Estimasi waktu baca: 4 menit

Ekonom Kalteng Soroti Hilirisasi

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Cadangan batu bara Indonesia diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 40 tahun apabila tingkat produksi nasional tetap berada di kisaran saat ini. Kondisi tersebut dinilai menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mengubah arah pengelolaan batu bara dari sekadar mengejar ekspor menuju peningkatan nilai tambah di dalam negeri.

Pandangan tersebut disampaikan Ekonom Kalimantan Tengah sekaligus Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (UPR), Suherman, dalam analisisnya mengenai prospek batu bara Indonesia di tengah transisi energi global.

Advertisement

Berdasarkan Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara, cadangan batu bara Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 31,89 miliar ton. Sementara produksi nasional sepanjang 2025 diperkirakan mencapai 790 juta ton, dengan sekitar 514 juta ton atau 65,1 persen di antaranya diekspor ke berbagai negara.

“Dengan perhitungan sederhana, 31,89 miliar ton dibagi produksi sekitar 790 juta ton per tahun, maka umur cadangan batu bara Indonesia diperkirakan sekitar 40 tahun. Artinya, apabila tingkat produksi tidak berubah, secara matematis cadangan tersebut dapat bertahan hingga sekitar tahun 2065–2066,” ujar Suherman.

Menurutnya, apabila produksi kembali meningkat seperti tahun 2024 yang mencapai sekitar 836 juta ton, maka umur cadangan akan menyusut menjadi sekitar 38 tahun.

Advertisement

Sebaliknya, apabila pemerintah menekan produksi menjadi sekitar 600 juta ton per tahun, cadangan batu bara secara matematis dapat bertahan hingga lebih dari 50 tahun.

Namun, Suherman mengingatkan bahwa perhitungan tersebut hanya bersifat estimasi sederhana karena cadangan batu bara bersifat dinamis.

“Cadangan dapat berubah karena penemuan deposit baru, perkembangan teknologi pertambangan, perubahan harga, biaya produksi, regulasi lingkungan, hingga kelayakan ekonomi,” jelasnya.

Tantangan Bukan Lagi Cadangan, tetapi Pasar

Menurut Suherman, tantangan terbesar Indonesia justru bukan pada habisnya cadangan secara geologis, melainkan menyusutnya permintaan pasar dunia.

Ia menilai dunia kini bergerak menuju energi rendah karbon sehingga konsumsi batu bara diperkirakan terus menurun dalam beberapa dekade mendatang.

International Energy Agency (IEA) bahkan memproyeksikan penggunaan batu bara global harus turun drastis menuju target emisi nol bersih pada 2050, sementara Indonesia sendiri menargetkan Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat.

Advertisement

“Indonesia mungkin masih memiliki batu bara di dalam tanah, tetapi permintaan pasar bisa lebih dulu menurun akibat transisi energi,” katanya.

Lima Strategi Pengelolaan Batu Bara

Suherman mengusulkan sedikitnya lima strategi agar batu bara tetap memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional.

Strategi pertama adalah mengendalikan produksi agar eksploitasi tidak terlalu cepat dan tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume ekspor.

Menurutnya, produksi sekitar 600 juta ton per tahun dapat menjadi pilihan untuk menjaga keseimbangan antara penerimaan negara, umur cadangan, dan stabilitas harga global.

Strategi kedua ialah mendorong hilirisasi batu bara yang benar-benar layak secara ekonomi dan lingkungan.

Ia menilai batu bara tidak seharusnya hanya dijual sebagai bahan mentah, melainkan diolah menjadi produk bernilai tambah seperti dimethyl ether (DME), metanol, syngas, karbon aktif, kokas, maupun bahan baku industri kimia.

Advertisement

Namun, setiap proyek hilirisasi tetap harus memperhitungkan aspek biaya produksi, emisi karbon, efisiensi energi, kebutuhan subsidi, hingga daya saing terhadap produk impor.

Efisiensi dan Cadangan Strategis

Strategi ketiga adalah meningkatkan efisiensi penggunaan batu bara, terutama pada pembangkit listrik dan sektor industri.

Menurut Suherman, pembangkit yang sudah tua dan boros energi perlu dipensiunkan secara bertahap agar konsumsi batu bara lebih efisien selama masa transisi menuju energi terbarukan.

Strategi berikutnya adalah menjadikan batu bara sebagai cadangan strategis nasional, bukan sekadar komoditas ekspor.

Ia menyarankan pemerintah menentukan jumlah minimal cadangan yang harus tetap tersedia untuk menjamin kebutuhan energi nasional pada masa mendatang melalui perencanaan produksi jangka panjang dan penguatan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO).

Pendapatan Batu Bara Harus Menjadi Modal Transformasi

Strategi terakhir yang dinilai paling penting ialah menggunakan pendapatan sektor batu bara untuk membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Advertisement

Menurut Suherman, daerah penghasil batu bara seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, dan Sumatera Selatan tidak boleh terus bergantung pada sektor pertambangan.

Royalti, dana bagi hasil, maupun penerimaan negara dari batu bara perlu diarahkan untuk membiayai pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, energi terbarukan, pertanian modern, industri pengolahan, hingga penguatan UMKM.

“Keberhasilan kebijakan batu bara seharusnya tidak diukur dari seberapa banyak batu bara ditambang dan diekspor, tetapi dari seberapa besar nilai tambah yang dihasilkan bagi transformasi ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa batu bara masih memiliki peran penting selama masa transisi energi, namun harus diposisikan sebagai jembatan menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan, bukan menjadi tujuan utama pembangunan jangka panjang.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja