Estimasi waktu baca: 5 menit

Kalteng Sumbang 55 Persen Titik Panas

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah (Kalteng) menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak di Indonesia sepanjang 1–14 September 2026. Analisis Pantau Gambut mencatat 77.311 titik panas di Kalteng, atau sekitar 55 persen dari total 139.378 titik panas secara nasional selama periode tersebut. 

Temuan tersebut tertuang dalam lembar fakta Pantau Gambut bertajuk “Titik Panas Turun Tapi Belum Mereda di Tengah September” yang diterbitkan di Jakarta, Senin (21/9/2026). Data yang digunakan mencakup periode 1–14 September 2026 dan masih bersifat berjalan. 

Dari 77.311 titik panas di Kalteng, sebanyak 31.022 titik atau 40,1 persen terdeteksi di lima blok bekas area Food Estate. Blok C menjadi kawasan dengan jumlah terbesar, yakni mencapai 18.082 titik panas. 

Kalteng dan Kalbar Kuasai 78 Persen Titik Panas Nasional

Pantau Gambut mencatat total 139.378 titik panas di Indonesia selama 1–14 September, atau rata-rata sekitar 9.955 titik per hari.

Kalimantan Tengah berada di posisi teratas dengan 77.311 titik atau 55 persen, disusul Kalimantan Barat sebanyak 31.595 titik atau 23 persen.

Dengan demikian, Kalteng dan Kalbar secara bersama-sama menyumbang sekitar 78 persen titik panas nasional dalam periode tersebut.

Di bawah kedua provinsi itu terdapat Sumatera Selatan dengan 14.391 titik, Papua Selatan 4.875 titik, Kalimantan Selatan 3.364 titik, dan Riau 2.144 titik. 

Pantau Gambut menjelaskan data tersebut dihimpun dari sejumlah instrumen satelit. Sekitar 61 persen deteksi berasal dari VIIRS, 32 persen SNPP dan 8 persen MODIS. Sekitar 90 persen berada pada tingkat keyakinan atau confidence nominal. 

Perbedaan metodologi perlu diperhatikan ketika membandingkan angka tersebut dengan data hotspot harian pemerintah.

Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta sama dengan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa deteksi hotspot sehingga diperlukan verifikasi lapangan. 

31.022 Titik Panas di Bekas Area Food Estate Kalteng

Salah satu temuan yang menjadi sorotan dalam laporan Pantau Gambut adalah konsentrasi titik panas di kawasan bekas Food Estate Kalimantan Tengah.

Dari 77.311 titik panas di seluruh Kalteng, sebanyak 31.022 titik tersebar pada lima blok bekas proyek tersebut.

Jumlah itu setara sekitar 40,1 persen dari seluruh titik panas yang dicatat Pantau Gambut di Kalimantan Tengah selama 1–14 September.

Blok C menjadi yang terbanyak dengan 18.082 titik panas. 

Temuan tersebut menunjukkan konsentrasi spasial hotspot, tetapi tidak dengan sendirinya menunjukkan penyebab kebakaran ataupun pihak yang bertanggung jawab. Penentuan penyebab memerlukan pemeriksaan dan verifikasi di lapangan.

57 Persen Titik Panas Berada di Fungsi Lindung Gambut

Temuan lain terdapat pada sebaran titik panas berdasarkan klasifikasi fungsi ekosistem gambut.

Dari 139.378 titik panas nasional yang dianalisis hingga 14 September, 79.383 titik atau 57 persen berada di area dengan fungsi ekosistem gambut lindung.

Sementara 59.995 titik atau 43 persen tercatat pada area budidaya. Menurut Pantau Gambut, proporsi tersebut konsisten sejak Agustus. 

Kondisi gambut menjadi perhatian dalam pengendalian karhutla karena kebakaran dapat menjalar pada lapisan bawah permukaan sehingga lebih sulit dideteksi dan dipadamkan.

BMKG dalam prakiraan periode 18–24 September juga menyatakan kondisi atmosfer kering meningkatkan potensi karhutla dan meluasnya kabut asap. Dalam pemantauan 7–16 September, BMKG mencatat konsentrasi hotspot high confidence paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 3.177 titik. 

