Estimasi waktu baca: 6 menit

Karhutla Indonesia Picu Lonjakan ISPA

CYRUSTIMES, JAKARTA – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia semakin bergeser dari persoalan lingkungan menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di wilayah terdampak karhutla hingga 9 September 2026.

Angka tersebut lebih dari dua kali lipat dibanding laporan 50.891 kasus pada 1 September 2026. Dalam rentang delapan hari, jumlah kasus yang dilaporkan bertambah sekitar 62 ribu.

Kasus tersebar di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi, yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.

Lonjakan tersebut terjadi ketika kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan, sementara titik panas kembali meningkat pada pertengahan September.

Lebih dari 26 Ribu Balita Terkena ISPA

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan dampak gangguan pernapasan juga menyentuh kelompok usia yang sangat rentan.

Dari total 113.336 kasus, sebanyak 26.545 kasus terjadi pada anak usia 0–5 tahun. Sementara 86.791 kasus lainnya tercatat pada masyarakat berusia di atas lima tahun.

Pada 9 September saja, Kemenkes mencatat sekitar 4.080 kasus ISPA.

Jumlah balita yang terdampak menjadi perhatian karena anak-anak memiliki sistem pernapasan yang masih berkembang.

Kementerian Kesehatan sebelumnya mengingatkan bahwa anak-anak, lansia, ibu hamil serta penderita penyakit penyerta menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perlindungan lebih tinggi ketika kualitas udara memburuk.

Bukan Hanya ISPA

Paparan kabut asap karhutla tidak hanya dikaitkan dengan peningkatan ISPA.

Kemenkes juga memantau munculnya gangguan kesehatan lain seperti pneumonia, asma, iritasi mata hingga gangguan kulit pada wilayah terdampak.

Asap kebakaran dapat membawa partikel halus PM2,5, karbon monoksida, nitrogen dioksida serta berbagai senyawa hasil pembakaran.

Partikel PM2,5 menjadi salah satu yang paling dikhawatirkan karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Kemenkes menyebut polutan tersebut juga dapat mencapai sistem peredaran darah.

Semakin lama seseorang terpapar dan semakin buruk kualitas udara, risiko gangguan kesehatan juga dapat meningkat.

Lebih dari 12 Juta Warga Terpapar Asap

Reuters melaporkan data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 12,5 juta penduduk di tujuh provinsi terdampak telah terpapar asap dan kabut karhutla hingga awal September.

Wilayah dengan dampak paling besar terkonsentrasi di Sumatra dan Kalimantan.

Skala paparan tersebut meningkat cepat.

Sebagai perbandingan, Situation Report Kemenkes per 27 Agustus sebelumnya masih mencatat sekitar 10,67 juta penduduk terdampak di tujuh provinsi.

Artinya, dalam waktu kurang dari dua pekan, jumlah penduduk yang berada di kawasan terdampak asap terus bertambah seiring meluasnya kebakaran.

Kalteng Catat Lebih dari 79 Ribu Kasus ISPA

Kalimantan Tengah menjadi salah satu daerah dengan beban kesehatan yang berat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencatat hingga 8 September 2026 terdapat 79.081 kasus ISPA berdasarkan rekap daerah.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 6.734 kasus dilaporkan pada minggu keempat Agustus.

Angka daerah tersebut menggunakan periode dan sistem rekap pelaporan tersendiri sehingga tidak sebaiknya langsung dibandingkan satu per satu dengan agregasi nasional Kementerian Kesehatan.

Namun tren yang terlihat sama: kasus gangguan pernapasan meningkat ketika kabut asap memburuk.

Pada saat bersamaan, karhutla di Kalteng masih belum sepenuhnya terkendali.

Data Kementerian Kehutanan menunjukkan pada 14 September 2026, Kalimantan Tengah bahkan kembali mencatat 689 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi, melonjak dari 89 titik pada hari sebelumnya.

Kotawaringin Timur Mulai Rasakan Dampaknya

Peningkatan kasus juga terlihat pada tingkat kabupaten.

Dinas Kesehatan Kotawaringin Timur melaporkan kasus ISPA meningkat selama Agustus 2026 ketika kualitas udara Sampit dan wilayah sekitarnya memburuk akibat karhutla.

Kepala Dinas Kesehatan Kotim Umar Kaderi mengatakan kenaikan tersebut terjadi seiring meningkatnya paparan kabut asap.

Kotawaringin Timur termasuk salah satu wilayah Kalteng yang beberapa kali mengalami kualitas udara buruk selama periode kebakaran.

Kondisi itu menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan.

Asap yang bertahan dan terbawa angin dapat tetap memengaruhi masyarakat yang tinggal jauh dari lokasi kebakaran.

Kotawaringin Barat Catat Lebih dari 12 Ribu Kasus

Tekanan serupa terlihat di Kotawaringin Barat.

Dinas Kesehatan setempat mencatat 12.275 kasus ISPA berdasarkan 33 periode pengamatan hingga awal September 2026.

Data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons menunjukkan jumlah kasus berfluktuasi tetapi cenderung meningkat ketika kabut asap memburuk.

Kasus mingguan sempat naik dari 460 menjadi 470, kemudian mencapai 515 kasus sebelum sedikit turun.

Pola tersebut menjadi salah satu indikator bahwa perubahan kualitas udara perlu dipantau bersamaan dengan perkembangan kasus kesehatan.

Sumatra Juga Mengalami Kenaikan

Dampak kesehatan bukan hanya terjadi di Kalimantan.

Di Palembang, Sumatera Selatan, data Dinas Kesehatan menunjukkan kasus ISPA mingguan meningkat dari 3.807 kasus pada minggu keempat Agustus menjadi 4.104 kasus pada minggu pertama September.

Pada minggu kedua September jumlahnya kembali naik menjadi 4.326 kasus.

Peningkatan tersebut didominasi warga usia produktif dan anak-anak di tengah paparan kabut asap karhutla di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.

Data Palembang hingga 14 September menunjukkan tekanan kesehatan akibat asap belum berhenti meskipun data nasional terakhir Kemenkes yang dipublikasikan secara luas masih menggunakan posisi 9 September.

Karhutla 2026 Memburuk di Tengah El Niño

Lonjakan kasus ISPA terjadi saat Indonesia menghadapi salah satu musim kebakaran terberat dalam beberapa tahun terakhir.

Reuters melaporkan kondisi panas dan kekeringan yang diperkuat El Niño membuat kebakaran hutan dan gambut meluas terutama di Kalimantan dan Sumatra.

Data Copernicus bahkan menunjukkan emisi kebakaran Indonesia pada 1–7 September mencapai sekitar 19,7 juta ton karbon dioksida, lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode tersebut.

Kebakaran di lahan gambut menjadi persoalan khusus.

Api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan bertahan dalam waktu lama meskipun api di permukaan tampak sudah padam.

Asap yang dihasilkan kemudian dapat terus terlepas ke atmosfer dan terbawa hingga ratusan kilometer.

Hampir Satu Juta Masker Didistribusikan

Untuk merespons dampak kesehatan, Kementerian Kesehatan memperkuat pelayanan di daerah terdampak.

Hingga 9 September, pemerintah telah menyiagakan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan dan 87 laboratorium kesehatan masyarakat untuk mendukung penanganan karhutla dan pengujian kualitas udara.

Sekitar 1.836 tenaga kesehatan juga telah dikerahkan ke tujuh provinsi terdampak.

Kalimantan Tengah mendapat dukungan sekitar 487 tenaga kesehatan, sementara Jambi 592 orang dan Sumatera Selatan 382 orang.

Kemenkes juga telah mendistribusikan sekitar 980 ribu masker, ratusan oxygen concentrator serta berbagai perlengkapan medis ke wilayah terdampak.

Anak-anak hingga Lansia Paling Perlu Dilindungi

Kemenkes menempatkan anak-anak, ibu hamil, lansia dan warga dengan penyakit bawaan sebagai kelompok yang membutuhkan perhatian khusus.

Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat harus keluar rumah, memantau indeks kualitas udara serta memperbanyak konsumsi air putih.

Warga yang mengalami sesak napas atau gangguan kesehatan yang memburuk diminta segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan.

Kebijakan perlindungan tidak hanya menjadi urusan fasilitas kesehatan.

Sekolah, pemerintah daerah dan tempat kerja juga menghadapi kebutuhan menyesuaikan aktivitas ketika kualitas udara masuk kategori sangat tidak sehat atau berbahaya.

Api Belum Padam, Risiko ISPA Masih Mengintai

Data Kementerian Kehutanan terbaru memperlihatkan ancaman karhutla belum selesai.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja