Estimasi waktu baca: 3 menit

Sebagian besar wilayah Kalteng diperkirakan lebih kering dari normal, potensi tinggi terjadi Karhutla.

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali mengintai Kalimantan Tengah (Kalteng) saat musim kemarau 2026. Lahan gambut menjadi salah satu titik paling rawan karena dapat terbakar cepat ketika kering dan sulit dipadamkan saat api sudah masuk ke lapisan bawah tanah.

BMKG Kalteng memprediksi awal musim kemarau 2026 di wilayah Kalteng berkisar pada Mei hingga Juni. Jika dibandingkan rata-rata 30 tahun periode 1991–2020, awal kemarau 2026 di hampir seluruh zona musim Kalimantan Tengah diprediksi maju dari normalnya.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah, perusahaan, dan masyarakat. Terlebih, BMKG juga memprediksi sifat musim kemarau di sebagian besar wilayah Kalteng berada pada kategori bawah normal, yang berarti lebih kering dari biasanya.

Gambut Kering Mudah Terbakar

Lahan gambut memiliki karakter berbeda dengan tanah mineral. Ketika permukaannya tampak padam, api masih bisa merambat di bawah tanah. Kondisi ini membuat kebakaran gambut lebih sulit dikendalikan dan berpotensi menimbulkan asap pekat dalam waktu lama.

Karena itu, menjaga gambut tetap basah menjadi langkah penting. Pencegahan tidak bisa menunggu api muncul. Pemerintah, korporasi, dan masyarakat perlu memastikan tata kelola air di kawasan gambut berjalan sejak awal kemarau.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup atau KLH/BPLH juga mendorong penguatan infrastruktur pengendalian karhutla di wilayah gambut. Upaya tersebut meliputi perbaikan tata kelola air, pembangunan sekat kanal, serta penyediaan sumber air seperti sumur bor dan embung.

Titik Panas Nasional Meningkat

Kewaspadaan terhadap karhutla 2026 juga diperkuat oleh tren nasional. KLH mencatat hingga 5 April 2026 terdapat 700 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Jumlah itu meningkat hampir tiga kali lipat dibanding periode yang sama sejak awal Januari 2025.

Luas lahan yang terbakar hingga Februari 2026 juga telah mencapai 32.637,48 hektare. Angka itu melonjak sekitar 20 kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan karhutla tidak boleh dipandang sebagai rutinitas musiman. Jika pencegahan terlambat, kebakaran dapat meluas, menimbulkan kabut asap, mengganggu kesehatan warga, menghambat aktivitas ekonomi, dan merusak ekosistem.

Kalteng Perlu Mitigasi Dini Karhutla

Pemprov Kalteng sebelumnya menyatakan memperkuat antisipasi karhutla menghadapi musim kemarau 2026. BMKG Kalteng menyebut curah hujan pada Juni hingga Agustus 2026 diperkirakan mulai menurun menjadi kategori menengah hingga rendah, dengan sifat hujan umumnya bawah normal hingga normal.

Mitigasi dini menjadi kunci. Patroli kawasan rawan, pemantauan titik panas, kesiapan posko, pengecekan embung, sumur bor, sekat kanal, serta peralatan pemadaman harus dilakukan sebelum api muncul.

Di tingkat desa, warga perlu menghindari pembukaan lahan dengan cara membakar. Sementara perusahaan perkebunan dan kehutanan wajib memastikan area konsesi tidak menjadi sumber api, termasuk menjaga kanal, sumber air, dan kesiapan regu pemadam internal.

Jangan Tunggu Kabut Asap

Karhutla di Kalteng tidak hanya berdampak pada lokasi terbakar. Asap dapat menyebar jauh, mengganggu kesehatan anak-anak, lansia, ibu hamil, dan warga dengan penyakit pernapasan.

Sekolah, fasilitas kesehatan, transportasi, dan kegiatan ekonomi juga bisa terganggu ketika kualitas udara memburuk. Karena itu, pencegahan harus dilakukan sejak fase kering mulai terlihat.

BMKG secara nasional juga mengingatkan potensi cuaca lebih kering pada 2026 sehingga kewaspadaan terhadap karhutla perlu ditingkatkan.

Gambut Basah, Risiko Berkurang

Menjaga gambut tetap basah bukan sekadar urusan teknis lingkungan. Langkah itu menyangkut perlindungan kesehatan publik, keselamatan warga, dan keberlanjutan ekonomi daerah.

Sekat kanal, embung, sumur bor, patroli rutin, dan larangan membakar lahan perlu dijalankan secara konsisten. Pemerintah daerah juga perlu memastikan koordinasi lintas instansi tidak hanya aktif saat api sudah membesar.

Kalimantan Tengah memiliki pengalaman panjang menghadapi karhutla. Karena itu, musim kemarau 2026 seharusnya menjadi momentum memperkuat pencegahan dari hulu: menjaga gambut tetap basah, memastikan perusahaan bertanggung jawab, dan melibatkan warga sebagai penjaga pertama lingkungan sekitar.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.