Estimasi waktu baca: 3 menit

Harga Acuan Naik ke US$131,85 per Ton

CYRUSTIMES, JAKARTA – Pasokan batu bara nasional masih berada pada level yang melimpah meski pemerintah mulai mengendalikan produksi. Di sisi lain, harga batu bara acuan (HBA) justru menunjukkan tren menguat pada Juli 2026, mencerminkan masih stabilnya permintaan pasar global.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) Periode II Juli 2026 sebesar US$131,85 per ton untuk batu bara dengan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR. Angka tersebut meningkat dibandingkan HBA Periode I Juli 2026 yang berada di level US$126,58 per ton.

Advertisement

Selain HBA utama, pemerintah juga menetapkan harga batu bara berdasarkan kelompok kalori lainnya, yakni HBA I sebesar US$89,90 per ton, HBA II US$63,25 per ton, dan HBA III US$45,08 per ton.

Kenaikan harga tersebut terjadi di tengah kondisi pasokan batu bara Indonesia yang masih tergolong besar.

Berdasarkan data pemerintah, produksi batu bara nasional sepanjang 2025 mencapai sekitar 790 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 514 juta ton atau sekitar 65 persen diekspor ke berbagai negara, sementara sisanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui skema Domestic Market Obligation (DMO).

Advertisement

Produksi Mulai Dikendalikan

Pemerintah mulai menerapkan kebijakan pengendalian produksi batu bara agar keseimbangan antara pasokan dan permintaan global tetap terjaga.

Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari kelebihan suplai yang dapat menekan harga batu bara dunia sekaligus menjaga keberlanjutan cadangan nasional.

Rencana pengendalian produksi juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas industri pertambangan di tengah dinamika pasar energi internasional.

Permintaan Asia Masih Menopang Harga

Meski berbagai negara mulai mempercepat transisi menuju energi rendah karbon, permintaan batu bara dari kawasan Asia masih relatif kuat.

Kebutuhan pembangkit listrik di sejumlah negara seperti China dan India masih menjadi faktor utama yang menopang harga batu bara dunia.

Selain itu, meningkatnya konsumsi listrik selama musim panas di beberapa negara turut mendorong kenaikan permintaan batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik.

Advertisement

Indonesia Tetap Menjadi Eksportir Utama

Indonesia hingga kini masih menjadi salah satu eksportir batu bara terbesar di dunia, terutama untuk jenis batu bara berkalori rendah.

Sebagian besar ekspor nasional masih ditujukan ke pasar Asia, dengan China dan India menjadi dua negara tujuan utama.

Namun, sejumlah kalangan menilai Indonesia perlu mulai mengurangi ketergantungan terhadap ekspor bahan mentah dan mempercepat hilirisasi agar nilai tambah industri batu bara dapat dinikmati di dalam negeri.

Tantangan Transisi Energi

Di sisi lain, industri batu bara juga menghadapi tantangan jangka panjang berupa percepatan transisi energi global menuju penggunaan energi baru terbarukan.

Karena itu, pengendalian produksi dinilai menjadi salah satu langkah penting agar pemanfaatan cadangan batu bara tetap memberikan manfaat ekonomi yang optimal sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya alam nasional.

Sejumlah pengamat juga menilai strategi hilirisasi, peningkatan efisiensi penggunaan batu bara, serta diversifikasi ekonomi daerah penghasil tambang menjadi kunci agar kontribusi sektor pertambangan tetap terjaga ketika permintaan global mulai menurun pada masa mendatang.

Advertisement
Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja