Adhyaksa FC menapaki perjalanan cepat dari Liga 3, promosi ke Liga 2, menembus Super League, hingga menjadikan Kalteng sebagai kandang baru.
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Adhyaksa FC tidak datang ke Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai klub tanpa jejak. Sebelum resmi menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kalteng, klub ini telah melewati perjalanan cepat dalam peta sepak bola nasional.
Dikutip dari Wikipedia, Klub yang kini dikenal sebagai Adhyaksa FC itu awalnya bernama Farmel FC. Dalam catatan sejarah klub, Farmel berdiri pada 20 Januari 2020 dan memulai langkahnya dari kompetisi kasta bawah sepak bola Indonesia.
- Adhyaksa FC menapaki perjalanan cepat dari Liga 3, promosi ke Liga 2, menembus Super League, hingga menjadikan Kalteng sebagai kandang baru.
- Berawal dari Liga 3
- Melompat ke Kasta Tertinggi
- Dari Banten Menatap Kalteng
- Kalteng Jadi Kandang Baru
- Bawa Elite Pro Academy
- Agustiar Sambut Momentum Baru
- Dari Klub Muda ke Harapan Daerah
Perjalanan klub tersebut kemudian berubah ketika nama Adhyaksa mulai melekat. Farmel FC sempat dikenal sebagai Adhyaksa Farmel, sebelum akhirnya bertransformasi menjadi Adhyaksa Football Club.
Perubahan nama itu bukan sekadar pergantian identitas. Ia menandai babak baru dalam perjalanan klub yang perlahan menapaki tangga kompetisi nasional.
Berawal dari Liga 3
Adhyaksa FC memulai jalan panjangnya dari Liga 3. Di level ini, klub harus melewati kerasnya kompetisi akar rumput yang menjadi pintu masuk banyak klub daerah menuju panggung nasional.
Pada musim 2023/2024, Adhyaksa Farmel mulai mencuri perhatian. Klub ini berhasil menjadi juara Liga 3 Nasional dan memastikan promosi ke Liga 2.
Gelar Liga 3 itu menjadi titik balik. Dari klub yang berangkat dari kasta bawah, Adhyaksa FC mulai masuk dalam perhatian publik sepak bola nasional.
Promosi ke Liga 2 membuka jalan lebih besar. Klub tidak hanya naik kasta, tetapi juga mulai membangun citra sebagai tim yang serius mengejar level tertinggi sepak bola Indonesia.
Melompat ke Kasta Tertinggi
Perjalanan Adhyaksa FC berlanjut cepat. Setelah promosi ke Liga 2, klub ini kembali mencatat sejarah dengan menembus Super League untuk musim 2026/2027.
Kenaikan itu membuat Adhyaksa FC mencatat promosi beruntun dalam dua musim. Dari Liga 3 ke Liga 2, lalu dari Liga 2 menuju kasta tertinggi sepak bola Indonesia.
Bagi klub yang relatif muda, capaian itu menjadi lompatan besar. Adhyaksa FC tidak hanya membawa nama baru, tetapi juga ambisi besar dalam sepak bola nasional.
Namun, naik ke Super League juga membawa konsekuensi. Klub membutuhkan basis yang kuat, dukungan publik, stadion yang siap, serta ekosistem pembinaan pemain muda yang berkelanjutan.
Dari Banten Menatap Kalteng
Sebelum mengarah ke Kalteng, Adhyaksa FC dikenal bermarkas di Banten. Klub ini pernah menggunakan Banten International Stadium sebagai kandang.
Namun, setelah memastikan langkah ke Super League, Adhyaksa FC mulai menjajaki kemungkinan bermarkas di daerah lain. Kalimantan Tengah kemudian muncul sebagai tujuan serius.
Presiden Klub Adhyaksa FC, Eko Setyawan, meninjau langsung Stadion Tuah Pahoe di Palangka Raya. Peninjauan itu menjadi sinyal kuat bahwa Kalteng tidak hanya menjadi opsi, tetapi mulai dipersiapkan sebagai rumah baru.
Eko menyebut rencana tersebut merupakan tindak lanjut dari pembicaraan yang telah dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sejak dua tahun lalu.
“Kerja sama ini tindak lanjut dari pembicaraan yang telah dilakukan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sejak dua tahun lalu,” kata Eko di Palangka Raya.
Kalteng Jadi Kandang Baru
Kerja sama Adhyaksa FC dan Pemprov Kalteng kemudian menandai babak baru. Klub berkomitmen menjadikan Kalimantan Tengah sebagai kandang resmi mulai musim 2026/2027 dan seterusnya.
Stadion Tuah Pahoe di Palangka Raya disiapkan sebagai home base. Stadion ini memiliki nilai emosional bagi publik sepak bola Kalteng karena pernah menjadi salah satu pusat atmosfer sepak bola daerah.
Bagi Kalteng, hadirnya Adhyaksa FC membuka kembali harapan terhadap sepak bola level tertinggi. Setelah publik daerah pernah mengenal gairah sepak bola profesional, kehadiran klub Super League membawa peluang menghidupkan kembali antusiasme itu.
Namun, kehadiran Adhyaksa FC tidak boleh berhenti sebagai perpindahan kandang. Kalteng membutuhkan dampak lebih nyata: pembinaan pemain muda, perbaikan infrastruktur, kompetisi usia dini, dan keterlibatan talenta lokal.
Bawa Elite Pro Academy
Adhyaksa FC tidak hanya membawa tim senior ke Kalteng. Klub ini juga membawa Elite Pro Academy atau EPA untuk kelompok usia U-16, U-18, dan U-20.
Program EPA menjadi bagian penting karena memberi jalur pembinaan bagi pemain muda daerah. Anak-anak Kalteng diharapkan tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut masuk dalam sistem pembinaan yang terhubung dengan kompetisi nasional.
Eko Setyawan menilai Kalimantan Tengah merupakan provinsi besar yang membutuhkan kehadiran klub profesional. Dengan adanya klub yang memiliki jenjang pembinaan, sepak bola akar rumput di daerah diharapkan memiliki tujuan yang lebih jelas.
“Kerja sama ini merupakan bentuk nyata pemerataan pembangunan sepak bola nasional,” ujar Eko.
Ia juga menyatakan siap memberi masukan kepada Pemprov Kalteng terkait kebutuhan lapangan dan infrastruktur sepak bola di kabupaten dan kota.
Agustiar Sambut Momentum Baru
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menyambut baik kerja sama strategis tersebut. Menurut Agustiar, kehadiran Adhyaksa FC bukan hanya tentang menghadirkan klub profesional ke Kalteng.
“Ini bukan hanya tentang menghadirkan klub sepak bola profesional, tetapi juga tentang membangun ekosistem olahraga yang sehat, membina talenta-talenta muda daerah, serta menumbuhkan kebanggaan masyarakat Kalimantan Tengah,” kata Agustiar.
Agustiar menegaskan, anak-anak Kalimantan Tengah harus memiliki mimpi dan jalur yang jelas untuk menjadi pemain profesional.
“Kami ingin anak-anak Kalimantan Tengah memiliki mimpi dan jalur yang jelas untuk menjadi pemain profesional,” ujarnya.
Dukungan pemerintah daerah menjadi faktor penting. Tanpa dukungan infrastruktur, pembinaan, dan kompetisi lokal yang hidup, kehadiran klub profesional berisiko hanya menjadi seremoni.
Dari Klub Muda ke Harapan Daerah
Sejarah Adhyaksa FC memperlihatkan perjalanan yang cepat. Dari Farmel FC, berubah menjadi Adhyaksa Farmel, lalu menjadi Adhyaksa FC. Dari Liga 3, promosi ke Liga 2, kemudian menembus Super League.
Kini, perjalanan itu bermuara di Kalimantan Tengah.
Bagi Adhyaksa FC, Kalteng menjadi rumah baru untuk memperluas basis sepak bola. Bagi Kalteng, klub ini menjadi peluang membangun kembali gairah sepak bola daerah.
Tetapi peluang itu harus dijaga. Talenta lokal harus mendapat ruang nyata. Stadion Tuah Pahoe harus siap. Kompetisi usia muda harus hidup. Sekolah sepak bola harus terhubung. Suporter harus dilibatkan.
Jika semua berjalan serius, Adhyaksa FC tidak hanya menjadi klub yang berkandang di Palangka Raya. Klub ini bisa menjadi jembatan bagi anak-anak Kalimantan Tengah menuju sepak bola profesional.
Sejarah Adhyaksa FC memang dimulai dari Farmel. Namun, babak barunya kini sedang ditulis di Bumi Tambun Bungai.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Tinggalkan Balasan