OPINI, EKONOMI MAKRO – Ketika harga naik pelan-pelan tapi dampaknya terasa cepat. Dampak kenaikan harga bertahap terhadap daya beli masyarakat dan persepsi ekonomi rumah tangga di Indonesia pada tahun 2026.

Pertanyaan itu muncul di akhir bulan, di rumah-rumah dari Sabang sampai Marauke: Mengapa uang belanja terasa lebih cepat habis, padahal pola pengeluaran tidak banyak berubah? Bukan sekedar perasaan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia mencapai 3,48% pada Maret 2026, hampir tiga kali lipat dibanding periodee yang sama tahun lalu yang hanya 1,03%.

Di atas kertas, angka itu masih berada dalam target pemerintah. Tapi bagi ibu yang tiap pagi harus memilih antara membeli telur atau bayar listrik, statistik tidak selalu berbicara tentang kenyataan yang ia hadapi. Inflasi bekerja diam-diam, naik pelan-pelan, tapi efeknya menumpuk dan baru terasa ketika sudah terlambat untuk diantisipasi.

Tiga Bulan yang Berat: Januari-Maret 2026

Awal 2026 langsung membuka dengan kejutan. Inflasi Januari tercatat 3,55% tertinngi sejak Mei 2023. Februari melonjak jauh ke 4,76%, baru kemudian mereda pada Maret. Tiga bukan, tiga angka yang semanya lebih tinggi dari seluruh bulan sepanjang 2025.

Apa pemicunya? BPS menyebut  low-base effect: Diskon tarif listrik 50% yang diberlakukan pemerintah pada Januari-Februari 2025 membuat harga listrik saat itu sangat rendah. Begitu diskon berakhir dan tarif kembali normal di 2026, perbandingan tahunan otomatis memperlihatkan kenaikan yang besar. Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti bahkan menyebutkan, tanpa efek itu, inflasi Februari 2026 sebenarnya hanya 2,54%.