Para Ekonom Tidak Satu Suara
Menariknya, para ekonom sendiri tidak sepakat dalam membaca kondisi ini. Di satu sisi, hasil kajian yang melibatkan 85 ekonom dan dikutip ANTARA News (April 2026) menunjukkan mayoritas menilai kondisi ekonomi Indonesia sedang memburuk atau stagnan, pandangan yang berbeda dari narasi resmi pemerintah yang menekankan stabilitas.
Nailul Huda, Direktur Ekonomi dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS), menyoroti adanya anomali yang sulit diabaikan: Klaim pertumbuhan 5% tidak sejalan dengan data lapangan. Penjualan ritel lesu, Indeks Keyakinan Konsumen terus menurun, dan penerimaan pajak meleset dari target. CELIOS memproyeksikan pertumbuhan 2026 hanya kisaran 4,7-5% dengan risiko perlambatan lanjutan jika daya beli tidak segera dipulihkan.
INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) punya pandangan serupa. Dalam kajian proyeksi ekonomi 2026, lembaga ini menyebut lemahnya konsumsi rumah tangga yang tumbuh di bawah 5% sebagai hambatan utama pertumbuhan. Paradoksnya: Angka PDB tampak sehat, tapi masyarakat tidak merasakannya.
Namun tidak semua sependapat. Bank Indonesia tetap optimis dengan proyeksi pertumbuhan 5,1-5,6%, dan meyakini inflasi yang terkendali justru akan menjaga daya beli tetap kuat. Sebagian akademisi bahkan mengingatkan bahwa inflasi moderat bisa menjadi tanda positif: Aktivitas ekonomi yang bergerak, insentif bagi petani untuk meningkatkan produksi, dan roda UMKM yang terus berputar. Perbedaan pandangan ini mencerminkan bahwa membaca angka ekonomi memang tidak pernah sesederhana kelihatannya.

Tinggalkan Balasan