BPBD Kotim menyebut kemarau membuat gambut mengering, embung dan drainase mulai kehilangan air, sementara akses pemadaman masih menjadi kendala.
CYRUSTIMES, KOTAWARINGIN TIMUR – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan tren peningkatan pada Juli 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD Kotawaringin Timur mencatat, hingga 8 Juli 2026, terdapat 249 hotspot di wilayah tersebut.
- BPBD Kotim menyebut kemarau membuat gambut mengering, embung dan drainase mulai kehilangan air, sementara akses pemadaman masih menjadi kendala.
- 249 Hotspot Terdeteksi
- Luas Lahan Terbakar 138 Hektare
- Kota Besi Catat Tiga Kejadian
- Kemarau dan Gambut Jadi Pemicu
- Air dan Jalan Jadi Hambatan
- Sosialisasi dan Larangan Membakar Lahan
- Pemadaman Bisa 60 sampai 100 Persen Jika Terjangkau
- Karhutla Desa Soren Jadi Alarm
Selain itu, data kondisi karhutla BPBD Kotim mencatat 61 kejadian kebakaran, 54 kejadian telah ditangani, dengan luas lahan terbakar mencapai 138,86780 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan peningkatan kejadian karhutla dipicu musim kemarau yang membuat kawasan gambut mengering.
“Indikasi ada peningkatan kejadian karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur pada bulan Juli 2026. Indikasi karena musim kemarau memicu daerah gambut yang kering, air di beberapa embung dan sistem drainase telah kering,” ujar Multazam.
249 Hotspot Terdeteksi
Berdasarkan rekap hotspot tiap kecamatan tahun 2026 yang dirilis BPBD Kotim per 8 Juli 2026 pukul 08.58 WIB, jumlah hotspot sepanjang 2026 mencapai 249 titik.
Antang Kalang menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 67 titik.
Disusul Mentaya Hulu dengan 30 hotspot, Bukit Santuai 22 hotspot, Telaga Antang 21 hotspot, dan Tualan Hulu 20 hotspot.
Sementara Kecamatan Kota Besi, wilayah yang menaungi Desa Soren, tercatat memiliki 7 hotspot.
Data ini menunjukkan ancaman karhutla tidak hanya terkonsentrasi di satu wilayah, tetapi tersebar di banyak kecamatan di Kotawaringin Timur.
Luas Lahan Terbakar 138 Hektare
Dalam data kondisi karhutla per 8 Juli 2026, BPBD Kotim mencatat luas lahan terbakar mencapai 138,86780 hektare.
Berdasarkan pembagian wilayah, luasan terbesar berada di wilayah selatan dengan 71,18500 hektare atau 51,26 persen dari total luasan terbakar.
Wilayah tengah menyusul dengan 66,23280 hektare atau 47,69 persen.
Sementara wilayah utara mencatat 1,45000 hektare atau 1,04 persen.
Kecamatan Parenggean menjadi salah satu wilayah dengan luasan terbakar besar, yakni 40 hektare dari dua kejadian. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mencatat 32,82700 hektare dari 28 kejadian.
Pulau Hanaut mencatat 20,75000 hektare lahan terbakar, sedangkan Baamang 17,82280 hektare.
Kota Besi Catat Tiga Kejadian
Kecamatan Kota Besi tercatat memiliki 7 hotspot, 3 kejadian karhutla, dan 3 penanganan kejadian.
Luas lahan terbakar di kecamatan ini tercatat 0,91000 hektare berdasarkan data BPBD Kotim per 8 Juli 2026.
Namun, kondisi lapangan di Desa Soren menunjukkan api sempat membesar dan meluas sejak Rabu, 8 Juli 2026 siang hingga Kamis, 9 Juli 2026 sore.
Kepala Desa Soren, Subhanur, sebelumnya menyebut penanganan sudah dilakukan oleh sejumlah pihak, termasuk BPBD, unsur kehutanan, dan PT GAP yang memiliki konsesi di wilayah tersebut.
“Sudah ada dari BPBD, Kehutanan sama PT GAP yang punya konsesi,” ujar Subhanur.
Kemarau dan Gambut Jadi Pemicu
Multazam menjelaskan, musim kemarau menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kejadian karhutla di Kotim.
Kondisi gambut yang mengering membuat api lebih mudah menjalar. Situasi semakin berat karena air di sejumlah embung dan sistem drainase mulai kering.
Dalam kondisi seperti ini, api di lahan gambut tidak hanya membakar permukaan. Bara bisa masuk ke lapisan bawah tanah dan tetap menyala meski permukaan terlihat mereda.
Karena itu, pemadaman membutuhkan air dalam jumlah besar, waktu lebih panjang, dan akses yang memadai ke titik api.
Air dan Jalan Jadi Hambatan
BPBD Kotim juga mencatat sejumlah hambatan dalam pemadaman karhutla.
Multazam menyebut kendala utama berada pada terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran, akses jalan yang sulit ditembus, serta jarak sumber air dengan titik api yang jauh.
“Hambatan terbatasnya air pemadaman di lokasi kebakaran, jalan yang tidak bisa ditembus, jarak air pemadaman dan titik api yang jauh, seperti di Desa Eka Bahurui jarak 800 meter,” jelas Multazam.
Kendala serupa juga terjadi di Desa Soren. Warga menyebut mobil pemadam sempat tidak bisa masuk karena kondisi jalan rusak. Ekskavator dari PT GAP kemudian didatangkan untuk memperbaiki akses agar armada pemadam dapat melintas.
Sosialisasi dan Larangan Membakar Lahan
BPBD Kotim mulai melakukan langkah pencegahan melalui sosialisasi di dua kecamatan, yakni Teluk Sampit dan Mentaya Hilir Utara.
Selain itu, BPBD memberikan penekanan kepada pemangku wilayah di tingkat kecamatan dan desa agar meningkatkan kesiapsiagaan.
Larangan membuka lahan dengan cara membakar juga kembali ditegaskan.
“Upaya mulai dari pencegahan dengan sosialisasi pada dua kecamatan, Kecamatan Teluk Sampit dan Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Serta penekanan kepada pemangku wilayah kecamatan dan desa untuk bersiapsiaga dan larangan membuka lahan dengan cara membakar,” kata Multazam.
Pemadaman Bisa 60 sampai 100 Persen Jika Terjangkau
Multazam mengatakan, setiap kejadian kebakaran yang dapat dijangkau tim umumnya dapat ditangani.
Tingkat pemadaman di lokasi yang berhasil dijangkau berkisar antara 60 hingga 100 persen.
“Setiap kejadian kebakaran yang dapat kami jangkau dapat kami padamkan berkisar 60 sampai 100 persen,” ujarnya.
Namun, pernyataan itu juga menunjukkan bahwa akses menuju lokasi menjadi faktor penentu dalam keberhasilan pemadaman.
Ketika jalan rusak, sumber air jauh, dan lahan gambut sudah mengering, risiko api meluas menjadi lebih besar.
Karhutla Desa Soren Jadi Alarm
Karhutla di Desa Soren menjadi salah satu contoh bagaimana kebakaran lahan bisa cepat membesar ketika kemarau, gambut kering, dan akses buruk terjadi bersamaan.
Warga setempat sebelumnya menyebut kebun milik warga ikut habis dilalap api. Kabut asap juga mulai menyelimuti kawasan sekitar.
Kondisi itu menjadi alarm bagi pemerintah daerah, perusahaan pemegang konsesi, dan masyarakat.
Penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan saat api sudah membesar. Pencegahan, patroli, kesiapan alat, ketersediaan air, serta perbaikan akses harus disiapkan sebelum titik api berkembang menjadi kebakaran luas.
Dengan 249 hotspot dan lebih dari 138 hektare lahan terbakar hingga awal Juli, Kotawaringin Timur perlu meningkatkan kewaspadaan.
Musim kemarau masih berpotensi berlanjut. Tanpa langkah cepat, karhutla dapat terus meluas, merusak kebun warga, mengganggu kesehatan masyarakat, dan menambah beban penanganan bencana di daerah.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.


Tinggalkan Balasan