian. Dinkes Barito Timur tidak menyatakan Ronan meninggal secara langsung akibat kabut asap karhutla. Keterangan medis yang disampaikan adalah gagal napas dengan diagnosis ARDS. 

Dinkes kemudian mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan batuk, sesak napas, tubuh yang semakin lemah maupun kesulitan bernapas selama kualitas udara masih buruk.

ISPU Benua Lima Tercatat 924

Kematian remaja tersebut terjadi ketika kondisi kualitas udara Barito Timur berada pada tingkat yang sangat buruk.

Data Dashboard Karhutla BPBD Damkar Barito Timur yang diberitakan pada 20 September menunjukkan rata-rata ISPU selama tujuh hari terakhir mencapai 761,3, atau berada pada kategori Berbahaya. 

Bahkan, seluruh 10 kecamatan yang tercantum dalam pembaruan dashboard pada 20 September dilaporkan berada pada kategori Berbahaya.

Benua Lima, kecamatan tempat Kelurahan Taniran berada, tercatat memiliki ISPU 924. Sementara angka tertinggi dilaporkan berada di Dusun Timur dengan ISPU 1.706, disusul Raren Batuah 1.518 dan Dusun Tengah 1.203. 

Angka tersebut merupakan nilai indeks ISPU, bukan konsentrasi PM2.5 atau PM10 dalam satuan µg/m³.

606 Kejadian Karhutla, 827 Hektare Terbakar

Tekanan terhadap kualitas udara terjadi bersamaan dengan tingginya kejadian karhutla.

Dashboard BPBD Damkar Barito Timur yang dikutip media lokal mencatat hingga Minggu (20/9/2026) terdapat 606 kejadian karhutla, dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 827 hektare. 

Pemerintah Kabupaten Barito Timur sendiri telah menetapkan Status Tanggap Darurat Karhutla sejak 24 Agustus hingga 30 September 2026. Pemerintah daerah juga memetakan enam posko dan menggeser kekuatan personel lebih dekat ke daerah yang memiliki tingkat kejadian kebakaran tinggi. 

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur Parluhutan Tampubolon mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara berada pada kategori Berbahaya serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. 

Kasus tersebut sekaligus menjadi pengingat agar keluhan pernapasan tidak dianggap ringan di tengah paparan kabut asap yang masih berlangsung.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja