Pada mulanya, ekonomi lahir sebagai konsep untuk menciptakan kesejahteraan manusia. Namun dalam praktiknya, tidak semua aktivitas investasi dan industri benar-benar menghadirkan kemakmuran bagi masyarakat.
CYRUSTIMES, OPINI – Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, kehadiran industri justru dinilai memunculkan berbagai eksternalitas negatif yang membebani warga. Mulai dari polusi udara, kerusakan jalan akibat aktivitas kendaraan berat, terganggunya lalu lintas utama, hingga kecelakaan yang merenggut nyawa masyarakat di jalur logistik industri.
Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana sebagian korporasi tampil sebagai penguras sumber daya alam, tetapi meninggalkan dampak sosial dan lingkungan bagi masyarakat sekitar. Model bisnis ekstraktif semacam ini hanya memusatkan keuntungan kepada kelompok pemilik modal dan elite pengambil kebijakan, sementara kerugian sosial dibebankan kepada rakyat. Situasi tersebut dinilai tercermin dalam operasional PT Semen Imasco Asiatic di wilayah Jember Selatan.
Masyarakat menilai perusahaan menikmati keuntungan ekonomi dalam jumlah besar, tetapi tidak bertanggung jawab secara proporsional terhadap dampak yang ditimbulkan. Beban sosial, kerusakan lingkungan, hingga risiko keselamatan justru ditanggung masyarakat sekitar. Ketimpangan itu semakin terasa ketika anggaran daerah harus digunakan untuk memperbaiki jalan rusak akibat aktivitas truk industri yang melampaui kapasitas. Padahal, anggaran tersebut berasal dari pajak masyarakat seperti Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) serta Pajak Kendaraan Bermotor yang seharusnya dialokasikan untuk pelayanan publik. Dengan kata lain, rakyat secara tidak langsung menanggung biaya operasional industri melalui kerusakan fasilitas umum.