Titik Panas Juga Terdeteksi di Area Konsesi

Pantau Gambut turut memetakan titik panas pada area konsesi perkebunan atau HGU.

Dalam laporan tersebut, jumlah tertinggi pada area HGU tercatat di PT Central Sejahtera Sukses di Kalimantan Tengah sebanyak 2.179 titik, disusul PT Damai Agro Sejahtera di Kalimantan Barat sebanyak 1.991 titik dan PT Kayung Agro Lestari sebanyak 1.730 titik.

Area HGU PT Arjuna Utama Sawit di Kalimantan Tengah tercatat 1.294 titik, sedangkan PT Mekar Karya Kahuripan di Kalimantan Barat 1.274 titik. 

Untuk konsesi kehutanan atau PBPH, laporan mencatat PT Mohairson Pawan Khatulistiwa di Kalimantan Barat sebanyak 3.126 titik, PT Mayawana Persada 1.767 titik, PT Bumi Mekar Hijau 884 titik, PT Rimba Raya Conservation di Kalteng 491 titik, dan PT Sumatera Alam Anugerah 409 titik. 

Penting dicatat, keberadaan hotspot dalam suatu konsesi tidak otomatis membuktikan bahwa pemegang konsesi menyebabkan atau melakukan pembakaran. Data tersebut menunjukkan lokasi deteksi dan masih memerlukan verifikasi lapangan serta pemeriksaan oleh instansi berwenang untuk menentukan kejadian, penyebab maupun pertanggungjawaban hukumnya.

Data Pemerintah Juga Tunjukkan Tekanan Karhutla Tinggi

Tingginya aktivitas hotspot pada pertengahan September juga terlihat dalam data pemerintah, meski metodologi dan kategori datanya berbeda.

SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat pada 14 September pukul 21.05 WIB terdapat 689 hotspot high confidence di Kalteng, melonjak dari 89 titik sehari sebelumnya. Secara nasional saat itu terdapat 1.437 hotspot high confidence. 

Sebelumnya, pada 13 September, Kemenhut mencatat 89 hotspot high confidence di Kalteng, turun dari 197 titik pada pemantauan sebelumnya. Fluktuasi tajam tersebut menunjukkan jumlah hotspot harian dapat berubah cepat. 

Karena itu, angka Pantau Gambut 77.311 titik selama 1–14 September tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan angka hotspot high confidence harian SiPongi. Keduanya menggunakan cakupan periode dan klasifikasi deteksi yang berbeda.

BMKG: Kondisi Kering Masih Tingkatkan Risiko Karhutla

Ancaman kebakaran belum sepenuhnya mereda.

BMKG menyatakan El Niño masih berada pada kategori sangat kuat. Dalam prakiraan cuaca 18–24 September 2026, kondisi atmosfer kering disebut meningkatkan potensi karhutla sekaligus penyebaran kabut asap di sejumlah wilayah Indonesia. 

Namun terdapat peluang perubahan cuaca. Dalam peringatan tiga harian yang tersedia pada 21 September, BMKG menempatkan Kalimantan Tengah pada status waspada hujan sedang hingga lebat pada 21 dan 22 September 2026. 

Kondisi tersebut menjadi faktor penting dalam perkembangan karhutla Kalteng setelah sejumlah wilayah mengalami kemarau panjang, kebakaran gambut dan kabut asap selama beberapa pekan terakhir.

Di tengah upaya pemadaman darat, pemerintah juga telah menggunakan operasi udara dan Operasi Modifikasi Cuaca. Hingga 11 September, Kemenhut melaporkan OMC di Kalteng telah dilakukan sebanyak tujuh sortie menggunakan 5.600 kilogram NaCl, dengan estimasi volume air hujan sekitar 22,9 juta meter kubik. 

Data terbaru Pantau Gambut sekaligus memperlihatkan besarnya tekanan karhutla di Kalimantan Tengah pada paruh pertama September. Perkembangan setelah 14 September perlu dibaca bersama data hotspot terbaru pemerintah, luas kebakaran terverifikasi, kualitas udara, kondisi asap serta hasil pemeriksaan lapangan.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja