Estimasi waktu baca: 8 menit

Puluhan Ton Garam Disebar di Langit Kalteng

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Pesawat penyemai awan telah berulang kali diterbangkan di atas Kalimantan Tengah (Kalteng) sepanjang musim kemarau 2026. Puluhan ton bahan semai ditaburkan untuk memanfaatkan awan potensial, menghasilkan hujan dan membasahi lahan gambut yang rawan terbakar.

Namun di tengah operasi yang sudah berlangsung sejak Juni, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi dan jumlah hotspot bahkan beberapa kali kembali melonjak tajam.

Pertanyaannya kemudian muncul: seberapa efektif Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menekan karhutla di Kalteng?

Data pemerintah menunjukkan OMC memang membantu menghasilkan hujan dan meningkatkan pembasahan lahan. Tetapi perkembangan hotspot yang naik-turun dengan cepat menunjukkan OMC bukan solusi tunggal untuk menghentikan karhutla.

OMC Kalteng Sudah Dilakukan Berulang Sejak Juni

Catatan resmi BMKG menunjukkan setidaknya terdapat tujuh entri periode operasi pembasahan gambut dan penanganan karhutla di Kalteng sejak pertengahan Juni hingga pertengahan September 2026.

Operasi tersebut tercatat berlangsung pada periode:

  • 15–30 Juni 2026
  • 27 Juli–2 Agustus 2026
  • 31 Juli–4 Agustus 2026
  • 11–15 Agustus 2026
  • 26 Agustus–2 September 2026
  • 5–14 September 2026
  • 6–11 September 2026

Sebagian periode saling beririsan karena operasi dilaksanakan dengan dukungan instansi dan armada berbeda, termasuk BNPB serta Kementerian Kehutanan.

BMKG Kalteng menjelaskan OMC sudah digunakan sejak 15 Juni sebagai langkah pembasahan kawasan rawan sebelum memasuki puncak musim kemarau.

Penyemaian awan difokuskan untuk meningkatkan peluang hujan sehingga kelembapan tanah dan ketersediaan air di kawasan gambut dapat dipertahankan.

Puluhan Ton Garam Sudah Disebar dari Udara

Skala operasinya cukup besar.

BNPB mencatat pesawat Cessna 208 PK-FPU pada periode 16–30 Juni melakukan penerbangan selama 63 jam 18 menit dengan menyebarkan 31.000 kilogram bahan semai.

Operasi kemudian berlanjut pada akhir Juli hingga awal Agustus dengan 5.000 kilogram bahan semai, disusul 3.000 kilogram dan 5.000 kilogram pada operasi berikutnya.

Sejak 6 September hingga laporan BNPB pada 11 September, pesawat tersebut kembali mencatat 15 jam 3 menit penerbangan dengan penggunaan 7.000 kilogram bahan semai.

Dukungan lain datang dari pesawat CASA 212 A-2103 milik TNI yang mulai beroperasi sejak 26 Agustus dan hingga 11 September telah menyebarkan sekitar 13.600 kilogram bahan semai.

Jika angka-angka yang dirinci BNPB itu dijumlahkan, sedikitnya 64,6 ton bahan semai telah digunakan dalam rangkaian operasi tersebut hingga 11 September.

Tujuh Sortie dalam Operasi September

Kementerian Kehutanan juga mencatat lebih rinci operasi pada September.

OMC di Kalteng yang berlangsung pada 6–15 September telah melakukan tujuh sortie penerbangan hingga 11 September, menggunakan sekitar 5.600 kilogram NaCl.

Wilayah penyemaian antara lain mencakup sekitar Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur dan Pulang Pisau.

Kementerian Kehutanan menyatakan hujan yang terbentuk selama operasi tersebut membantu membasahi lahan serta mendukung tim pemadaman yang bekerja di darat.

OMC Memang Berhasil Membantu Menurunkan Hujan

Ada bukti bahwa operasi tersebut mampu memanfaatkan awan potensial.

Pada 8 September 2026, Kementerian Kehutanan menyatakan OMC mendukung terjadinya hujan di sebagian wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.

Hujan kemudian membantu meningkatkan kelembapan dan membasahi lahan yang terdampak kekeringan.

Dengan demikian, dari sisi tujuan teknis untuk mengoptimalkan hujan dari awan yang tersedia, OMC dapat memberikan hasil.

Namun ketika efektivitas diukur dari jumlah hotspot, gambarnya menjadi jauh lebih kompleks.

