Estimasi waktu baca: 4 menit

Data Kelulusan Alumni UPR Diduga Bermasalah

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA Sejumlah alumni Universitas Palangka Raya (UPR) periode kelulusan Juni 2026 mengeluhkan persoalan data akademik yang muncul pada sistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti) dan layanan Tracer Study.

Persoalan tersebut menjadi perhatian setelah sejumlah lulusan mengaku mengalami kendala ketika hendak mengikuti program Magang Nasional Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) melalui platform MagangHub.

Informasi mengenai keluhan tersebut sebelumnya disampaikan melalui akun Instagram @kabarpolitikupr, yang dikenal sebagai media informasi mahasiswa dan kampus UPR.

Berdasarkan laporan yang beredar, mahasiswa sebelumnya telah memastikan status kelulusan mereka tercatat di PDDikti pada semester genap tahun akademik 2025/2026. Namun, ketika melakukan pendaftaran program magang, sebagian peserta justru mendapatkan keterangan “Tidak Eligible” karena data pendidikan disebut tidak ditemukan pada PDDikti.

Persoalan kemudian diketahui setelah mahasiswa melakukan pengecekan lebih lanjut melalui laman Tracer Study yang terhubung dengan data pendidikan tinggi.

Dalam sejumlah kasus yang dilaporkan, tahun kelulusan disebut tercatat tidak sesuai. Alumni yang seharusnya lulus pada Juni 2026 disebut menemukan data kelulusan yang justru menunjukkan tahun 2025.

Berpengaruh pada Kesempatan Magang

Masalah tersebut menjadi serius karena data akademik pada sistem pemerintah dapat menjadi salah satu dasar proses verifikasi peserta program.

Program Magang Nasional melalui MagangHub memang ditujukan antara lain untuk mempertemukan mahasiswa dan lulusan baru dengan kesempatan magang di dunia kerja. Kemnaker pada Juni 2026 kembali membuka program Magang Nasional melalui platform tersebut. 

Dengan kondisi itu, kesalahan pencatatan data akademik berpotensi membuat lulusan yang sebenarnya memenuhi persyaratan justru mengalami hambatan ketika mengikuti proses seleksi.

Keluhan mahasiswa juga disebut tidak hanya berasal dari satu program studi. Konfirmasi kepada admin program studi disebut menunjukkan adanya mahasiswa dari program studi lain yang menghadapi persoalan serupa.

Upaya perbaikan data pun disebut telah dilakukan. Namun, berdasarkan informasi yang disampaikan mahasiswa, proses tersebut belum menunjukkan perkembangan yang dianggap memadai. Laman Tracer Study yang biasa digunakan bahkan sempat dilaporkan tidak dapat diakses.

Netizen Ikut Soroti Persoalan Data

Persoalan tersebut kemudian mendapat respons dari warganet di kolom komentar unggahan @kabarpolitikupr.

Akun @subardi_alsobri menyinggung bahwa persoalan ketidaktelitian penginputan data akademik disebut bukan masalah baru.

“Dari 2015 masih, kayanya yg input asal aja ini…”

Komentar lain datang dari akun @shiged, yang mengaku mengalami persoalan sinkronisasi ketika mencoba mendaftar melalui platform MagangHub.

“Bener ini, kemarin nyoba maganghub kemenaker gak singkron.”

Sementara akun @tkskutinindriana menyoroti dampak persoalan tersebut terhadap lulusan yang sedang memasuki dunia kerja.

“Waduh kasihan anak anak yg mau daftar kerja nanti bermasalah maka negeri bisa begitu.”

Komentar-komentar tersebut menunjukkan bahwa persoalan administrasi akademik tidak hanya dipandang sebagai kesalahan teknis internal kampus. Bagi lulusan, ketepatan data dapat berkaitan langsung dengan kesempatan memperoleh pekerjaan, mengikuti program pemerintah maupun melanjutkan proses pendidikan.

Dugaan Manipulasi Perlu Dibuktikan

Munculnya perbedaan tahun kelulusan kemudian memicu dugaan di kalangan mahasiswa mengenai kemungkinan adanya manipulasi data.

Namun, perubahan atau ketidaksesuaian data pada sistem akademik belum dengan sendirinya membuktikan adanya manipulasi. Penyebabnya masih perlu ditelusuri melalui rekam perubahan data, dokumen kelulusan, laporan PDDikti serta penjelasan pihak yang memiliki kewenangan dalam proses pelaporan.

Hal yang menjadi perhatian utama saat ini adalah memastikan data alumni periode Juni 2026 tercatat sesuai dokumen akademik yang sebenarnya.

UPR sebelumnya juga tengah melakukan berbagai upaya terkait penguatan tata kelola akademik. Pada Juli 2026, UPR diberitakan mempercepat pemenuhan persyaratan akreditasi institusi sesuai ketentuan BAN-PT. 

Karena itu, persoalan data kelulusan menjadi penting untuk segera diselesaikan agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas bagi para lulusan.

Terlebih, alumni yang baru menyelesaikan pendidikan berada pada fase penting untuk memasuki dunia kerja. Kesalahan tahun kelulusan atau ketidaksinkronan data pada sistem nasional dapat menimbulkan hambatan administratif yang berada di luar kendali mahasiswa.

Alumni Menunggu Perbaikan Data

Para alumni pada akhirnya membutuhkan kepastian bahwa data akademik mereka telah tercatat secara benar dan dapat terbaca oleh sistem yang digunakan instansi lain.

Perbaikan juga perlu dilakukan secara menyeluruh apabila persoalan serupa memang terjadi pada lebih dari satu program studi.

Yang menjadi perhatian bukan hanya kapan data diperbaiki, tetapi juga bagaimana memastikan persoalan serupa tidak kembali terjadi pada lulusan berikutnya.

CyrusTimes memandang persoalan ini layak menjadi perhatian karena menyangkut hak alumni atas data akademik yang akurat serta akses mereka terhadap kesempatan kerja dan program pemerintah.

Hingga berita ini disusun, informasi yang tersedia berasal dari laporan mahasiswa dan unggahan akun media informasi mahasiswa. CyrusTimes belum memperoleh penjelasan resmi dari pihak UPR mengenai penyebab perbedaan data kelulusan tersebut maupun jumlah alumni yang terdampak.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

AA3F4864-5C8D-4C02-B0C2-F53C75889A03
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja