Estimasi waktu baca: 5 menit

Hotspot Kalteng Melonjak 1.035 Titik, Kabut Asap Belum Reda

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menunjukkan perkembangan mengkhawatirkan. Data terbaru pemerintah mencatat lonjakan signifikan titik panas atau hotspot, sementara kabut asap masih berdampak terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat hingga aktivitas penerbangan.

Berdasarkan pembaruan resmi Kementerian Kehutanan pada Minggu (20/9/2026), Kalteng menjadi daerah dengan peningkatan hotspot high confidence paling signifikan dan kini menjadi fokus utama penguatan operasi pengendalian karhutla.

Hotspot Kalteng Melonjak Menjadi 1.035 Titik

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP dan NOAA-20 mencatat hingga Sabtu (19/9/2026) pukul 23.59 WIB terdapat 1.323 hotspot kategori high confidence secara nasional.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.035 hotspot berada di Kalteng.

Angka nasional meningkat sebanyak 777 titik, dari 546 hotspot pada Jumat (18/9/2026) menjadi 1.323 hotspot pada Sabtu.

Selain Kalteng, hotspot high confidence tercatat sebanyak 112 titik di Sumatera Selatan, 107 titik di Kalimantan Barat, 55 titik di Kalimantan Selatan dan 14 titik di Jambi.

Dengan demikian, sekitar 78 persen hotspot high confidence nasional pada pemantauan tersebut berada di Kalteng.

Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit dan tidak serta-merta berarti satu hotspot mewakili satu kejadian kebakaran.

Kalteng Jadi Fokus Utama Pengendalian Karhutla

Lonjakan tersebut membuat Kalteng menjadi salah satu fokus utama operasi pemerintah.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat patroli dan groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up hingga pendinginan.

Pengendalian dari udara juga dilakukan melalui patroli udara, helikopter water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menyesuaikan kondisi meteorologis.

Secara keseluruhan sebanyak 55 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla di Sumatera dan Kalimantan, meliputi helikopter patroli, pesawat CASA untuk OMC serta helikopter water bombing.

Kabut Asap Masih Selimuti Kalteng

Lonjakan hotspot terjadi ketika sejumlah wilayah Kalteng masih menghadapi kabut asap dengan kualitas udara yang memburuk.

Berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) pada Minggu (20/9/2026) pukul 14.37 WIB, sejumlah titik pemantauan di Kalteng telah berada pada kategori Berbahaya.

Angka tertinggi tercatat di Kabupaten Murung Raya dengan ISPU 1.933 dan parameter kritis PM2.5. Kemudian Barito Selatan–Sanggu mencapai 1.000 dengan parameter PM10, Kabupaten Kapuas 566 dengan PM10, Mobile AQMS BPBD Kalteng 442 dengan PM10, serta Kabupaten Kotawaringin Timur 435 dengan PM10.

Seluruh angka tersebut telah melampaui batas ISPU 300 yang masuk kategori Berbahaya. Data terbaru ini menunjukkan tekanan pencemaran udara akibat kabut asap masih sangat tinggi di sejumlah wilayah Kalteng.

Jarak Pandang Sempat Hanya 700 Meter di Palangka Raya

Kabut asap juga menyebabkan penurunan jarak pandang di sejumlah wilayah.

Berdasarkan data BMKG yang dikutip dalam laporan perkembangan karhutla, jarak pandang sebelumnya tercatat hanya sekitar 700 meter di Palangka Raya.

Kondisi lebih buruk terjadi di Buntok dan Muara Teweh dengan jarak pandang sekitar 200 meter, Sampit sekitar 500 meter, sedangkan Pangkalan Bun sekitar 1,5 kilometer.

Penurunan jarak pandang kemudian berdampak langsung terhadap transportasi udara.

10 Penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Dibatalkan

Dampak kabut asap semakin terasa di Bandar Udara Tjilik Riwut Palangka Raya.

Pada Sabtu malam (19/9/2026), sebanyak 10 penerbangan dilaporkan dibatalkan akibat jarak pandang yang berada di bawah batas minimum keselamatan operasional.

Selain pembatalan, sejumlah penerbangan juga mengalami penundaan keberangkatan hingga pengalihan pendaratan karena jarak pandang berubah-ubah dan sangat terbatas pada jam tertentu.

Kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla kini tidak hanya menyentuh lingkungan dan kesehatan, tetapi juga mulai mengganggu konektivitas transportasi masyarakat.

Lebih dari 91 Ribu Kasus ISPA Tercatat

Dampak kesehatan juga menjadi perhatian serius.

Berdasarkan Laporan Harian SIRINE Pos Komando Darurat Bencana Karhutla per 18 September 2026, secara kumulatif tercatat 91.342 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kalimantan Tengah.

Selain itu tercatat 22.533 kasus diare. Pemerintah juga telah menyiapkan 169 lokasi rumah oksigen, sementara sembilan kabupaten/kota disebut telah menerapkan pembelajaran jarak jauh bagi sekolah terdampak kabut asap.

Di Palangka Raya, Puskesmas Menteng juga menyiagakan ruang oksigen selama 24 jam menyusul kabut asap dan peningkatan kasus ISPA.

BMKG: Kondisi Atmosfer Masih Mendukung Risiko Karhutla

Ancaman karhutla belum sepenuhnya mereda.

BMKG dalam prospek cuaca periode 18–24 September 2026 menyebut El Niño kategori sangat kuat masih berdampak bersamaan dengan musim kemarau.

Kondisi tersebut menyebabkan atmosfer lebih kering, tutupan awan minim dan peningkatan suhu permukaan. Sebagian Kalimantan bagian selatan juga mengalami Hari Tanpa Hujan kategori ekstrem lebih dari 60 hari berturut-turut.

BMKG mencatat pada periode 7–16 September 2026 konsentrasi hotspot high confidence terbanyak berada di Kalteng dengan 3.177 deteksi, disusul Sumatera Selatan 1.305, Kalimantan Barat 1.088 dan Papua Selatan 960. Angka ini merupakan akumulasi deteksi dalam periode tersebut sehingga berbeda dengan angka harian SiPongi 1.035 hotspot pada 19 September.

Meski demikian, peluang hujan belum sepenuhnya tertutup. BMKG sebelumnya memprakirakan Kalteng termasuk wilayah yang berpotensi mengalami hujan pada periode 18–20 September. Untuk 20 September, tabel peringatan dini tiga harian BMKG tidak menempatkan Kalimantan Tengah dalam kategori waspada hujan sedang-lebat, sementara potensi tersebut kembali tercantum untuk 21 September.

Pemadaman dan Perlindungan Masyarakat Terus Diperkuat

Dengan lonjakan hotspot terbaru, operasi pengendalian karhutla di Kalteng kini memasuki fase penting.

Pemadaman darat dan udara, pembasahan lahan gambut, pendinginan bekas kebakaran hingga patroli perlu terus dilakukan untuk mencegah munculnya titik api baru.

Di sisi lain, kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah daerah membuat perlindungan kesehatan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan karhutla.

Perkembangan terbaru menunjukkan belum terdapat indikator kuat bahwa situasi karhutla Kalteng telah membaik secara menyeluruh. Sebaliknya, lonjakan hotspot menjadi peringatan bahwa risiko kebakaran masih tinggi di tengah kondisi atmosfer yang relatif kering.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja