Estimasi waktu baca: 6 menit

Miliaran Dolar Masuk ke Data Center Indonesia, Apa Untungnya Selain Jadi Lokasi Server?

CYRUSTIMES, JAKARTA – Gelombang investasi pusat data atau data center berbasis kecerdasan artifisial (AI) semakin besar di Indonesia. Kapasitas yang beroperasi saat ini disebut telah mencapai sekitar 580 megawatt (MW), sementara proyek baru dengan total kapasitas sekitar 1,3 gigawatt (GW) masuk dalam pipeline investasi.

Nilainya tidak kecil.

Pemerintah memperkirakan investasi untuk pengembangan pusat data tersebut dapat mencapai US$15 miliar hingga US$20 miliar.

Batam, Karawang hingga kawasan industri di sekitar Jakarta menjadi lokasi yang semakin dilirik investor karena kebutuhan komputasi AI tumbuh dengan cepat.

Namun besarnya investasi tersebut memunculkan peringatan baru.

Indonesia dinilai tidak boleh sekadar menjadi tempat gedung data center berdiri dan server perusahaan global beroperasi, sementara teknologi, keahlian bernilai tinggi hingga rantai bisnis AI tetap dikuasai pihak luar.

Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menilai masuknya penanaman modal asing tetap dibutuhkan karena industri pusat data membutuhkan modal besar dan teknologi maju.

Namun investasi tersebut harus diarahkan menghasilkan transfer teknologi.

“Investasi asing perlu diarahkan pemerintah agar menghasilkan transfer teknologi, peningkatan kompetensi SDM dan nilai tambah ekonomi bagi Indonesia,” kata Heru, Selasa, 15 September 2026.

Kapasitas Data Center Indonesia Baru 580 MW

Pemerintah melihat pusat data sebagai salah satu infrastruktur penting untuk mengejar pertumbuhan industri AI.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Juli 2026 menyebut kapasitas data center yang telah beroperasi di Indonesia berada di kisaran 580 MW.

Sementara minat investasi baru mencapai sekitar 1,3 GW.

Jika seluruh rencana tersebut terealisasi, tambahan kapasitas yang direncanakan bahkan lebih dari dua kali kapasitas yang telah beroperasi saat ini.

Airlangga menyebut proyek yang masuk pipeline membawa potensi investasi sekitar US$15 miliar hingga US$20 miliar.

Ia juga mengatakan Nvidia menjadi salah satu perusahaan yang tengah dilirik dalam pengembangan infrastruktur tersebut, selain investasi Telkom dan ekspansi sejumlah perusahaan teknologi besar di Karawang.

Pertumbuhan tersebut didorong kebutuhan komputasi AI yang jauh lebih besar dibanding banyak layanan digital generasi sebelumnya.

Model AI generatif membutuhkan GPU, jaringan berkecepatan tinggi, penyimpanan data serta pasokan energi dalam jumlah besar.

Karena itu, persaingan teknologi saat ini tidak lagi hanya mengenai siapa yang memiliki aplikasi AI terbaik.

Infrastruktur tempat AI dilatih dan dijalankan ikut menjadi aset strategis.

Indonesia Bangun AI Factory hingga 1 GW

Salah satu proyek besar yang diumumkan tahun ini adalah Zankore, hasil kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia dan Nvidia.

Pemerintah menyebut proyek tersebut sebagai AI Factory yang ditargetkan memiliki kapasitas hingga 1 GW dalam tiga tahun.

AI Factory berbeda dengan data center biasa.

Infrastrukturnya menggabungkan data center yang siap menangani beban AI, GPU berperforma tinggi, jaringan, penyimpanan data, GPU-as-a-Service hingga sistem pengelolaan workload AI.

Artinya, fasilitas tersebut dirancang khusus untuk menghasilkan daya komputasi yang dibutuhkan perusahaan maupun pengembang ketika membangun dan menjalankan model kecerdasan artifisial.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyebut investasi data center AI sebagai salah satu indikasi meningkatnya kepercayaan global terhadap ekonomi digital Indonesia.

Tetapi pembangunan infrastruktur fisik baru menjadi satu bagian dari perlombaan AI.

CoreWeave Juga Masuk Indonesia

Minat terhadap Indonesia tidak hanya datang dari pemain telekomunikasi maupun hyperscaler yang lebih dulu berada di Tanah Air.

Perusahaan cloud AI CoreWeave pada Agustus 2026 juga mengumumkan ekspansi ke Indonesia.

Indonesia dipilih menjadi ekspansi pertama CoreWeave ke kawasan Asia Pasifik.

Perusahaan mengumumkan rencana tiga fasilitas baru di Indonesia untuk menopang kebutuhan infrastruktur komputasi AI.

Pergerakan tersebut memperlihatkan bagaimana Indonesia mulai dipandang bukan sekadar sebagai pasar konsumen digital yang besar.

Ketersediaan lahan, energi, konektivitas, pasar domestik serta kedekatan dengan Singapura membuat Indonesia berpotensi menjadi salah satu lokasi infrastruktur komputasi penting di Asia Tenggara.

Namun di titik inilah pertanyaan mengenai nilai tambah nasional menjadi semakin penting.

Jangan Hanya Bangun Gedung dan Taruh Server

Heru Sutadi menilai investasi asing penting karena pembangunan data center membutuhkan modal, teknologi dan kemampuan operasional dalam skala besar.

Tetapi menurutnya, pemerintah perlu memastikan investasi tersebut membawa transfer pengetahuan kepada Indonesia.

Peringatan serupa sebenarnya sudah beberapa kali disampaikan pemerintah.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria pada Juni menegaskan kolaborasi dengan perusahaan teknologi global tidak boleh berhenti pada investasi.

Kerja sama harus menghasilkan transfer teknologi, peningkatan kapasitas SDM dan penguatan ekosistem inovasi nasional.

Artinya, keberhasilan investasi AI seharusnya tidak semata diukur dari berapa megawatt data center yang dibangun.

Yang juga perlu dihitung adalah berapa banyak insinyur Indonesia yang terlibat, teknologi apa yang dapat dikuasai, berapa banyak perusahaan lokal masuk ke rantai pasok, serta apakah startup dan peneliti Indonesia memperoleh akses terhadap daya komputasinya.

Tanpa itu, Indonesia berisiko mendapatkan gedungnya tetapi tidak sepenuhnya memperoleh kemampuan teknologinya.

Pemerintah Akui Persaingan AI Sudah Bergeser ke Infrastruktur

Komdigi sendiri mengakui persaingan AI global telah bergerak lebih dalam.

Nezar Patria mengatakan kompetisi tidak lagi sebatas pembuatan aplikasi, tetapi sudah menyentuh energi, data center, chip, kemampuan komputasi hingga talenta.

Menurutnya, Indonesia selama ini relatif banyak bermain di lapisan hilir sebagai pengguna aplikasi.

Indonesia perlu bergerak menuju lapisan infrastruktur agar tidak hanya menjadi pasar teknologi.

Dalam kesempatan lain, Nezar menegaskan pembangunan compute cluster nasional menjadi salah satu kunci agar Indonesia memiliki posisi dalam rantai nilai AI.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar atau pengguna. Kita ingin memperoleh posisi strategis dalam rantai nilai industri AI global,” ujarnya.

Pernyataan tersebut memperjelas tantangannya.

Memiliki data center belum otomatis berarti sebuah negara menguasai AI.

Dari Listrik, GPU hingga Aplikasi

Pemerintah bahkan mulai menggunakan pendekatan full stack AI.

Ekosistem tersebut mencakup lapisan energi, infrastruktur komputasi, chip, talenta hingga aplikasi.

Data center berada pada salah satu lapisan paling dasar karena tanpa listrik dan kemampuan komputasi, model AI berukuran besar sulit dikembangkan.

Namun nilai ekonomi yang lebih tinggi dapat muncul pada lapisan berikutnya, seperti pengembangan model AI, layanan cloud, perangkat lunak, keamanan siber, aplikasi industri hingga teknologi semikonduktor.

Nezar sebelumnya menyebut pembangunan sovereign AI perlu mencakup listrik, air, GPU, chip, platform hingga aplikasi.

Jika Indonesia hanya berhenti pada penyediaan lahan dan listrik untuk server, sebagian besar nilai ekonomi dari rantai AI tersebut berpotensi tetap dinikmati perusahaan yang menguasai chip, cloud, model dan aplikasinya.

Data Center AI Juga Haus Listrik

Ada konsekuensi lain dari pertumbuhan pusat data AI: kebutuhan energi.

Data center dengan kapasitas ratusan megawatt bahkan gigawatt membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar dan stabil selama 24 jam.

Indonesia Investment Authority (INA) menilai ketersediaan energi menjadi salah satu faktor utama yang membuat Indonesia menarik untuk pengembangan data center AI.

Selain energi, investor mempertimbangkan harga lahan, konektivitas jaringan, regulasi serta keberadaan talenta digital.

Secara global, persaingan menarik investasi pusat data bahkan semakin berkaitan dengan kemampuan suatu negara menyediakan listrik yang murah dan stabil.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja