Estimasi waktu baca: 5 menit

Palangka Raya Dikepung Asap Karhutla

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, seiring masih tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi ini membuat kualitas udara ikut terdampak dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gangguan kesehatan, khususnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). 

Kabut asap dilaporkan menyelimuti Palangka Raya pada Sabtu (8/8/2026). Kondisi tersebut terjadi ketika titik panas masih terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah dan karhutla terus menjadi perhatian tim gabungan. 

Advertisement

Bagi masyarakat yang setiap hari harus beraktivitas di tengah kondisi udara berasap, perlindungan terhadap saluran pernapasan menjadi hal penting.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) sebelumnya telah memberikan sejumlah panduan untuk mengurangi dampak kesehatan akibat kabut asap karhutla.

Asap Karhutla Bisa Mengganggu Pernapasan

Kemenkes menjelaskan bahwa asap kebakaran hutan mengandung berbagai material yang dapat berdampak terhadap kesehatan. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata, kulit serta iritasi dan peradangan saluran pernapasan yang dapat berujung pada ISPA. 

Advertisement

Dalam penjelasan lainnya, Kemenkes menyebut partikel berukuran kurang dari 10 mikrometer dapat terhirup hingga masuk ke paru-paru. Paparan asap juga dapat menimbulkan keluhan seperti mata perih dan berair, hidung berair, rasa tidak nyaman di tenggorokan, mual hingga sakit kepala. 

Risiko tersebut tidak sama pada setiap orang.

Kemenkes menyebut kelompok yang lebih rentan terhadap dampak asap kebakaran hutan antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil serta orang yang memiliki penyakit jantung dan paru, termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). 

1. Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Salah satu langkah paling sederhana adalah mengurangi paparan langsung terhadap asap.

Kemenkes menganjurkan masyarakat untuk tetap berada di dalam rumah ketika kondisi udara di luar tidak baik. 

Artinya, masyarakat dapat mempertimbangkan untuk menunda aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak, terutama ketika kabut asap terlihat pekat atau muncul bau asap yang menyengat.

Advertisement

Untuk kelompok rentan, langkah mengurangi paparan menjadi semakin penting.

2. Gunakan Masker Saat Harus Keluar

Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, Kemenkes menganjurkan penggunaan masker atau respirator. 

Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa tidak semua masker memiliki kemampuan perlindungan yang sama terhadap partikel asap.

Dalam informasi khusus mengenai asap kebakaran hutan, Kemenkes menjelaskan masker bedah dirancang terutama untuk menyaring partikel yang lebih besar dan tidak secara optimal menyaring partikel kecil. Kemenkes menyebut respirator seperti N95 dapat menghalangi sekitar 95 persen partikel jika digunakan dengan teknik yang tepat. 

Meski demikian, Kemenkes juga memberikan catatan penting bahwa penggunaan N95 memiliki keterbatasan dan tidak direkomendasikan untuk anak-anak, ibu hamil, lansia, orang dengan penyakit kardiovaskuler maupun penyakit paru kronis tanpa mempertimbangkan kondisi masing-masing. 

Karena itu, masyarakat sebaiknya mengikuti petunjuk penggunaan masker dengan benar dan mempertimbangkan kondisi kesehatan masing-masing.

Advertisement

3. Tutup Rumah Agar Asap Tidak Mudah Masuk

Ketika udara luar dipenuhi asap, rumah menjadi tempat perlindungan utama.

Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes menganjurkan masyarakat yang terdampak kabut asap untuk tetap berada di rumah dan menutup rapat rumah agar kabut asap tidak masuk. 

Langkah ini dapat dilakukan ketika kondisi udara di luar sedang buruk, terutama jika asap terlihat masuk melalui pintu, jendela atau celah bangunan.

Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang menghasilkan asap tambahan di dalam rumah.

4. Perbanyak Minum Air Putih

Kemenkes juga memasukkan minum air putih yang banyak sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan. 

Asupan cairan yang cukup dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh selama masyarakat menghadapi paparan asap.

Advertisement

Namun, air putih bukan pengganti perlindungan dari paparan asap. Mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan perlindungan pernapasan tetap menjadi langkah penting.

5. Hindari Aktivitas Fisik Berat

Saat udara sedang tercemar asap, masyarakat juga disarankan menghindari aktivitas fisik yang terlalu berat.

Kemenkes memasukkan pengurangan aktivitas fisik berat sebagai salah satu langkah pencegahan dampak kabut asap. 

Aktivitas olahraga di luar ruangan, misalnya, sebaiknya ditunda ketika kondisi udara sedang buruk.

6. Terapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat

Kemenkes juga menganjurkan penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk mengonsumsi makanan bergizi, cukup beristirahat dan mencuci tangan. 

Langkah tersebut penting terutama ketika kondisi lingkungan sedang tidak sehat.

7. Jangan Abaikan Gejala Gangguan Pernapasan

Masyarakat juga diminta mengenali keluhan yang muncul setelah terpapar asap.

Kemenkes menyarankan deteksi dini terhadap gejala atau keluhan kesehatan akibat asap. Jika muncul masalah kesehatan yang mengganggu, masyarakat dianjurkan segera mendatangi dokter atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. 

Keluhan seperti sesak atau gangguan pernapasan yang memburuk tidak sebaiknya dianggap sebagai efek biasa dari kabut asap.

Terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil dan orang yang sebelumnya memiliki penyakit paru atau jantung, pemeriksaan medis perlu dipertimbangkan lebih cepat ketika muncul keluhan.

Palangka Raya Perlu Waspada

Kondisi kabut asap yang kembali muncul di Palangka Raya menjadi pengingat bahwa dampak karhutla bukan hanya persoalan lingkungan.

Asap yang terbawa ke kawasan permukiman dapat memengaruhi aktivitas masyarakat dan meningkatkan paparan polutan udara.

Data dan pengalaman penanganan karhutla sebelumnya juga menunjukkan bahwa Palangka Raya termasuk wilayah yang perlu memberikan perhatian serius terhadap dampak kesehatan akibat asap. Dalam informasi Kemenkes pada 2019, misalnya, Palangka Raya menjadi salah satu wilayah di Kalimantan Tengah dengan jumlah kasus ISPA yang tinggi saat periode kabut asap. 

Namun, data lama tersebut tidak boleh digunakan untuk menggambarkan jumlah kasus ISPA Palangka Raya pada 2026. Kondisi dan angka terbaru harus merujuk pada laporan Dinas Kesehatan atau otoritas kesehatan setempat.

Jangan Panik, Tapi Jangan Abaikan Asap

Kabut asap karhutla tidak selalu berarti setiap orang akan langsung mengalami ISPA. Namun, paparan asap tetap perlu dikurangi, terutama bagi kelompok rentan.

Pesan utama Kemenkes cukup sederhana: kurangi paparan, gunakan perlindungan ketika harus keluar, jaga kondisi tubuh dan segera mencari pertolongan medis jika muncul gangguan kesehatan.

Dengan kondisi asap yang kembali menyelimuti Palangka Raya, masyarakat sebaiknya tidak hanya menunggu udara kembali membaik, tetapi mulai melakukan langkah perlindungan sejak sekarang.

Jika tidak mendesak, kurangi aktivitas di luar rumah. Jika harus keluar, gunakan masker yang sesuai dan jangan abaikan gejala gangguan pernapasan.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja