Estimasi waktu baca: 5 menit

Karhutla Kalteng, Kabut Asap, Langit Merah dan Siang Seperti Malam

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA Krisis kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menjadi sorotan setelah kabut asap semakin pekat dan memburuk di sejumlah wilayah. Warganet ramai membagikan visual langit yang berubah merah-oranye, cahaya matahari yang tertutup asap, hingga suasana siang yang terasa seperti menjelang malam.

Sorotan itu muncul bersamaan dengan lonjakan indikator resmi karhutla. Kementerian Kehutanan mencatat 1.035 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence di Kalimantan Tengah hingga Sabtu (19/9/2026) pukul 23.59 WIB, melonjak dari 166 titik sehari sebelumnya. Secara nasional terdapat 1.323 hotspot high confidence. 

Kondisi kabut asap juga telah menekan jarak pandang dan aktivitas penerbangan di Palangka Raya. Pada Sabtu, jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut sempat turun hingga hanya sekitar 350 meter. 

“Ini Masih di Dunia, Kan?”

Salah satu unggahan yang ramai menjadi perhatian berasal dari akun Threads @delefia.

Dalam unggahan tersebut, pemilik akun membagikan video dengan keterangan “Kalteng, 14:38 WIB”, disertai tagar #karhutla2026 dan #karhutla.

“Udah ga bisa berkata-kata,” tulis akun tersebut.

Dalam video, terdapat pula tulisan:

“Ini masih di dunia, kan?”

Visual yang dibagikan memperlihatkan suasana luar ruangan didominasi warna merah-oranye. Langit, halaman hingga bangunan tampak terselimuti warna kemerahan yang pekat meski waktu yang dicantumkan masih menunjukkan pukul 14.38 WIB.

Berdasarkan tangkapan layar unggahan yang diterima Cyrustimes, postingan tersebut telah mendapatkan sekitar 57,6 ribu tanda suka, 3,7 ribu komentar, 13,8 ribu repost, dan 6,3 ribu kali dibagikan.

Unggahan itu menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Kalteng merasakan langsung perubahan suasana akibat kabut asap karhutla terus memburuk.

Namun, unggahan hanya mencantumkan lokasi “Kalteng” tanpa menyebut kabupaten atau kota secara spesifik. Karena itu, lokasi persis video belum dapat dipastikan.

Siang Terasa Seperti Malam

Keluhan mengenai suasana siang yang terasa gelap juga muncul dari berbagai wilayah terdampak.

Ketika konsentrasi asap sangat pekat, cahaya matahari yang mencapai permukaan dapat berkurang sehingga lingkungan terlihat lebih redup.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika jarak pandang juga menurun drastis.

Di Palangka Raya, jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut pada Sabtu memburuk secara bertahap, dari 1.300 meter pukul 05.00 WIB menjadi 700 meter pukul 06.00 WIB, 400 meter pukul 09.00 WIB dan mencapai 350 meter pukul 09.30 WIB. 

Situasi tersebut bahkan menyebabkan sejumlah penerbangan dibatalkan maupun ditunda.

Pada perkembangan berikutnya, sebanyak 10 penerbangan dilaporkan batal beroperasi di Bandara Tjilik Riwut pada Sabtu malam akibat jarak pandang berada di bawah batas minimum keselamatan. 

Mengapa Langit Bisa Berubah Merah?

Fenomena langit dan matahari kemerahan di tengah kabut asap sebelumnya juga pernah terjadi di Palangka Raya.

Pada 20 Agustus 2026, matahari di Palangka Raya terlihat berwarna merah pekat di balik kabut asap.

Prakirawan BMKG Palangka Raya, Chandra, menjelaskan partikel asap di atmosfer dapat memengaruhi cahaya matahari yang sampai ke permukaan bumi.

Menurut BMKG, ketika cahaya melewati atmosfer yang dipenuhi partikel, sebagian panjang gelombang cahaya tersebar sehingga warna merah dapat terlihat lebih dominan, khususnya ketika posisi matahari lebih rendah. 

Namun, hal tersebut tidak berarti setiap foto atau video langit berwarna merah otomatis memiliki penyebab identik.

Warna yang tertangkap kamera juga dapat dipengaruhi waktu pengambilan gambar, posisi matahari, ketebalan asap, kondisi awan, sumber cahaya sekitar hingga pengaturan kamera.