Setelah Hujan, Hotspot Kalteng Justru Sempat Naik

Pada 8 September, ketika OMC disebut mendukung turunnya hujan di sebagian Kalteng, hotspot high confidence di provinsi ini justru meningkat dari 46 menjadi 63 titik.

Kementerian Kehutanan saat itu menegaskan bahwa meskipun hujan telah turun, operasi dan kewaspadaan tetap harus diperkuat.

Dua hari kemudian, pada 10 September, jumlah hotspot high confidence di Kalteng kembali tercatat 96 titik, menjadi yang tertinggi di antara enam provinsi prioritas penanganan karhutla.

Data tersebut memperlihatkan bahwa turunnya hujan hasil pemanfaatan OMC tidak otomatis membuat seluruh titik panas menghilang.

Hotspot Kemudian Turun Lebih dari Separuh

Perkembangan lebih positif terlihat beberapa hari berikutnya.

Pada 12 September, jumlah hotspot high confidence Kalteng turun dari 271 menjadi 197 titik.

Penurunan lebih besar terjadi sehari kemudian.

Data 13 September menunjukkan hotspot high confidence Kalteng hanya 89 titik, turun dari 197 titik sehari sebelumnya.

Artinya, jumlah hotspot berkurang lebih dari separuh dalam satu hari.

Dalam periode tersebut, OMC berjalan bersamaan dengan pemadaman darat, water bombing, patroli udara, pembasahan dan pendinginan lahan.

Karena banyak intervensi dilakukan secara bersamaan, penurunan hotspot tersebut tidak dapat diklaim semata-mata sebagai hasil OMC.

Sehari Kemudian Melonjak Jadi 689 Titik

Perkembangan paling mencolok terjadi pada 14 September 2026.

Setelah sehari sebelumnya tercatat 89 titik, jumlah hotspot high confidence Kalteng melonjak menjadi 689 titik.

Kalimantan Tengah kembali menjadi wilayah dengan konsentrasi hotspot high confidence terbesar di antara provinsi prioritas karhutla.

Perubahan 89 menjadi 689 hotspot hanya dalam satu hari menunjukkan betapa dinamisnya kondisi karhutla pada musim kemarau.

Namun angka hotspot juga perlu dibaca secara hati-hati.

Kementerian Kehutanan menegaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit, bukan selalu satu titik kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa hotspot dan harus diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.

Meski demikian, lonjakan tersebut tetap menunjukkan kondisi lahan masih sangat rentan.

Jadi, Efektifkah OMC?

Jawabannya: efektif sebagai alat bantu pembasahan, tetapi belum cukup untuk mengendalikan karhutla sendirian.

OMC dapat meningkatkan peluang hujan ketika terdapat awan yang memenuhi syarat, kemudian hujan membantu meningkatkan kelembapan tanah, mengisi sumber air dan membasahi kawasan gambut.

Tetapi teknologi tersebut memiliki keterbatasan mendasar.

BMKG menegaskan modifikasi cuaca bukan menciptakan hujan dari langit yang benar-benar tanpa awan.

Teknologi itu bekerja dengan mengoptimalkan awan potensial yang sudah terbentuk di atmosfer. Jika tidak tersedia awan yang layak disemai, OMC tidak dapat bekerja secara efektif.

Kondisi ini menjadi tantangan besar ketika Kalteng menghadapi periode atmosfer sangat kering akibat musim kemarau dan pengaruh El Niño.

Api Gambut Bisa Bertahan di Bawah Tanah

Masalah berikutnya berada di karakter lahan Kalimantan Tengah.

Banyak lokasi kebakaran berada di kawasan gambut.

Api pada lahan gambut tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi dapat menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah.

Ketika api permukaan terlihat padam, bara masih dapat bertahan dan kembali menyala ketika lapisan atas mengering.

Kementerian Kehutanan karena itu menegaskan penurunan hotspot tidak otomatis berarti seluruh kebakaran telah padam. Pembasahan, pendinginan dan pemeriksaan lokasi tetap harus dilakukan terus-menerus.

Hujan sesaat juga belum tentu mampu membasahi gambut sampai kedalaman yang diperlukan.

Inilah salah satu alasan mengapa OMC perlu dilakukan berulang.

BNPB: OMC Tak Bisa Berdiri Sendiri

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto juga menegaskan penanganan karhutla tidak dapat menggantungkan diri pada satu jenis operasi udara.

Menurut BNPB, kombinasi antara OMC dengan operasi intensif Satgas Darat menjadi formula yang diperlukan untuk menghadapi kebakaran gambut.

OMC digunakan untuk membasahi wilayah yang luas, sedangkan petugas di darat tetap harus mendatangi lokasi api, menyekat penjalaran, memadamkan bara serta melakukan pendinginan.

Helikopter water bombing digunakan untuk sasaran kebakaran tertentu yang membutuhkan pemadaman langsung dari udara.

Dengan demikian, tiga operasi memiliki fungsi berbeda.

OMC membasahi kawasan secara lebih luas, water bombing menyerang lokasi api dari udara, sementara tim darat memastikan api dan bara benar-benar padam.

Operasi Bahkan Diperpanjang

Besarnya ancaman membuat pemerintah belum menghentikan modifikasi cuaca.

Pemprov Kalimantan Tengah dalam evaluasi terbaru menyatakan pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca diperpanjang hingga 19 September 2026.

Di Tumbang Nusa, Pulang Pisau, penanganan bahkan telah memasuki hari ke-71. Pemerintah menyebut api di kawasan prioritas tersebut sudah dapat dikendalikan dan fokus operasi bergeser kepada pendinginan serta pembasahan untuk mencegah api muncul kembali.

Sementara BNPB sebelumnya menyampaikan kebijakan yang lebih fleksibel.

OMC akan terus dijalankan selama BMKG masih mendeteksi adanya awan potensial yang bisa disemai.

“Operasi Modifikasi Cuaca tidak ada kata berakhir selama potensi bibit awan hujan masih ada,” kata Suharyanto.

Karhutla Tetap Membesar Meski OMC Berulang

Fakta bahwa operasi harus terus diperpanjang menunjukkan persoalan karhutla 2026 memang belum selesai.

BPB-PK Kalteng mencatat hingga 8 September, sekitar 105.019 hotspot telah terdeteksi sepanjang 1 Januari–8 September 2026.

Dalam periode yang sama, laporan lapangan mencatat 2.775 kejadian karhutla dengan area terbakar mencapai sekitar 9.169,22 hektare.

Data tersebut menggunakan cakupan hotspot medium-high dan periode akumulasi berbeda dari data harian high confidence Kementerian Kehutanan, sehingga kedua angka tidak dapat dibandingkan langsung.

Namun keduanya menunjukkan satu persoalan yang sama: tekanan karhutla di Kalteng pada 2026 masih tinggi.

Efektivitas Tidak Bisa Diukur Hanya dari Jumlah Hotspot

Menilai keberhasilan OMC hanya dengan membandingkan jumlah hotspot sebelum dan sesudah penerbangan juga berisiko menghasilkan kesimpulan keliru.

Hotspot dipengaruhi banyak variabel.

Mulai dari tutupan awan yang memengaruhi pengamatan satelit, cuaca, angin, suhu permukaan, munculnya kebakaran baru, keberhasilan operasi darat hingga perilaku manusia.

OMC sendiri juga tidak selalu bekerja di lokasi yang sama dengan titik api karena penyemaian harus mengikuti keberadaan awan potensial dan arah pergerakannya.

Ukuran keberhasilan yang lebih lengkap seharusnya melihat curah hujan tambahan, luas wilayah yang berhasil dibasahi, kelembapan gambut, perubahan tinggi muka air gambut, jumlah kebakaran baru, luas area terbakar dan kualitas udara.

Data hotspot tetap penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.

OMC Membantu, Pencegahan Tetap Kunci

Rangkaian operasi sejak Juni menunjukkan pemerintah terus menggunakan OMC sebagai salah satu senjata utama menghadapi kemarau panjang Kalteng.

Teknologi ini telah membantu menurunkan hujan di sejumlah wilayah dan memperkuat pembasahan lahan.

Namun lonjakan hotspot dari 89 menjadi 689 titik pada 14 September juga memperlihatkan keterbatasannya.

OMC tidak menghilangkan sumber kebakaran, tidak dapat bekerja tanpa awan yang sesuai, dan tidak menggantikan pemadaman api di permukaan maupun bara di bawah gambut.

Karena itu, pertanyaan apakah OMC efektif tidak tepat dijawab hanya dengan “berhasil” atau “gagal”.

OMC efektif sebagai alat bantu untuk menciptakan kondisi yang lebih menguntungkan bagi pengendalian karhutla, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan harus berjalan bersama pencegahan, patroli, pemadaman darat, water bombing, pembasahan gambut serta penegakan hukum.

Selama sumber api baru masih terus muncul dan musim kemarau masih kuat, hujan hasil modifikasi cuaca hanya menjadi salah satu bagian dari pertarungan panjang menekan karhutla di Kalimantan Tengah.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja