Estimasi waktu baca: 3 menit

Puncak Kemarau di Kalteng

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYAKalimantan Tengah (Kalteng) memasuki periode puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kering, termasuk potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Dalam prospek cuaca mingguan BMKG Kalteng yang diperbarui 8 Agustus 2026, prakiraan cuaca wilayah Kalteng berlaku untuk periode 8–14 Agustus 2026. 

Advertisement

Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena Agustus merupakan salah satu periode puncak musim kemarau di Indonesia.

BMKG dalam pemutakhiran prediksi musim kemarau 2026 menyebut puncak musim kemarau secara nasional paling banyak terjadi pada Agustus. Sebanyak 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki puncak kemarau pada bulan tersebut. 

Kalteng termasuk wilayah yang perlu mewaspadai periode tersebut. BMKG sebelumnya menyebut sebagian besar wilayah Kalteng diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. 

Advertisement

Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Kering

BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 secara umum berlangsung lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Dalam pemutakhiran Juni 2026, BMKG mencatat 482 Zona Musim atau 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami sifat musim kemarau kategori bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Durasi musim kemarau di sebagian besar wilayah juga diprediksi lebih panjang dari normal. 

Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, khususnya di kawasan dengan vegetasi dan lahan yang mudah mengering.

BMKG juga mengaitkan perkembangan musim kemarau 2026 dengan penguatan fenomena El Niño. Dalam informasi terbarunya, BMKG menyebut dampak El Niño pada periode kemarau perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla. 

Warga Diminta Tidak Membakar Lahan

Bagi masyarakat Kalteng, kondisi kemarau menjadi momentum untuk semakin berhati-hati ketika melakukan aktivitas di sekitar lahan dan kawasan yang memiliki vegetasi kering.

Pembakaran lahan, meskipun dilakukan dalam skala kecil, dapat berkembang menjadi kebakaran yang sulit dikendalikan ketika kondisi lingkungan kering dan angin mendukung penyebaran api.

Advertisement

Selain ancaman terhadap lingkungan, karhutla juga dapat berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Karena itu, kewaspadaan tidak hanya diperlukan oleh petugas penanggulangan karhutla, tetapi juga masyarakat, pemerintah desa, perusahaan, pemilik lahan dan seluruh pihak yang beraktivitas di kawasan rawan kebakaran.

Prospek Cuaca Tetap Perlu Dipantau

Meski berada pada periode kemarau, kondisi cuaca harian tidak selalu berarti seluruh wilayah Kalteng akan mengalami cuaca kering tanpa hujan.

BMKG Kalteng tetap menerbitkan prospek cuaca mingguan dan memperbarui informasi berdasarkan perkembangan atmosfer. Prospek terbaru berlaku untuk periode 8–14 Agustus 2026. 

Masyarakat karena itu disarankan memantau informasi cuaca dan peringatan dini resmi BMKG, terutama ketika hendak melakukan aktivitas di luar ruangan atau berada di sekitar kawasan yang rawan kebakaran.

Memasuki puncak kemarau, langkah pencegahan menjadi penting agar kondisi kering tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Advertisement
Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

Advertisement
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja