Estimasi waktu baca: 5 menit

OJK Ingatkan Gen Z Tak Asal Investasi

CYRUSTIMES, SERANG – Kemudahan generasi muda mengakses rekening bank, aplikasi investasi, dompet digital hingga layanan pinjaman ternyata belum sepenuhnya diimbangi kemampuan memahami manfaat dan risikonya.

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 mencatat indeks inklusi keuangan kelompok pelajar dan mahasiswa mencapai 92,76 persen. Namun, indeks literasi keuangan kelompok tersebut baru sebesar 62,72 persen.

Data itu menunjukkan adanya kesenjangan sebesar 30,04 poin persentase antara tingkat akses dan pemahaman keuangan generasi muda.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena dapat membuat pelajar dan mahasiswa lebih rentan mengambil keputusan finansial secara impulsif, mengikuti tren investasi, terjerat pinjaman online ilegal, hingga menjadi korban kejahatan keuangan digital.

Persoalan itu dibahas dalam program Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) bertema “Money Moves: Invest Today, Build Your Future” di UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten Convention Hall, Selasa (8/9/2026).

OJK: Melek Digital Belum Tentu Cakap Finansial

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono mengatakan, generasi muda merupakan kelompok yang sangat dekat dengan teknologi digital.

Namun, kemampuan menggunakan aplikasi dan layanan digital tidak otomatis membuat seseorang memiliki kecakapan dalam mengelola keuangan.

Semakin mudah masyarakat mengakses produk keuangan, semakin besar pula kebutuhan untuk memahami risiko serta mengambil keputusan secara sadar dan bertanggung jawab.

OJK mengingatkan generasi muda agar mampu membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum menggunakan uang untuk membeli produk, berutang maupun berinvestasi.

“Ada beberapa kata kunci yang dapat dilakukan. Pertama, kelola. Kedua, lindungi. Ketiga, tumbuhkan. Kelola uang kita sebelum uang mengendalikan pilihan kita,” kata Dicky.

Ia menekankan pentingnya melindungi aset dengan memastikan setiap produk keuangan yang digunakan memenuhi prinsip legal dan logis.

Setelah keuangan dikelola dan dilindungi, masyarakat dapat mulai mengembangkan dana melalui instrumen investasi yang sesuai kemampuan, profil risiko, dan tujuan finansial.

Generasi Muda Rentan FOMO dan FOPO

Menurut Dicky, literasi keuangan dapat membantu generasi muda terhindar dari perilaku Fear of Missing Out (FOMO) dan Fear of Other People’s Opinions (FOPO).

FOMO dapat mendorong seseorang membeli produk atau berinvestasi hanya karena takut tertinggal dari orang lain. Sementara itu, FOPO dapat membuat keputusan keuangan dipengaruhi penilaian maupun pendapat orang lain.

Kedua perilaku tersebut berisiko membuat generasi muda mengambil keputusan tanpa melakukan pemeriksaan terhadap legalitas, manfaat, dan risiko produk keuangan.

Karena itu, investasi tidak boleh dilakukan sekadar mengikuti tren, ajakan teman, tokoh media sosial maupun promosi yang menjanjikan keuntungan besar dalam waktu singkat.

Gen Z Diminta Tidak Impulsif Berinvestasi

Anggota Komisi XI DPR RI, Annisa M. A. Mahesa mengingatkan generasi muda agar tidak mengambil keputusan investasi secara impulsif hanya karena mengikuti tren atau rekomendasi di media sosial.

Menurutnya, generasi muda perlu membangun fondasi pengelolaan keuangan sebelum mulai berinvestasi atau menggunakan produk keuangan lainnya.

Gen Z, kita-kita ini semua, teman-teman, adalah generasi yang sangat rentan terhadap masalah-masalah di keuangan. Contohnya FOMO, kita sangat rentan terhadap pengambilan keputusan investasi yang impulsif karena mau ikut-ikutan,” kata Annisa.

Selain rentan mengikuti tren, generasi muda juga menghadapi risiko menjadi korban aktivitas keuangan ilegal.

Annisa menyebut terdapat sejumlah hal yang perlu dipersiapkan sebelum berinvestasi, mulai dari memiliki dana darurat, menerapkan manajemen keuangan yang baik, menghindari utang konsumtif, hingga memahami kebutuhan dan kemampuan diri.

Dana untuk berinvestasi juga harus berasal dari uang dingin atau dana yang tidak digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok, membayar cicilan, maupun membiayai kewajiban rutin.

Informasi mengenai investasi dan produk sektor jasa keuangan juga harus diperoleh dari sumber yang telah terverifikasi.

Modus Kejahatan Keuangan Digital Semakin Beragam

Gubernur Banten Andra Soni mengatakan, penguatan literasi keuangan diperlukan agar generasi muda tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu mengelola penghasilan dan membangun usaha.

Generasi muda juga perlu memiliki kemampuan berinvestasi sekaligus melindungi diri dari berbagai bentuk kejahatan keuangan.

“Pemerintah Provinsi Banten berharap sinergi OJK Provinsi Banten melalui berbagai program literasi keuangan dapat membangun generasi muda Banten yang bukan hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga siap mengelola penghasilan,” ujar Andra Soni.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital harus diimbangi pengetahuan, kehati-hatian, dan kemampuan mengambil keputusan yang tepat.

Berbagai modus kejahatan keuangan digital terus berkembang, seperti phishing, tautan palsu, akun media sosial palsu serta penyamaran sebagai petugas lembaga keuangan.

Masyarakat juga perlu mewaspadai penawaran investasi ilegal, pinjaman online ilegal, dan berbagai modus yang memanfaatkan teknologi digital serta rekayasa sosial.

Literasi Keuangan Nasional Capai 69,57 Persen

SNLIK 2026 yang diselenggarakan OJK bersama Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 69,57 persen.

Sementara itu, indeks inklusi keuangan nasional telah mencapai 93,61 persen.

Capaian tersebut menunjukkan akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan semakin luas. Namun, masih terdapat ruang besar untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku keuangan.

Pada kelompok pelajar dan mahasiswa, indeks literasi keuangan sebesar 62,72 persen masih berada di bawah indeks nasional.

Sebaliknya, tingkat inklusi keuangan pelajar dan mahasiswa telah mencapai 92,76 persen atau mendekati capaian nasional.

Kondisi itu menunjukkan bahwa kemudahan generasi muda mengakses produk keuangan harus berjalan selaras dengan peningkatan kemampuan menggunakannya secara tepat dan bertanggung jawab.

Ribuan Mahasiswa Mengikuti Program LIKE IT 2026

Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Muhammad Ishom mengapresiasi penyelenggaraan edukasi keuangan bagi mahasiswa.

Menurutnya, penguatan literasi keuangan semakin penting di tengah meluasnya akses generasi muda terhadap berbagai produk dan layanan keuangan.

Kegiatan LIKE IT di Kota Serang diikuti langsung oleh 1.000 mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten dan perwakilan sejumlah perguruan tinggi.

Perguruan tinggi tersebut meliputi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Universitas Banten Jaya, Universitas Bina Bangsa, Universitas Serang Raya, dan Universitas Pamulang Serang.

Sebanyak 2.473 mahasiswa dan masyarakat umum juga mengikuti kegiatan secara daring melalui siaran langsung YouTube OJK.

Program LIKE IT telah diselenggarakan sejak 2021 melalui kolaborasi Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS. Kegiatan di Kota Serang merupakan LIKE IT Series #6 pada 2026.

Melalui program tersebut, generasi muda didorong membangun perilaku keuangan sehat sejak dini, mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat, serta memahami risiko sebelum menggunakan produk keuangan.

Kecakapan finansial diharapkan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda agar mampu membangun masa depan secara mandiri dan mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Ikuti Cyrustimes di Google Berita dan WhatsApp

Dapatkan pembaruan berita terbaru Cyrustimes.com melalui Google Berita dan Saluran WhatsApp resmi Cyrustimes.

AA3F4864-5C8D-4C02-B0C2-F53C75889A03
📰

Dukung Jurnalisme Independen Cyrustimes

Agar berita terbaru, investigasi, dan informasi penting dari Cyrustimes.com lebih mudah Anda temukan di Google, jadikan kami sebagai Sumber Pilihan (Preferred Source).

⭐ Jadikan Cyrustimes Sumber Pilihan
Gratis • Hanya membutuhkan satu klik • Dapat diubah kapan saja