Estimasi waktu baca: 3 menit

Kolesterol Tinggi tidak hanya dipicu telur. Lemak jenuh dari makanan olahan dan gorengan lebih berpengaruh terhadap LDL.

CYRUSTIMES, JAKARTA – Telur selama ini kerap dianggap sebagai penyebab utama kolesterol tinggi. Namun, sejumlah kajian kesehatan menunjukkan faktor yang lebih berpengaruh terhadap peningkatan kolesterol jahat atau LDL justru berasal dari konsumsi lemak jenuh dalam pola makan sehari-hari.

Pandangan lama yang menempatkan telur sebagai musuh utama kolesterol mulai bergeser. Bagi sebagian besar orang sehat, konsumsi telur dalam jumlah wajar tidak selalu meningkatkan risiko penyakit jantung secara signifikan, terutama jika pola makan secara keseluruhan tetap rendah lemak jenuh. Harvard Health menyebut, untuk kebanyakan orang, satu telur per hari tidak meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, atau penyakit kardiovaskular lain. (Harvard Health)

Temuan lain juga memperkuat pesan serupa. Sebuah studi yang dilaporkan Health menyebut, asupan lemak jenuh lebih berpengaruh terhadap kenaikan LDL dibandingkan kolesterol dari telur. Dalam studi tersebut, pola makan tinggi lemak jenuh berkaitan dengan kenaikan LDL, sementara diet yang tetap memasukkan telur tidak menunjukkan dampak sebesar yang selama ini dikhawatirkan. (Health)

Meski demikian, bukan berarti telur dapat dikonsumsi tanpa batas. Orang dengan riwayat penyakit jantung, diabetes, kolesterol sangat tinggi, atau kondisi genetik seperti familial hypercholesterolemia tetap perlu berhati-hati dan mengikuti saran dokter.

Para ahli menilai, cara memasak dan makanan pendamping telur juga menentukan dampak sarapan terhadap kesehatan. Telur rebus atau telur dengan sedikit minyak tentu berbeda risikonya dibandingkan telur yang digoreng dengan banyak minyak lalu disajikan bersama sosis, bacon, daging olahan, keju tinggi lemak, atau makanan cepat saji.

Makanan olahan tinggi lemak jenuh menjadi salah satu kelompok yang perlu diwaspadai. Sosis, daging olahan, gorengan, makanan cepat saji, mentega berlebih, dan produk tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan kadar LDL jika dikonsumsi secara rutin.

LDL disebut kolesterol jahat karena kadar yang terlalu tinggi dapat berkontribusi pada penumpukan plak di pembuluh darah. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.

American Heart Association menyarankan pembatasan lemak jenuh sebagai bagian dari pola makan untuk menjaga kesehatan jantung. Sejumlah panduan juga menekankan pentingnya mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh dari sumber seperti ikan, kacang-kacangan, biji-bijian, dan minyak nabati tertentu. (American Heart Association Journals)

Selain lemak jenuh, makanan tinggi natrium juga perlu diperhatikan. Natrium berlebih memang tidak secara langsung menaikkan kolesterol, tetapi dapat memperburuk kesehatan kardiovaskular karena berkaitan dengan tekanan darah tinggi.

Karena itu, menu sarapan sebaiknya tidak hanya dinilai dari ada atau tidaknya telur. Kandungan lemak jenuh, garam, serat, cara memasak, dan komposisi makanan secara keseluruhan jauh lebih menentukan.

Pilihan sarapan yang lebih ramah kolesterol antara lain oatmeal, buah berry, alpukat, kacang-kacangan, sayuran, dan sumber protein rendah lemak. Oatmeal mengandung serat larut yang dapat membantu mengikat kolesterol di saluran pencernaan sebelum diserap tubuh.

Buah berry juga memberi manfaat karena mengandung serat dan antioksidan. Sementara alpukat mengandung lemak tak jenuh yang lebih baik untuk kesehatan jantung jika dikonsumsi dalam porsi wajar.

Kacang-kacangan seperti almond, kenari, dan kacang tanah tanpa tambahan garam juga dapat menjadi pilihan. Namun, porsinya tetap perlu dikontrol karena kelompok makanan ini tinggi kalori.

Dengan demikian, perhatian utama dalam menjaga kolesterol sebaiknya tidak hanya tertuju pada telur. Pola makan harian yang tinggi lemak jenuh, makanan olahan, gorengan, dan garam justru perlu lebih dibatasi.

Telur tetap bisa menjadi bagian dari menu sehat, selama dikonsumsi secara wajar dan dipadukan dengan makanan tinggi serat. Bagi orang dengan kondisi medis tertentu, pengaturan konsumsi telur dan lemak tetap perlu disesuaikan dengan pemeriksaan kesehatan dan rekomendasi tenaga medis.

Simak Berita Lainnya dari Cyrustimes dengan Mengikuti di Google Berita

Ikuti Cyrustimes di Google Berita

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com langsung melalui Google Berita.

Ikuti di Google Berita