Bupati Kotim Halikinnor menyebut jalan rusak Desa Soren masuk kawasan HP dan HGU sehingga belum bisa ditangani APBD.
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Nasib jalan rusak menuju Desa Soren, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), masih belum menemukan titik terang.
Bupati Kotawaringin Timur Halikinnor menyebut jalan menuju Desa Soren masuk kawasan hutan produksi atau HP dan berada dalam kawasan hak guna usaha atau HGU.
Kondisi itu membuat Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur belum bisa menangani jalan tersebut menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD.
“Jalan masuk menuju Desa Soren itu, masuk kawasan HP, masuk dalam HGU,” kata Halikinnor seusai menghadiri kegiatan di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Palangka Raya, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurut Halikinnor, status kawasan menjadi kendala utama pemerintah daerah untuk melakukan pembangunan atau perbaikan jalan secara langsung.
“Iya masuk kawasan, jadi belum bisa kita kerjakan pakai dana APBD, karena itu kawasan,” ujarnya.
Pernyataan Halikinnor tersebut membuat harapan warga Desa Soren terhadap perbaikan jalan utama mereka kembali berada dalam situasi tidak pasti. Di satu sisi, jalan itu menjadi akses vital warga. Di sisi lain, status kawasan disebut masih menghambat intervensi pemerintah daerah.
Jalan Rusak sejak Puluhan Tahun
Sebelumnya, Cyrustimes.com telah memberitakan keluhan warga Desa Soren terkait kondisi jalan utama desa yang rusak parah dan belum mendapat perhatian serius.
Warga Desa Soren, Eef Saifullah, mengatakan kerusakan jalan tersebut sudah berlangsung sangat lama. Bahkan, menurutnya, kondisi itu telah dirasakan warga sejak masa pemerintahan Presiden Soeharto.
“Jalan rusak ini dari zaman Presiden Soeharto tahun 1997, berkali-kali ganti bupati, di zaman Bupati Supian Hadi sempat digarap pakai ekskavator, tapi setelah itu ditinggalkan, sampai sekarang tidak ada kelanjutan,” kata Eef.
Eef menyebut jalan tersebut merupakan akses utama masyarakat untuk bekerja, sekolah, berobat, dan mengangkut hasil kebun.
“Jalan ini merupakan akses utama warga untuk bekerja, sekolah, berobat, dan mengangkut hasil kebun, tetapi kondisinya sangat memprihatinkan dan menyulitkan masyarakat setiap hari,” ujarnya.
Jalan itu menghubungkan Desa Soren dengan Desa Camba dan Desa Simpur. Menurut Eef, jarak dari Desa Soren menuju Desa Camba sekitar 4 kilometer, sedangkan menuju Desa Simpur sekitar 1 kilometer.
“Desa Soren ini berada di tengah-tengah antara Desa Camba dan Desa Simpur. Jalan di dua desa itu sudah jauh lebih baik dibandingkan jalan menuju Desa Soren,” katanya.
Warga Terpaksa Gunakan Jalur Sungai
Buruknya kondisi jalan berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi dan kebutuhan dasar masyarakat. Warga kesulitan membawa hasil kebun ke kota, mengakses layanan kesehatan, hingga menunjang aktivitas pendidikan anak-anak.
Eef mengatakan sebagian warga terpaksa menggunakan transportasi sungai sebagai alternatif menuju kota. Namun, biaya transportasi air dinilai tidak ringan bagi masyarakat desa, terutama petani dan warga berpenghasilan rendah.
“Kalau mau ke kota, sebagian warga terpaksa menggunakan angkutan air. Tapi biayanya sangat mahal bagi petani seperti kami,” ujar Eef.
Ia menilai persoalan jalan Desa Soren tidak bisa terus dibiarkan tanpa solusi. Sebab, warga telah menghadapi kondisi itu selama puluhan tahun, sementara kebutuhan mobilitas masyarakat terus meningkat.
“Jalan ini sudah seperti itu sejak kami masih kecil. Sekarang kami sudah punya anak, tetapi tidak pernah ada progres yang berarti untuk perbaikannya,” katanya.
Menunggu Solusi Status Kawasan
Pernyataan Bupati Kotim bahwa jalan tersebut masuk kawasan HP dan HGU membuat penyelesaian persoalan jalan Desa Soren tidak hanya menyangkut urusan infrastruktur.
Masalah itu kini berkaitan dengan status kawasan, kewenangan, dan kemungkinan skema penanganan lintas sektor agar akses masyarakat tetap bisa diperbaiki tanpa menabrak aturan.
Bagi warga, jalan tersebut bukan sekadar penghubung antardesa. Jalan itu menjadi jalur hidup masyarakat untuk pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan distribusi hasil kebun.
Namun, selama status kawasan belum menemukan jalan keluar, nasib perbaikan jalan Desa Soren masih abu-abu.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.


Tinggalkan Balasan