Karena itu, visual dari media sosial sebaiknya dipandang sebagai gambaran kondisi lapangan, sedangkan tingkat pencemaran tetap harus merujuk pada pengukuran resmi.

ISPU Sejumlah Daerah Kalteng Berbahaya

Data kualitas udara resmi menunjukkan kabut asap memang berada pada tingkat serius di beberapa daerah.

Berdasarkan Laporan Harian SIRINE Pos Komando Darurat Bencana Karhutla, pemantauan ISPU pada 17 September mencatat Gunung Mas sebesar 423 dan Murung Raya 409, keduanya masuk kategori Berbahaya.

Sementara Mobile AQMS BPBD Kalteng di Palangka Raya mencatat ISPU 251, masuk kategori Sangat Tidak Sehat. PM2.5 menjadi parameter kritis pada pemantauan tersebut. 

Kondisi itu memperlihatkan bahwa keluhan masyarakat tentang langit yang menggelap dan asap yang semakin tebal memiliki konteks kuat dari sisi kualitas udara.

91 Ribu Kasus ISPA Tercatat

Dampak kesehatan juga semakin besar.

Laporan SIRINE per 18 September 2026 mencatat 91.342 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA secara kumulatif di seluruh Kalimantan Tengah. Selain itu tercatat 22.533 kasus diare. 

Pada pekan kedua September saja terdapat tambahan 5.512 kasus ISPA.

Pemerintah juga menyiapkan 169 rumah oksigen, sementara sejumlah kabupaten/kota menerapkan pembelajaran jarak jauh akibat kualitas udara yang memburuk. 

Angka tersebut merupakan jumlah kasus yang tercatat selama periode pelaporan dan tidak berarti seluruh kasus otomatis disebabkan karhutla. Namun peningkatan gangguan pernapasan berlangsung ketika paparan asap juga sedang tinggi.

Asap Mulai Masuk Rumah Warga

Keluhan masyarakat juga muncul dari wilayah Kotawaringin Barat.

Warga Pangkalan Bun sebelumnya mengaku kabut asap tidak lagi hanya terlihat pada pagi hari, tetapi mulai bertahan hingga siang dan sore.

Asap bahkan dilaporkan masuk ke dalam rumah.

Seorang warga Kelurahan Sidorejo mengatakan anggota keluarganya mulai mengalami batuk dan pilek ketika asap semakin pekat dalam sepekan terakhir. 

Kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla kini semakin dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat.

Hotspot Kalteng Melonjak Tajam

Perkembangan paling signifikan datang dari data hotspot.

Kementerian Kehutanan mencatat jumlah hotspot high confidence nasional hingga 19 September mencapai 1.323 titik, naik 777 titik dari sehari sebelumnya.

Kalimantan Tengah menyumbang 1.035 hotspot high confidence, atau sekitar 78 persen dari total nasional pada periode tersebut. 

Lonjakan tersebut membuat Kalteng menjadi fokus utama penguatan pengendalian karhutla.

Operasi darat, water bombing, patroli udara, pembasahan dan pendinginan lahan terus ditingkatkan. 

Hotspot sendiri merupakan anomali panas yang terdeteksi satelit dan bukan berarti satu hotspot sama dengan satu kejadian kebakaran. Namun lonjakan jumlah deteksi tetap menjadi indikator penting meningkatnya aktivitas panas di permukaan.

Langit Merah Jadi Potret Krisis Asap

Unggahan warganet dengan kalimat “Ini masih di dunia, kan?” memperlihatkan bagaimana ekstremnya kondisi visual yang dirasakan masyarakat ketika asap menebal.

Namun, data resmi memberikan gambaran yang lebih luas.

Hotspot Kalteng melonjak menjadi lebih dari seribu titik, kualitas udara sejumlah wilayah masuk kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, jarak pandang turun hingga ratusan meter, puluhan ribu kasus ISPA tercatat, dan penerbangan mulai terganggu.

Dengan kondisi tersebut, visual langit yang memerah dan suasana siang yang terasa gelap bukan sekadar fenomena media sosial.

Ia menjadi bagian dari gambaran krisis karhutla yang kian memburuk kini berdampak pada kesehatan, pendidikan, transportasi dan aktivitas masyarakat Kalteng.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja