Estimasi waktu baca: 2 menit

Literasi digital di Kotim didorong hingga desa agar warga tidak hanya cakap memakai teknologi, tetapi juga aman dari hoaks, penipuan, dan kejahatan siber.

CYRUSTIMES, SAMPIT – Internet kini semakin masuk ke ruang hidup warga desa. Informasi pemerintah, layanan publik, transaksi keuangan, promosi UMKM, hingga komunikasi keluarga bergerak cepat melalui layar ponsel.

Namun, perluasan akses digital juga membawa risiko baru. Warga desa tidak hanya berhadapan dengan peluang teknologi, tetapi juga ancaman hoaks, penipuan online, pencurian data pribadi, link bantuan palsu, investasi bodong, hingga kejahatan siber.

Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Komunikasi dan Informatika atau Diskominfo membentuk Forum Koordinasi Lintas Sektor Bidang Literasi Digital dan Keamanan Informasi. Forum ini diarahkan untuk memperkuat literasi digital dan keamanan informasi masyarakat.

Penjabat Sekretaris Daerah Kotim, Umar Kaderi, berharap forum tersebut dapat menjangkau kecamatan hingga desa.

“Saya berharap ini bisa menjangkau hingga ke kecamatan dan desa,” kata Umar saat membuka pembentukan forum di aula Diskominfo Kotim.

Kepala Diskominfo Kotawaringin Timur, Cok Orda Putra Legawa, mengatakan masyarakat Kotim sudah melek digital, tetapi masih perlu didorong dalam pemanfaatannya.

“Masyarakat kita ini melek digital, tapi masih perlu didorong dalam pemanfaatannya. Penguatan pada pilar literasi digital dan pemberdayaan masyarakat menjadi kunci untuk meningkatkan indeks di Kabupaten Kotawaringin Timur,” tegas Cok Orda.

Cok Orda juga menyoroti risiko ruang digital yang semakin kompleks, mulai dari hoaks, penipuan, keamanan data, cybercrime, hingga ujaran kebencian. Karena itu, literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan warga memakai aplikasi.

Warga perlu memahami cara memeriksa tautan mencurigakan, mengenali pesan palsu yang mengatasnamakan pemerintah, tidak sembarangan mengirim foto KTP, serta tidak mudah tergoda pinjaman online ilegal atau investasi yang menjanjikan keuntungan tidak masuk akal.

Program prioritas literasi digital di Kotim juga mencakup edukasi keamanan data pribadi, antihoaks, antipenipuan digital, literasi digital sekolah, pesantren, komunitas, desa digital, hingga pelatihan UMKM go digital.

Dengan demikian, desa tidak boleh hanya menjadi pasar baru teknologi. Desa harus menjadi ruang digital yang aman, produktif, dan terlindungi.

Ketika internet masuk desa, perlindungan warga juga harus ikut masuk. Tanpa literasi yang kuat, akses digital justru bisa berubah menjadi pintu baru bagi kejahatan online.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.