Estimasi waktu baca: 3 menit

Elite Pro Academy U-16, U-18, dan U-20 diharapkan membuka jalur pembinaan bagi pemain muda Kalteng menuju level nasional.

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Kehadiran Adhyaksa FC di Kalimantan Tengah (Kalteng) tidak hanya membawa tim senior ke Stadion Tuah Pahoe. Klub yang berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia itu juga membawa Elite Pro Academy atau EPA kelompok usia U-16, U-18, dan U-20 ke Kalteng.

Program pembinaan usia muda itu menjadi bagian penting dari kerja sama Adhyaksa FC dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. EPA diharapkan membuka jalur lebih jelas bagi anak-anak Kalteng yang ingin menembus sepak bola profesional.

Presiden Klub Adhyaksa FC, Eko Setyawan, mengatakan kerja sama dengan Pemprov Kalteng merupakan bentuk pemerataan pembangunan sepak bola nasional.

“Kerja sama ini merupakan bentuk nyata pemerataan pembangunan sepak bola nasional,” kata Eko di Palangka Raya.

Menurut Eko, Kalteng merupakan provinsi besar yang membutuhkan kehadiran klub profesional. Dengan adanya klub yang memiliki jenjang pembinaan, sepak bola akar rumput atau grassroot di daerah diharapkan memiliki arah dan tujuan lebih jelas.

Ia menegaskan, Elite Pro Academy selama ini menjadi salah satu jalur pembinaan yang melahirkan banyak pemain profesional dan pemain tim nasional Indonesia.

Karena itu, keberadaan EPA Adhyaksa FC di Kalteng diharapkan menjadi motivasi bagi anak-anak daerah untuk mengembangkan kemampuan dan meraih kesempatan tampil di level nasional.

“Kami siap memberikan masukan terkait kebutuhan lapangan dan infrastruktur sepak bola yang dibutuhkan di kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah. Harapannya, gairah sepak bola grassroot semakin berkembang dan melahirkan talenta-talenta terbaik dari daerah ini,” ujar Eko.

Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyambut baik kehadiran tim senior dan Elite Pro Academy Adhyaksa FC. Menurutnya, kerja sama tersebut bukan hanya tentang menghadirkan klub profesional, tetapi juga membangun ekosistem olahraga yang sehat.

“Ini bukan hanya tentang menghadirkan klub sepak bola profesional, tetapi juga tentang membangun ekosistem olahraga yang sehat, membina talenta-talenta muda daerah, serta menumbuhkan kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah,” kata Agustiar.

Agustiar menilai, EPA U-16, U-18, dan U-20 menjadi peluang besar bagi putra-putri daerah untuk berkembang dan bersaing di level nasional.

“Kami ingin anak-anak Kalimantan Tengah memiliki mimpi dan jalur yang jelas untuk menjadi pemain profesional,” ujarnya.

Kehadiran EPA menjadi kabar penting bagi sekolah sepak bola, pelatih lokal, orang tua, dan pemain muda di Kalteng. Selama ini, banyak anak daerah memiliki bakat, tetapi belum semuanya memiliki jalur kompetisi dan pembinaan yang terhubung dengan level nasional.

Dengan adanya EPA, pembinaan tidak boleh berhenti pada seleksi sesaat. Program ini perlu dibuat terbuka, terukur, dan menjangkau pemain muda dari kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah.

Pemerintah daerah, Askprov PSSI, klub, sekolah sepak bola, pelatih, dan komunitas suporter perlu memastikan talenta lokal mendapat ruang nyata. Jangan sampai anak-anak Kalteng hanya menjadi penonton ketika klub profesional sudah bermarkas di daerah sendiri.

EPA juga membutuhkan infrastruktur pendukung. Lapangan latihan, pelatih berkualitas, kompetisi usia muda, pendampingan gizi, kesehatan atlet, serta jadwal latihan yang konsisten harus disiapkan jika Kalteng ingin benar-benar melahirkan pemain profesional.

Kehadiran Adhyaksa FC di Kalteng membuka harapan baru. Namun, harapan itu hanya akan berarti jika program pembinaan usia muda benar-benar menyentuh anak-anak daerah.

Stadion Tuah Pahoe boleh menjadi panggung tim senior. Tetapi masa depan sepak bola Kalteng akan ditentukan dari lapangan latihan, kompetisi usia muda, dan kesempatan yang diberikan kepada talenta lokal sejak dini.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.