Estimasi waktu baca: 6 menit

Seberapa Kuat Ekonomi Kalteng?

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Memasuki 81 tahun Indonesia merdeka, perekonomian Kalimantan Tengah (Kalteng) masih menunjukkan pertumbuhan positif. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang menentukan apakah pertumbuhan ekonomi Kalteng benar-benar semakin kuat dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Kalteng pada triwulan II 2026 tumbuh 3,53 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Dibandingkan triwulan sebelumnya, ekonomi daerah ini juga tumbuh 2,25 persen secara kuartalan (quarter-to-quarter/q-to-q). 

Advertisement

Dengan demikian, ekonomi Kalteng belum berada dalam kondisi stagnan. Aktivitas ekonomi tetap berkembang, tetapi struktur pertumbuhannya menunjukkan bahwa tantangan berikutnya bukan hanya mengejar angka pertumbuhan, melainkan memperkuat kualitas dan pemerataan pertumbuhan.

Ekonomi Kalteng Tumbuh 3,53 Persen

BPS mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kalteng atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp64,7 triliun. Sementara berdasarkan harga konstan 2010, nilainya mencapai Rp31,5 triliun. 

Pertumbuhan 3,53 persen secara tahunan menunjukkan aktivitas ekonomi Kalteng tetap bergerak dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Advertisement

Secara kuartalan, pertumbuhan 2,25 persen juga menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi dibandingkan triwulan I 2026. 

Namun, angka tersebut perlu dibaca bersama struktur ekonomi Kalteng. Di sinilah terlihat kekuatan sekaligus tantangannya.

Pertanian Masih Menjadi Tulang Punggung

Dari sisi lapangan usaha, Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan masih menjadi sektor dengan kontribusi terbesar terhadap ekonomi Kalteng, yakni 23,53 persen.

Berikutnya terdapat Industri Pengolahan sebesar 17,16 persen serta Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 12,68 persen.

Ketiga sektor tersebut secara bersama-sama menyumbang 53,37 persen terhadap PDRB Kalteng. 

Struktur ini menunjukkan Kalteng memiliki fondasi ekonomi yang kuat pada sektor berbasis sumber daya dan aktivitas perdagangan.

Advertisement

Namun, ketergantungan terhadap sektor primer juga menjadi tantangan. Nilai tambah yang lebih besar perlu diciptakan di dalam daerah agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari produksi dan pengiriman komoditas, tetapi juga dari proses pengolahan, industri, jasa dan rantai pasok yang menciptakan lapangan kerja lebih luas.

Ekspor Jadi Kekuatan Sekaligus Tantangan

Dari sisi pengeluaran, ekspor barang dan jasa menyumbang 57,44 persen terhadap struktur PDRB Kalteng pada triwulan II 2026.

Posisi berikutnya adalah konsumsi rumah tangga sebesar 36,63 persen, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) 35,49 persen, dan konsumsi pemerintah 10,88 persen. 

Besarnya kontribusi ekspor menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Kalteng sangat berkaitan dengan perdagangan dan permintaan dari luar daerah maupun luar negeri.

Ini merupakan kekuatan karena Kalteng mempunyai basis komoditas yang mampu menghasilkan penerimaan dari pasar eksternal.

Tetapi pada saat bersamaan, struktur tersebut membuat ekonomi daerah perlu memperhatikan perkembangan harga komoditas dan kondisi pasar global.

Advertisement

Ketika permintaan dan harga komoditas utama melemah, dampaknya dapat merembet ke sektor produksi, penerimaan daerah, investasi hingga pendapatan masyarakat.

Industri Pengolahan Perlu Diperkuat

Besarnya kontribusi industri pengolahan yang mencapai 17,16 persen menjadi salah satu modal penting bagi Kalteng untuk meningkatkan kualitas pertumbuhan ekonomi.

Kuncinya adalah bagaimana sektor industri dapat terus berkembang dan semakin banyak mengolah bahan baku yang berasal dari daerah.

Dengan hilirisasi, nilai ekonomi yang sebelumnya terbentuk di luar daerah dapat lebih banyak tercipta di Kalteng.

Dampaknya tidak hanya berupa peningkatan nilai produksi, tetapi juga dapat membuka lapangan pekerjaan, memperluas rantai pasok lokal dan meningkatkan penerimaan pemerintah.

Ada Sektor yang Tumbuh Tinggi

BPS mencatat pertumbuhan tahunan tertinggi dari sisi produksi pada triwulan II 2026 terjadi pada kategori Pengadaan Listrik dan Gas, yang tumbuh 13,50 persen.

Advertisement

Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi pemerintah, yang meningkat 4,02 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. 

Data tersebut menunjukkan pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari sektor komoditas, tetapi juga terdapat perkembangan pada sektor pendukung aktivitas ekonomi.

Meski demikian, pertumbuhan konsumsi pemerintah perlu diikuti dengan peningkatan investasi dan produktivitas sektor swasta agar pertumbuhan tidak terlalu bergantung pada belanja pemerintah.

Kalteng Masih Punya Tantangan Fiskal

Kekuatan ekonomi daerah juga berkaitan dengan kemampuan pemerintah daerah membiayai pembangunan.

Data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan menunjukkan pada 31 Maret 2026, realisasi pendapatan APBD Kalteng mencapai sekitar Rp3,71 triliun, dengan pendapatan transfer mencapai Rp3,09 triliun atau 81,62 persen dari total pendapatan daerah.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa transfer pemerintah pusat masih memegang peranan besar dalam struktur pendapatan daerah. 

Artinya, penguatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) tetap menjadi pekerjaan penting agar ruang fiskal Kalteng semakin mandiri.

Di sisi lain, realisasi belanja daerah hingga periode tersebut baru sekitar 10,93 persen dari pagu, sehingga percepatan belanja yang berkualitas juga menjadi perhatian. 

Pertumbuhan Harus Terasa di Masyarakat

Ukuran kekuatan ekonomi tidak cukup hanya dilihat dari PDRB.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pertumbuhan tersebut meningkatkan pendapatan, kesempatan kerja dan kesejahteraan masyarakat?

Data BPS menunjukkan tingkat pengangguran terbuka Kalteng pada Februari 2026 berada di angka 3,44 persen, turun 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2025. Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja mencapai 1,45 juta orang, dengan sektor pertanian menjadi penyerap tenaga kerja terbesar sebanyak sekitar 513 ribu orang atau 35,32 persen. 

Angka tersebut memperlihatkan besarnya peranan sektor pertanian bukan hanya terhadap PDRB, tetapi juga terhadap lapangan pekerjaan masyarakat Kalteng.

Kemiskinan Masih Menjadi Ukuran Penting

Indikator lain yang perlu diperhatikan adalah kemiskinan.

BPS mencatat persentase penduduk miskin Kalteng pada September 2025 sebesar 4,94 persen, turun 0,25 poin persentase dibandingkan Maret 2025. Jumlah penduduk miskin tercatat sekitar 141,75 ribu orang. 

Penurunan tersebut menjadi sinyal positif.

Namun, angka kemiskinan perdesaan masih berada pada 5,02 persen, lebih tinggi dibandingkan perkotaan sebesar 4,84 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa manfaat pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya merata antarwilayah. 

Di sisi ketimpangan, Gini Ratio Kalteng pada September 2025 tercatat 0,284, turun dari 0,292 pada Maret 2025. 

Jadi, Seberapa Kuat Ekonomi Kalteng?

Jika dilihat dari berbagai indikator, ekonomi Kalteng dapat disebut cukup resilien, tetapi belum sepenuhnya kuat secara struktural.

Pertumbuhan tetap positif. Sektor pertanian dan industri memberikan kontribusi besar. Ekspor menjadi mesin penting. Pengangguran menurun dan kemiskinan juga menunjukkan perbaikan.

Namun, masih terdapat beberapa tantangan yang harus dijawab.

Pertama, ketergantungan terhadap komoditas dan ekspor perlu diimbangi dengan diversifikasi ekonomi.

Kedua, hilirisasi harus menghasilkan nilai tambah yang lebih besar di dalam daerah.

Ketiga, PAD perlu diperkuat untuk mengurangi ketergantungan terhadap transfer pusat.

Keempat, pertumbuhan harus mampu menciptakan lebih banyak pekerjaan produktif dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Kelima, pembangunan ekonomi harus semakin merata hingga wilayah perdesaan dan kabupaten yang jauh dari pusat pertumbuhan.

81 Tahun Merdeka, Tantangannya Bukan Sekadar Tumbuh

Pada usia 81 tahun Indonesia merdeka, Kalteng memiliki modal ekonomi yang besar: sumber daya alam, lahan pertanian, perkebunan, potensi industri, energi serta posisi strategis di Pulau Kalimantan.

Tetapi kekuatan tersebut baru akan menjadi keunggulan jangka panjang apabila mampu diubah menjadi nilai tambah, produktivitas, lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat.

Pertumbuhan ekonomi sebesar 3,53 persen menjadi tanda bahwa mesin ekonomi Kalteng masih berjalan.

Tantangan berikutnya adalah memastikan mesin tersebut tidak hanya berputar lebih cepat, tetapi juga menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Kalteng.

Karena ukuran keberhasilan ekonomi pada akhirnya bukan hanya seberapa besar PDRB tumbuh, tetapi seberapa besar kemajuan itu dirasakan masyarakat.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement
AA3F4864-5C8D-4C02-B0C2-F53C75889A03
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja