Udara Berbahaya Masih Kepung Kalteng
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) masih berada pada kondisi mengkhawatirkan pada Senin (21/9/2026) pagi. Pantauan ISPU KLH/BPLH yang diperoleh Cyrustimes menunjukkan Murung Raya mencatat ISPU 4.090 pada pukul 09.00 WIB, dengan parameter kritis PM10.
Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara stasiun Kalteng yang terlihat dalam pemantauan pagi ini. Mobile AQMS BPBD Kalteng berada pada ISPU 762, Barito Selatan-Sanggu 987, Kotawaringin Timur 587 dan Kapuas 303.
- Udara Berbahaya Masih Kepung Kalteng
- ISPU Murung Raya Melonjak Lebih dari Dua Kali Lipat
- Mobile AQMS BPBD Kalteng Ikut Memburuk
- Lima Stasiun Kalteng Masih Berstatus Berbahaya
- Kabut Asap Masih Bayangi Palangka Raya
- Hotspot Kalteng Turun Jadi 968 Titik
- Turunnya Hotspot Belum Berarti Udara Langsung Membaik
- Pemerintah Kerahkan 64 Armada Udara
- Jarak Pandang Sempat Turun 600 Meter
- Lebih dari 91 Ribu Kasus ISPA Tercatat
- Sekolah Masih Menyesuaikan Kondisi Udara
- Kalteng Masih Berstatus Siaga Darurat
- Udara Berbahaya Masih Jadi Ancaman Utama
Seluruhnya masih berada pada kategori Berbahaya, yakni ISPU di atas 300.
Kondisi itu terjadi ketika data terbaru Kementerian Kehutanan menunjukkan hotspot high confidence di Kalteng mulai turun menjadi 968 titik dari sebelumnya 1.035 titik. Meski menurun, Kalteng masih menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Dengan demikian, penurunan hotspot belum langsung diikuti pemulihan kualitas udara secara merata.
ISPU Murung Raya Melonjak Lebih dari Dua Kali Lipat
Perubahan paling mencolok terjadi di Murung Raya.
Berdasarkan pantauan ISPU yang diperoleh CyrusTimes, pada Minggu (20/9) pukul 22.00 WIB Murung Raya tercatat berada pada ISPU 1.628 dengan parameter kritis PM2.5.
Pada Senin pukul 09.00 WIB, indeks tersebut melonjak menjadi 4.090, kali ini dengan parameter kritis PM10.
Artinya, dalam sekitar 11 jam indeks yang ditampilkan stasiun tersebut bertambah 2.462 poin atau sekitar 151 persen.
Perubahan parameter kritis dari PM2.5 menjadi PM10 juga perlu diperhatikan. Karena itu, kedua angka tidak boleh dibaca sebagai perubahan konsentrasi partikulat secara langsung.
ISPU 4.090 merupakan nilai indeks, bukan konsentrasi PM10 sebesar 4.090 µg/m³.
Lonjakan ekstrem tersebut juga perlu terus dicermati melalui pembacaan berikutnya untuk memastikan konsistensi data stasiun dan apakah nilai bertahan, meningkat atau turun.
Murung Raya sendiri telah meningkatkan penanganan bencana menjadi Status Tanggap Darurat Kekeringan dan Karhutla pada 18 September 2026.
Mobile AQMS BPBD Kalteng Ikut Memburuk
Pemburukan juga terlihat pada Mobile AQMS BPBD Kalteng.
Pada Minggu pukul 22.00 WIB, stasiun tersebut mencatat ISPU 642 dengan parameter kritis PM10.
Senin pukul 09.00 WIB angkanya meningkat menjadi 762, atau bertambah 120 poin.
Sebaliknya, Barito Selatan-Sanggu turun tipis dari 1.000 menjadi 987, sedangkan Kotawaringin Timur turun dari 619 menjadi 587.
Perbaikan lebih besar terlihat di Kapuas. ISPU turun dari 531 pada Minggu malam menjadi 303 pada Senin pukul 09.00 WIB.
Namun angka 303 masih sedikit berada di atas batas kategori Berbahaya sehingga belum dapat dikategorikan aman.
Lima Stasiun Kalteng Masih Berstatus Berbahaya
Berdasarkan tangkapan layar ISPU pagi ini, kondisi stasiun Kalteng yang terlihat adalah:
| Wilayah | Minggu 22.00 WIB | Senin 09.00 WIB | Perubahan | Parameter Senin |
| Murung Raya | 1.628 | 4.090 | +151% | PM10 |
| Barito Selatan-Sanggu | 1.000 | 987 | -1,3% | PM10 |
| Mobile AQMS BPBD Kalteng | 642 | 762 | +18,7% | PM10 |
| Kotawaringin Timur | 619 | 587 | -5,2% | PM10 |
| Kapuas | 531 | 303 | -42,9% | PM2.5 |
Data tersebut menunjukkan kondisi udara bergerak berbeda antarwilayah. Sebagian membaik, sementara Murung Raya dan Mobile AQMS BPBD Kalteng justru mengalami peningkatan.
Namun satu kesamaan masih terlihat: seluruh lima stasiun tetap berada pada kategori Berbahaya.
Kabut Asap Masih Bayangi Palangka Raya
Palangka Raya juga belum sepenuhnya terbebas dari tekanan partikulat dan kabut asap.
Pemantauan kualitas udara BMKG terbaru yang terindeks pada Senin menunjukkan PM2.5 Palangka Raya 511,8 µg/m³, berada pada kategori Berbahaya. BMKG menetapkan PM2.5 di atas 250,5 µg/m³ sebagai kategori Berbahaya.
Berbeda dengan data ISPU, angka BMKG tersebut merupakan konsentrasi PM2.5 dalam satuan µg/m³, sehingga tidak boleh dibandingkan secara langsung dengan angka indeks ISPU.
BMKG juga masih memprakirakan kondisi kabut/asap hingga udara kabur di sejumlah wilayah Kalteng pada Senin. Kecepatan angin pada prakiraan tingkat kecamatan relatif rendah di beberapa periode, sementara udara kabur masih diprakirakan bertahan hingga malam.
Kondisi angin yang lemah dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan karena dispersi polutan dapat berlangsung lebih lambat, meskipun konsentrasi partikulat tetap dipengaruhi banyak faktor seperti sumber kebakaran, kelembapan, stabilitas atmosfer dan arah angin.
Hotspot Kalteng Turun Jadi 968 Titik
Di tengah buruknya kualitas udara, terdapat perkembangan berbeda dari sisi hotspot.
Kementerian Kehutanan dalam pembaruan resmi Senin (21/9) mencatat 968 hotspot high confidence di Kalteng hingga Minggu (20/9) pukul 21.05 WIB.
Jumlah tersebut turun 67 titik dari 1.035 hotspot pada pemantauan sebelumnya.
Namun Kalteng masih menempati posisi tertinggi di antara enam provinsi prioritas.
Pada pembaruan yang sama, Sumatera Selatan tercatat 285 hotspot, Kalimantan Barat 98, Kalimantan Selatan 39, Jambi 26 dan Riau satu titik.
Secara nasional, Kementerian Kehutanan mencatat 1.532 hotspot high confidence hingga Minggu pukul 23.59 WIB, meningkat 209 titik dibandingkan 1.323 hotspot pada Sabtu.
Data ini menunjukkan situasi nasional masih dinamis meskipun hotspot Kalteng mengalami penurunan.
Turunnya Hotspot Belum Berarti Udara Langsung Membaik
Kondisi Senin pagi memperlihatkan bahwa pergerakan hotspot dan kualitas udara tidak selalu berlangsung bersamaan.
Hotspot Kalteng turun dari 1.035 menjadi 968 titik, tetapi sejumlah stasiun kualitas udara masih menunjukkan kategori Berbahaya.
Hal tersebut dapat terjadi karena kabut asap dan partikulat yang sudah berada di atmosfer dapat bertahan dan berpindah mengikuti kondisi meteorologi.
Kementerian Kehutanan juga menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang dideteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas lahan terbakar. Satu kebakaran bahkan dapat menghasilkan beberapa deteksi hotspot.
Karena itu, perkembangan karhutla perlu dilihat melalui kombinasi hotspot, kebakaran aktual di lapangan, kualitas udara, konsentrasi partikulat, arah angin, hujan dan jarak pandang.
Pemerintah Kerahkan 64 Armada Udara
Pemerintah memperkuat operasi pengendalian karhutla menyusul kondisi yang masih dinamis di Kalteng dan sejumlah wilayah lain.
Kementerian Kehutanan menyebut sejak Agustus pemerintah telah mengerahkan 64 pesawat dan helikopter serta 54.394 personel gabungan untuk penanganan karhutla di berbagai wilayah terdampak.
Armada udara terdiri atas helikopter water bombing, helikopter patroli serta pesawat pendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Di darat, Manggala Agni bekerja bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha dan relawan.
Operasi meliputi patroli, ground check, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan hingga pendinginan.
Khusus Kalteng, laporan SIRINE per 20 September menyebut 10.700 personel gabungan disiagakan di seluruh Posko Penanganan Darurat Bencana dan regu pemadam darat.
Dalam laporan tersebut, tim gabungan menangani 64 kejadian karhutla dan memadamkan sekitar 35,11 hektare lahan.
Jarak Pandang Sempat Turun 600 Meter
Kabut asap juga telah menekan aktivitas penerbangan di Palangka Raya.
Kementerian Kehutanan mencatat jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut pada Minggu (20/9) sempat turun hingga sekitar 600 meter.
Kondisi itu berdampak terhadap 14 pergerakan pesawat, terdiri dari tujuh kedatangan dan tujuh keberangkatan.
Jarak pandang pada Minggu pagi sebelumnya masih sekitar 1.200 meter pukul 05.00 WIB sebelum merosot menjadi sekitar 600 meter pada pukul 10.30–11.00 WIB.
Operasi udara untuk pemadaman dan OMC juga sangat bergantung pada kondisi meteorologi, potensi awan, jarak pandang serta keselamatan penerbangan.
Lebih dari 91 Ribu Kasus ISPA Tercatat
Dampak kesehatan tetap menjadi perhatian.
Berdasarkan Laporan Harian SIRINE Pos Komando Darurat Bencana Karhutla per 18 September, tercatat secara kumulatif 91.342 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di seluruh Kalteng.
Selain itu, tercatat 22.533 kasus diare secara kumulatif. Pada pekan kedua September terdapat tambahan 5.512 kasus ISPA.
Angka tersebut merupakan kasus yang tercatat dalam sistem pelayanan kesehatan dan tidak berarti seluruh kasus secara individual telah dibuktikan disebabkan langsung oleh kabut asap karhutla.
Namun data kesehatan tersebut menjadi perhatian ketika kualitas udara di berbagai wilayah Kalteng masih berada pada kategori Tidak Sehat hingga Berbahaya.
Sekolah Masih Menyesuaikan Kondisi Udara
Dampak asap juga telah memengaruhi kegiatan pendidikan.
Pemprov Kalteng sebelumnya menetapkan satuan pendidikan SMA, SMK dan SKh di wilayah terdampak dengan kualitas udara Tidak Sehat hingga Berbahaya dapat melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Sementara di Palangka Raya, kebijakan pembelajaran PAUD hingga SMP juga telah beberapa kali disesuaikan berdasarkan perkembangan ISPU.
Dinas Pendidikan menyatakan evaluasi dilakukan setiap hari dengan kesehatan dan keselamatan peserta didik menjadi pertimbangan utama.
Dengan kondisi kualitas udara kembali berada pada level Berbahaya, perkembangan kebijakan pembelajaran pada Senin menjadi salah satu hal yang perlu dipantau.
Kalteng Masih Berstatus Siaga Darurat
Pemerintah Provinsi Kalteng sebelumnya menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla hingga 31 Oktober 2026 melalui Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/142/2026.
Sejumlah kabupaten/kota juga telah meningkatkan status penanganan sesuai kondisi wilayah masing-masing.
Murung Raya termasuk daerah yang pada 18 September meningkatkan status menjadi Tanggap Darurat Kekeringan dan Karhutla.
Status tersebut memungkinkan penguatan personel, logistik dan operasi penanganan ketika kondisi kebakaran maupun dampaknya terhadap masyarakat meningkat.
Udara Berbahaya Masih Jadi Ancaman Utama
Perkembangan Senin pagi memperlihatkan dua indikator yang bergerak berbeda.
Dari sisi titik panas, terdapat penurunan dari 1.035 menjadi 968 hotspot high confidence di Kalteng.
Namun dari sisi kualitas udara, Murung Raya justru mencatat ISPU 4.090, Mobile AQMS BPBD Kalteng 762, Barito Selatan-Sanggu 987, Kotawaringin Timur 587 dan Kapuas 303.
Di Palangka Raya, pemantauan PM2.5 BMKG juga masih menunjukkan kategori Berbahaya.
Artinya, penurunan hotspot belum cukup menjadi dasar untuk menyatakan kondisi udara Kalteng telah pulih.
Perkembangan berikutnya akan sangat ditentukan oleh keberhasilan pemadaman, pembasahan gambut, OMC, kondisi angin serta realisasi hujan.
BMKG sebelumnya menyatakan kondisi atmosfer kering masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia akibat musim kemarau yang diperkuat El Niño sangat kuat. Namun peluang hujan lokal dengan intensitas sedang tetap terdapat di Kalteng.
Bagi masyarakat di wilayah terdampak, Kementerian Kehutanan mengimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus diperlukan bagi anak-anak, ibu hamil, lansia serta masyarakat dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis.
Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.
Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes
Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).
⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan

Tinggalkan Balasan