Estimasi waktu baca: 4 menit

APD dan Layanan Kesehatan Tak Memadai

CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA Relawan pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Palangka Raya mengeluhkan minimnya alat pelindung diri (APD) serta pemeriksaan kesehatan setelah menjalankan tugas di tengah api dan kepungan asap.

Koordinator ERP, Jean Steve, mengatakan pemeriksaan kesehatan terhadap relawan sejauh ini hanya berupa pengecekan tekanan darah pada pagi hari. Padahal, kondisi fisik petugas dinilai paling rentan setelah mereka selesai melakukan pemadaman.

“Sementara kawan-kawan itu harusnya diperiksa setelah melaksanakan tugas karena di sana capeknya,” kata Jean.

Menurutnya, relawan membutuhkan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh setelah bertugas. Selain kelelahan fisik, petugas lapangan juga menghadapi risiko gangguan pernapasan, dehidrasi, luka bakar hingga tekanan psikologis.

“Padahal mental kawan-kawan yang sudah berjibaku dengan api selama berhari-hari itu pasti rawan stres. Jangankan itu, untuk kesehatan fisik saja tidak ada yang rutin,” ujarnya.

Relawan Menggunakan Peralatan Milik Sendiri

Jean juga menyoroti keterbatasan APD dan peralatan pemadaman yang digunakan relawan. Menurut dia, relawan belum memperoleh bantuan APD maupun alat pemadam, baik dalam bentuk pinjaman maupun hibah.

Sebagian besar perlengkapan yang digunakan di lapangan berasal dari milik pribadi relawan atau organisasi masing-masing. Kondisi tersebut dinilai memperbesar risiko keselamatan ketika mereka menghadapi kebakaran lahan gambut yang sulit dikendalikan.

Sebagai langkah darurat, ERP mengambil inisiatif mendatangi relawan di lokasi pemadaman. Pemeriksaan kesehatan dilakukan dengan melibatkan dokter dan perawat yang tergabung dalam organisasi tersebut.

Jean menjelaskan barisan pemadam swakarsa yang terlibat dalam penanganan karhutla di Palangka Raya berada dalam dua koordinasi. Relawan tingkat provinsi berkoordinasi dengan BPBD Kalteng, sedangkan relawan tingkat kota berada di bawah koordinasi BPBD Kota Palangka Raya.

Para relawan disebut mendapatkan insentif sebesar Rp100.000 untuk setiap hari bertugas. Namun, Jean menegaskan perlindungan keselamatan, kelengkapan APD dan layanan kesehatan tetap harus menjadi perhatian utama pemerintah.

Korban Karhutla Terus Bertambah

Desakan peningkatan perlindungan bagi relawan muncul setelah sejumlah petugas pemadam meninggal dunia maupun mengalami luka serius selama penanganan karhutla di Kalteng.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang dihimpun hingga September 2026, tercatat tiga orang meninggal dunia dan 313 orang mengalami luka berat atau membutuhkan perawatan intensif akibat dampak karhutla di Kalteng.

Salah satu petugas yang meninggal adalah Akhmad Rizani, anggota Satgas Tanggap Darurat Karhutla Kota Palangka Raya. Ia mengembuskan napas terakhir pada Kamis, 27 Agustus 2026, setelah menjalani perawatan selama enam hari karena kondisi kesehatannya menurun saat bertugas.

Di Kabupaten Kotawaringin Barat, Ahmadin alias Itam Madin bin Gusti Djamliansyah, anggota Damkar Huma Singgah Itah sekaligus Satgas Karhutla, meninggal dunia pada Minggu malam, 30 Agustus 2026. Ia sempat menjalani perawatan setelah mengalami gangguan pernapasan.

Korban dari kalangan masyarakat juga dilaporkan terjadi di Puruk Cahu, Kabupaten Murung Raya. Seorang anak laki-laki berusia sekitar 11 tahun meninggal dunia setelah mengalami sesak napas berat akibat paparan kabut asap.

Kabar duka terbaru datang dari Kecamatan Kotawaringin Lama. Relawan Masyarakat Peduli Api Masoraian, Aries Sutio Luthfil Hadi (30), meninggal dunia pada Kamis, 10 September 2026.

Aries dilaporkan mengalami sesak napas selama tiga hari akibat paparan asap dan kelelahan saat bertugas. Ia kemudian dievakuasi ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Laporan meninggalnya Aries muncul setelah pembaruan data Kemenkes. Karena periode dan klasifikasi pencatatannya belum diperinci, jumlah keseluruhan korban masih membutuhkan pembaruan resmi dari pemerintah.

Relawan Mengalami Luka Bakar 75 Persen

Risiko berat juga dialami anggota Pemadam Kebakaran Cinta Masyarakat, Maulana Adi Saputra (20). Ia mengalami luka bakar hingga 75 persen pada wajah, leher, bahu dan tangan.

Insiden terjadi ketika Maulana bersama relawan lainnya memadamkan karhutla di kawasan Jalan Yos Sudarso XVIII, Palangka Raya, Senin, 24 Agustus 2026.

Ketika berusaha mencegah api merambat ke permukiman, arah angin tiba-tiba berubah dan membawa kobaran api ke arahnya. Maulana sempat menjalani perawatan di rumah sakit sebelum melanjutkan pemulihan melalui rawat jalan.

Rentetan korban tersebut menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla tidak hanya membutuhkan tambahan personel. Pemerintah juga perlu memastikan setiap petugas dan relawan memperoleh APD sesuai standar, pemeriksaan kesehatan sebelum dan setelah bertugas, pendampingan psikologis serta jaminan perawatan.

Karhutla di Palangka Raya masih sulit dipadamkan karena membakar kawasan gambut. Angin kencang dan keterbatasan sumber air membuat tim gabungan terus berjibaku menghadapi titik api baru, sementara kabut asap berdampak terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja