Estimasi waktu baca: 6 menit

Deretan Nama Orang Zaman Dulu yang Kini Mulai Jarang Dipakai

CYRUSTIMES, JAKARTA – Nama seseorang bukan sekadar identitas. Di Indonesia, nama juga kerap menjadi jejak perubahan zaman, budaya, agama, hingga selera orang tua dalam memberikan nama kepada anak.

Sejumlah nama yang dahulu sangat akrab di telinga masyarakat kini mulai jarang diberikan kepada generasi baru. Nama seperti Sutrisno, Sulastri, Bambang, Joko, Tukiman, Paini, dan Endang misalnya, lebih sering ditemukan pada generasi yang lahir beberapa dekade lalu dibandingkan anak-anak yang lahir belakangan.

Advertisement

Fenomena tersebut bukan berarti nama-nama itu benar-benar hilang. Sebagian masih digunakan dan bahkan menjadi nama yang cukup umum di kalangan penduduk dewasa. Data Direktorat Jenderal Dukcapil Kemendagri yang dirilis pada 2026, misalnya, mencatat Sutrisno sebagai salah satu nama laki-laki yang paling banyak digunakan di Pulau Jawa, sedangkan Sulastri menjadi nama perempuan dengan jumlah penyandang terbanyak di pulau tersebut. 

Namun, ketika berbicara mengenai nama untuk generasi baru, trennya memang berubah.

Nama Tradisional Mulai Bergeser

Perubahan nama paling terasa pada masyarakat Jawa.

Advertisement

Penelitian mengenai dinamika penamaan masyarakat Jawa menunjukkan bahwa sebelum 1970-an, nama orang Jawa banyak menggunakan satu unsur nama. Memasuki periode berikutnya, nama menjadi semakin panjang dan terdiri dari dua hingga empat kata atau lebih. 

Perubahan tersebut kemudian berjalan seiring dengan meningkatnya penggunaan unsur bahasa Arab, Inggris dan bahasa asing lainnya.

Sebuah penelitian mengenai nama anak di Jawa Tengah yang lahir pada periode 2000–2020 menemukan kecenderungan meningkatnya penggunaan kosakata bahasa Inggris dan Arab. Beberapa nama tradisional seperti Tukiman, Sutinah, Paini, Endang dan Bambang disebut semakin jarang ditemukan pada generasi anak. 

Artinya, perubahan nama bukan sekadar soal selera. Di dalamnya terdapat perubahan sosial dan budaya masyarakat.

1. Sutrisno

Sutrisno merupakan salah satu nama yang sangat identik dengan generasi lama.

Nama ini masih banyak ditemukan hingga sekarang. Bahkan data Dukcapil menunjukkan Sutrisno menjadi salah satu nama laki-laki yang paling banyak digunakan di Pulau Jawa.

Advertisement

Namun, untuk anak-anak generasi baru, nama tersebut relatif semakin jarang dipilih.

2. Sulastri

Nama perempuan yang menjadi pasangan kuat dalam daftar nama generasi lama adalah Sulastri.

Nama ini masih cukup mudah ditemukan di berbagai daerah, tetapi tidak banyak digunakan sebagai pilihan nama bayi oleh orang tua masa kini.

Karakter nama Sulastri sangat lekat dengan pola penamaan Jawa pada generasi sebelumnya.

3. Bambang

Bambang mungkin menjadi salah satu nama Jawa yang paling mudah dikenali.

Nama ini banyak digunakan oleh generasi ayah, paman, hingga kakek masyarakat Indonesia.

Advertisement

Namun, Bambang semakin jarang terdengar sebagai nama anak yang baru lahir.

Nama tersebut juga menjadi contoh bagaimana sebuah nama dapat berubah status dari nama yang umum menjadi identitas yang sangat kuat bagi generasi tertentu.

4. Joko

Nama Joko juga memiliki sejarah panjang dalam penamaan masyarakat Jawa.

Dulu nama ini sangat umum digunakan, termasuk dalam berbagai bentuk nama lengkap.

Kini Joko masih banyak dimiliki masyarakat, tetapi semakin jarang digunakan sebagai pilihan utama untuk bayi.

5. Tukiman

Nama Tukiman terdengar sangat khas Jawa.

Advertisement

Namun, dibandingkan nama-nama modern yang digunakan saat ini, Tukiman semakin jarang diberikan kepada generasi baru.

Nama tersebut bahkan disebut dalam kajian mengenai perubahan penamaan masyarakat Jawa sebagai salah satu contoh nama tradisional yang mulai jarang ditemukan pada anak-anak. 

6. Sutinah

Sutinah merupakan nama perempuan yang juga lekat dengan generasi terdahulu.

Nama dengan akhiran -tinah dahulu cukup lazim ditemukan di masyarakat Jawa.

Kini, pola tersebut mulai tergeser oleh nama yang dianggap lebih modern, pendek, atau memiliki pengaruh bahasa asing dan Arab.

7. Paini

Paini termasuk nama perempuan yang dahulu cukup familiar, terutama di lingkungan masyarakat Jawa.

Namun, nama tersebut kini semakin jarang digunakan untuk generasi baru.

Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana pola bunyi dan struktur nama ikut mengalami perubahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

8. Endang

Berbeda dengan beberapa nama sebelumnya, Endang masih cukup dikenal hingga sekarang.

Nama ini bahkan masih sering dijumpai pada perempuan dewasa.

Namun, Endang semakin jarang muncul sebagai nama bayi perempuan generasi baru dibandingkan nama seperti Aisyah, Zahra, Nabila atau nama modern lainnya.

9. Slamet

Nama Slamet memiliki makna yang sangat positif, yakni berkaitan dengan keselamatan.

Nama ini pernah menjadi salah satu nama laki-laki yang sangat umum di masyarakat Jawa.

Kini, meski masih banyak digunakan, Slamet lebih sering diasosiasikan dengan generasi yang lebih tua.

10. Sugeng

Sugeng juga memiliki karakter kuat sebagai nama Jawa.

Kata “sugeng” sendiri berkaitan dengan ungkapan selamat atau kesejahteraan dalam bahasa Jawa.

Namun, sebagai nama bayi, Sugeng kini tidak sepopuler beberapa dekade lalu.

11. Mulyadi

Nama Mulyadi pernah sangat umum digunakan di Indonesia.

Nama ini memiliki nuansa Jawa yang kuat dan sering ditemukan pada generasi yang lahir pada periode sebelumnya.

Generasi orang tua masa kini cenderung memilih kombinasi nama yang lebih panjang dan memiliki referensi budaya yang lebih beragam.

12. Supardi

Supardi juga menjadi salah satu nama yang cukup identik dengan generasi lama.

Nama tersebut masih banyak digunakan, tetapi semakin jarang menjadi pilihan untuk anak-anak yang lahir pada era digital.

13. Sumiati

Untuk nama perempuan, Sumiati menjadi salah satu contoh yang cukup jelas.

Nama tersebut masih mudah ditemukan pada generasi ibu atau nenek, tetapi semakin jarang terdengar pada anak-anak masa kini.

14. Nurhayati

Nurhayati merupakan nama yang memiliki unsur religius dan sangat populer pada generasi sebelumnya.

Meski masih banyak penyandangnya, pola penamaan perempuan kini semakin beragam.

Nama bernuansa Arab tetap populer, tetapi bentuk dan kombinasinya berubah mengikuti tren.

15. Wati

Wati merupakan salah satu unsur nama perempuan yang sangat umum digunakan pada generasi lama.

Nama tersebut sering muncul sebagai nama tunggal maupun bagian dari nama lengkap.

Kini, penggunaan “Wati” sebagai nama utama semakin jarang ditemui pada generasi bayi.

Mengapa Nama-Nama Lama Mulai Jarang Digunakan?

Ada beberapa faktor yang dapat menjelaskan perubahan tersebut.

1. Pengaruh globalisasi

Orang tua kini memiliki akses jauh lebih luas terhadap budaya luar melalui internet, film, musik dan media sosial.

Akibatnya, nama dari bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya semakin mudah masuk ke dalam pilihan nama anak.

2. Pengaruh bahasa Arab

Nama bernuansa Arab juga semakin kuat digunakan oleh sebagian keluarga Indonesia.

Perubahan tersebut terlihat dalam sejumlah data nama anak generasi baru. Data nama bayi 2025 yang dihimpun dari data kependudukan Jawa Timur, misalnya, memperlihatkan beberapa nama teratas memiliki kombinasi unsur Arab dan Islami. 

3. Orang tua mencari nama yang unik

Nama juga kini dipandang sebagai bagian dari identitas personal.

Banyak orang tua menginginkan nama yang tidak terlalu umum, mudah diingat dan memiliki arti tertentu.

Fenomena ini membuat nama yang terdiri dari dua atau tiga unsur semakin lazim.

4. Nama menjadi lebih panjang

Jika nama satu kata dahulu sangat lazim, pola tersebut berubah.

Kajian tentang dinamika penamaan Jawa mencatat bahwa sejak sekitar 1980-an, nama satu unsur semakin jarang ditemukan dan nama dua hingga empat kata semakin umum. 

Bukan Hilang, tetapi Bergeser

Penting dicatat bahwa menyebut nama-nama tersebut “ditinggalkan” bukan berarti nama tersebut sudah punah.

Sutrisno, Sulastri, Bambang, Joko, Endang dan nama lainnya masih digunakan oleh jutaan orang Indonesia.

Yang berubah adalah frekuensi penggunaannya sebagai nama bagi generasi baru.

Justru data Dukcapil menunjukkan sejumlah nama lama masih memiliki jumlah penyandang yang sangat besar. Ini menjadi bukti bahwa nama-nama tersebut masih menjadi bagian penting dari sejarah demografi Indonesia. 

Pada akhirnya, perubahan nama merupakan bagian dari perubahan masyarakat.

Nama yang dahulu terdengar setiap hari bisa perlahan menjadi identitas sebuah generasi. Sebaliknya, nama yang hari ini terdengar unik bisa saja menjadi nama yang sangat umum 20 atau 30 tahun mendatang.

Bisa jadi, nama anak-anak yang sekarang dianggap modern suatu hari nanti justru akan disebut sebagai “nama zaman dulu”.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja